In Memoriam Nasrul Abit: Atasanku, Orangtua Kita

522

Oleh: Hendri Agung Indrianto                      Kabid Pemasaran, Dinas Pariwisata Sumbar

Kabar duka itu tiba pukul 05.01, Sabtu, 28 Agustus 2021, ketika saya memeriksa pesan WhatsApp. Pukul 01.39 Bapak Nasrul Abit, Wakil Gubernur Sumbar periode 2016–2021, Bupati Pesisir Selatan periode 2005–2015 dan Wakil Bupati Pesisir Selatan periode 2000–2005 telah berpulang ke Rahmatullah di RSUP M. Djamil. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun.

Setelah menunaikan shalat Subuh, segera saya bergegas ke RSUP M. Djamil. Alhamdulillah saya masih berkesempatan melepas jenazah Almarhum Bapak Nasrul Abit yang akan dibawa untuk dimakamkan di kampung halamannya Air Haji, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Perkenalan pertama saya dengan Bapak Nasrul Abit sekitar tahun 2006. Lima belas tahun yang lalu. Ketika itu, beliau di awal periode pertama menjabat Bupati Pesisir Selatan.

Pada masa itu saya masih bertugas di Pemerintah Kota Padang dan kerap kali dipercaya oleh pimpinan untuk mendampingi calon investor dari dalam maupun luar negeri.

Masih segar di ingatan saya, kala itu ketika pertama kali akan membawa beberapa orang calon investor asing dari Inggris ke kawasan wisata Mandeh yang belum setenar sekarang. Pimpinan memberikan nomor kontak Almarhum Bapak Nasrul Abit kepada saya.

“Gung, sebelum berangkat, kamu telepon dulu Bapak Bupati Pesisir Selatan. Informasikan bahwa kita mengantar calon investor yang mudah-mudahan berminat untuk mengembangkan Kawasan Mandeh,” ujar atasan saya. Segera saya hubungi, dan respons beliau sangat baik.

Pada pertemuan pertama, karena terbatasnya waktu, kami belum sempat berbicara panjang lebar. Saya hanya memperkenalkan para tamu: calon investor. Saya menjelaskan kepada Bapak Nasrul Abit terkait maksud dan tujuan kedatangan serta berperan sebagai penerjemah.

Kemudian di pertemuan ketiga, ketika itu suasana agak santai. Bapak Nasrul Abit menyapa saya, “Berapa hari rencana di Sumatera Barat? Kapan kembali ke Jakarta, Pak?” tanya beliau.

“Panggil saya Agung saja Pak Bupati, tidak usah panggil Bapak. Kalau tamu-tamu ini, lusa kembali ke negaranya via Jakarta Pak. Besok agenda kami hanya di Kota Padang,” jawab saya.

“Loh, Agung sendiri kapan kembali Jakartanya? Kenapa tidak sama-sama?” tanya beliau lagi.

“Saya pegawai Pemerintah Kota Padang Pak, saya ditugasi mendampingi rombongan ini sekaligus menjadi penerjemah,” terang saya.

Beliau sebelumnya berpikir kalau saya adalah bagian dari rombongan calon investor tersebut. Kemudian, perbincangan kami berlanjut.

Bapak Nasrul Abit menanyakan latar belakang pendidikan saya. Saya sampaikan bahwa S1 Jurusan Pariwisata dari University of South Australia.

“Wah kebetulan saya sedang mengembangkan pariwisata Kabupaten Pesisir Selatan. Bagaimana kalau Agung membantu saya?” ungkapnya.

Saya sampaikan ke beliau kalau saya baru CPNS, yang sesuai ketentuan kepegawaian belum memenuhi syarat untuk pindah.

Lalu, saya tambahkan, “Saya tunggu Bapak di provinsi kalau suatu saat Bapak jadi Gubernur atau Wakil Gubernur, saya siap membantu Bapak.”

Seiring berjalannya waktu, kami pun kerap bertemu dalam banyak kesempatan. Ditambah lagi ada kerabat dekat beliau yang menjadi pasien ayah saya. Ini semakin membuat hubungan kami bertambah dekat. Keluargapun menjadi saling mengenal.

Ketika pasangan Irwan Prayitno dan Nasrul Abit sudah ditetapkan oleh KPUD Sumatera Barat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat periode 2016-2021, pada akhir Januari 2016 tidak sengaja kami satu pesawat dari Jakarta ke Padang. Ketika berjumpa di Terminal Kedatangan kami saling bertegur sapa.

Baca Juga:  Kenali Kanker Lewat CERDIK dan WASPADA

Saya mengucapkan selamat kepada beliau. “Terima kasih Gung. Saya juga sedang mencari Sespri (Sekretaris Pribadi). Apakah Agung bersedia membantu saya?” Lalu sambil tertawa beliau menambahkan, “Saya masih ingat janji Agung dulu, Alhamdulillah, rupanya jawaban Agung dulu sekaligus merupakan doa yang diijabah oleh Allah SWT,” tuturnya.

Saya pun langsung menjawab bahwa merupakan suatu kehormatan bisa membantu beliau.

Begitulah sekelumit perkenalan saya dengan beliau. Saya membantu beliau sebagai Sekretaris Pribadi dari Mei 2016 sampai saya diberi amanah menjadi Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat pada April 2019.

Beliau jugalah yang menyemangati ketika saya sempat ragu menerima amanah sebagai Kepala Bidang Pemasaran. “Terima saja Gung, saya sangat yakin, Agung pasti bisa,” tegas beliau.

Banyak sekali hal yang saya serap dan pelajari selama saya menjadi Sespri beliau. Terutama tentang kesabaran, ketulusan dalam bekerja dan semangat untuk membantu orang.

Stamina dan daya tahannya juga luar biasa. Kita yang masih muda sering kewalahan mengimbanginya.

Terkait stamina beliau, pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika mendampingi beliau mengunjungi Desa Simatalu di pedalaman Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kami menyusuri Pantai Barat Pulau Siberut dari Betaet Kecamatan Siberut Barat ke Desa Simatalu dengan Sepeda Motor selama dua jam. Empat jam pulang-pergi.

Nyaris sepanjang perjalanan kami diguyur hujan deras. Kami menyusuri pinggir pantai dan jalan cor semen mendaki-menurun yang rusak di banyak titik.

Situasi itu membuat saya dan rekan-rekan yang mendampingi jadi cemas. Kami menyarankan kepada beliau agar balik arah saja. Hujan deras membuat jalanan menjadi licin dan berbahaya.

Namun beliau menolak dengan tegas karena tidak ingin mengecewakan masyarakat Desa Simatalu yang sudah menunggu kedatangan seorang Wakil Gubernur.

Hujan deras ternyata tidak menyurutkan semangatnya. Saya melihat, tidak tampak sedikitpun kelelahan di wajah beliau. “Lelah dan jerih payah kita akan terbayar dengan kebahagiaan masyarakat desa ketika menyambut kedatangan kita,” ungkap beliau.

Satu kalimat yang selalu terngiang di telinga adalah nasihat beliau, “Gung, keberadaan kita harus membawa manfaat bagi masyarakat. Bantu semaksimal mungkin, semampumu dengan tulus.”

Hari-hari saya bersama staf pribadi lainnya, selalu disibukkan dengan upaya-upaya untuk membantu masyarakat yang sering memohon berbagai bentuk bantuan kepada beliau.

Bagi saya, Bapak Nasrul Abit bukan sekadar atasan, namun sudah seperti orangtua kami. Begitu juga dengan Ibu Wartawati, istri beliau. Keduanya adalah orangtua yang selalu mengayomi dan menginspirasi kita di Sumatera Barat.

Selamat jalan Pak Nasrul, beristirahatlah dengan tenang. Terima kasih atas semua kebaikan dan perhatian yang pernah Bapak berikan. Selamanya akan kami kenang. Saya bersaksi bahwa Bapak adalah orang yang sangat baik.

Doa kami semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah, mengampuni semua dosa dan khilaf serta menempatkan Bapak di tempat terbaik bersama orang-orang beriman di surgaNya. Aamiinn, aamiiin, ya robbal alamin.(*)