Menulis Serasa Makan Cokelat

105
Zakiah SS, Guru MTsN 03 Limapuluh Kota

Oleh: Zakiah SS, Guru MTsN 03 Limapuluh Kota

Sebuah pekerjaan kalau sudah disukai, biasanya tidak akan terasa berat. Malah semakin menyenangkan saat melakukannya. Apapun kondisi dan keadaan, takkan bisa menghalangi untuk melakukan pekerjaan yang disukai tersebut.

Misalnya seseorang suka dengan bunga, apalagi sekarang lagi demam bunga. Bagi yang menyukai bunga, akan melakukan apa pun demi bunga. Mencari bibitnya, dengan meminta atau membeli berapa pun harganya. Berusaha memeliharanya dengan tekun, bahkan akan memperhatikan pertumbuhan bunga setiap detik.

Sekarang kita alihkan kesukaan kepada bunga menjadi kesukaan menulis. Banyak di antara kita yang berkeingin untuk bisa menulis, apapun profesinya. Apalagi seorang guru, selain tuntutan profesi, menulis menjadi sebuah hal yang menarik karena banyak pengalaman yang bisa dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Bagaimana cara menumbuhkan rasa suka menulis, seperti rasa suka terhadap bunga tadi. Bagaimana bisa menjadikan menulis serasa makan cokelat? Menurut Master Eka Wardana, pengampu Kelas Menulis Antologi Opini Pendidikan ada tiga hal yang menumbuhkan rasa suka menulis:

Pertama, bebas menulis sesuai keinginan sendiri. Ciri-ciri keinginan sendiri adalah tidak merasa terancam, menulis dengan bebas. Kalau masih diancam, takut ini dan itu, berarti belum ada rasa senang.

Saya jadi teringat dengan tantangan menulis di blog Gurusiana. Setiap anggota diberi kebebasan untuk menulis apa saja, yang penting menulis setiap hari. Boleh puisi, cerpen, artikel pantun dan lain-lain selama setahun tanpa henti. Hal ini ternyata menjadi latihan dan langkah bagi kita untuk menumbuhkan rasa suka menulis. Terbukti ketika seorang gurusianer yang selesai operasi mata masih mengingat bahwa dia belum menulis hari itu sehingga anaknya terpaksa menulis status di media sosial menyampaikan kondisi mamanya yang tidak bisa menulis. Luar biasa, suka menulisnya sudah mendarah daging.

Baca Juga:  Pilgub dan Kolaborasi Pembangunan  

Kedua, benar-benar menikmati proses menulis yang dilakukan. Cirinya ada kepuasan selesai menulis, lega, dapat ide yang unik. Saat menulis dinikmati, terasa ringan, menulis sambil tersenyum, ibarat rekreasi semua jadi menyenangkan. Saat seperti inilah rasa suka menulis akan tumbuh mengakar. Rasanya ada yang kurang kalau dalam sehari belum ada tulisan yang diselesaikan.

Ketiga, dapat menulis kapan pun, dimanapun dan dengan topik apapun. Saat menulis sudah menjadi hal yang disukai, apapun bisa jadi bahan tulisan. Saat pergi kemanapun kita tetap bisa menulis, dan juga bisa menulis dengan apapun. Apalagi sekarang, saat menunggu pun kita tetap bisa menulis, tidak ada waktu yang terbuang dan menulis di handphone, tak harus ada pulpen dan kertas. Luar biasa, saat menulis sudah menjadi hal yang disukai, semuanya menjadi menyenangkan dan menjadi hal yang luar biasa yang tidak terpikirkan sebelumnya. Menulis serasa makan coklat atau menikmati es krim, betulkan? Mari kita buktikan. (***)