Ramadhan di Tengah Musibah

Ilustrasi.

Ramadhan kali ini terasa tidak biasa. Ia datang ketika dunia berperang melawan wabah Covid-19 yang sedang menerjang, lengkap dengan segala dampak negatifnya. Situasi ini memunculkan perasaan yang bercampur-aduk di hati umat Islam. Ada perasaan khawatir, gamang, takut, sedih, pedih, dan bahkan putus asa. Ada juga perasaan kehilangan nikmatnya suasana Ramadhan yang selalu dinanti dan dirindukan. Perasaan seperti ini sesungguhnya lumrah ketika jiwa manusia tengah menghadapi musibah.
Islam mengajarkan sabar sebagai respons terbaik menghadapi musibah.

Sikap sabar tersimpul pada kalimat innalillahi wainna ilaihi raji’un, semua yang ada milik Allah dan semuanya kembali kepada-Nya. Seuntai kalimat yang menyatukan keyakinan, keikhlasan, husn al-zhan, ketegaran, harapan, dan juga terima kasih. Kalimat ini bisa menetralisir keterpurukan jiwa dan menenteramkannya. Sikap batin seperti ini berguna agar musibah tidak sampai melukai diri terlalu dalam.

Jika sikap sabar dapat dijalankan dengan baik, jiwa bisa melangkah ke tahap berikutnya, tahap yang lebih tinggi, yakni menyukuri musibah. Istilah ini mungkin terdengar ganjil, tetapi bisa dijelaskan. Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya Minhâj al-Qâshidîn memaknai syukur sebagai mengambil manfaat dari sesuatu yang ditetapkan Allah. Inti dari sikap syukur adalah berupaya mengambil sisi baik ketetapan Allah, baik nikmat maupun musibah. Nikmat dapat mendatangkan manfaat jika disyukuri, tetapi dapat mendatangkan mudarat jika tidak disyukuri dengan benar. Sebaliknya, musibah umumnya mendatangkan mudarat, tetapi juga dapat mendatangkan manfaat ketika disikapi dengan benar.

Tsa‘labah mendapatkan nikmat kekayaan setelah minta didoakan oleh Nabi SAW. Namun kekayaan itu justru membuat Tsa‘labah lalai beribadah, sombong, kikir, dan tidak bersedia membayar zakat. Nikmat bukan menjadi kebaikan, malah menjadi sumber mudarat bagi Tsa‘labah karena tidak pandai menyukurinya. Sebaliknya, Buya Hamka ketika dihukum penjara karena sebab yang tidak jelas, memanfaatkan waktu luangnya untuk menyusun karya monumental Tafsir al-Azhar. Penjara menjadi pintu nikmat di tangan orang yang tepat, yaitu orang yang bisa sabar menghadapinya dan kemudian menyukurinya. Allah SWT mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya: ”… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah: 216.)

Jadi, kebaikan dan keburukan itu sesungguhnya relatif. Musibah dan nikmat itu juga relatif, tergantung kepada persepsi dan cara menyikapinya. Jika cara menyikapi takdir telah tepat dan benar, maka tidak terlalu berpengaruh lagi apakah takdir itu berupa nikmat atau musibah, keduanya bisa mendatangkan kebaikan. Hal inilah yang disinyalir Nabi SAW dalam sebuah hadis: ”Saya takjub kepada orang mukmin, sesungguhnya tidaklah Allah menetapkan suatu ketetapan kecuali baik baginya.” (HR Ahmad).

Ramadhan yang hadir di tengah wabah Covid-19 perlu dihadapi dengan sikap-sikap yang dijelaskan di atas. Wabah ini jelas mendatangkan banyak mudarat, mulai dari penyakit dan kematian, kerugian dan keterpurukan ekonomi, pembatasan kegiatan sosial-kemasyarakatan, dan bahkan pembatasan kegiatan ibadah. Respons pertama yang harus ditampilkan adalah sikap sabar, menerima dengan ikhlas sembari berusaha keras menanggulangi segala dampaknya, memahaminya sebagai ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan, serta menempatkannya sebagai peringatan agar kembali ke jalan kebaikan. Bukankah Nabi SAW sendiri telah mengatakan: ”Bulan Ramadhan adalah bulan sabar, sabar itu balasannya syurga.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Ramadhan di tengah Covid-19 ini menjadi kesempatan terbaik untuk belajar dan menerapkan nilai sabar.

Respons kedua adalah mencari sisi-sisi baik yang bisa diambil dari musibah ini. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menuntut masyarakat tetap di rumah (stay at home) dan kerja dari rumah (work from home) bisa menjadi berkah tersembunyi (blessing in disguise). Keadaan ini memberi lebih banyak waktu untuk muhasabah, merenung, menilai, dan menyadari kesalahan-kesalahan yang mesti dilanjutkan dengan memperbanyak istighfar, tobat, dan doa. Ini kesempatan untuk dengan pikiran jernih menilai dan menata kembali kehidupan agar berjalan sesuai dengan visi dan misi kehidupan yang diajarkan agama agar hidup lebih bermakna dan tidak sia-sia.

Suruhan beribadah di rumah (pray at home) memberikan peluang untuk menyinari rumah dengan bacaan Al Quran, shalat, dan ibadah sehingga rumah tidak menjadi sarang setan dan terasa seperti kuburan. Nabi SAW mengingatkan: ”Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR Muslim). Nabi SAW membiasakan shalat sunat di rumah dan menganjurkan umat mencontoh beliau. ”Hendaknya kalian mengerjakan shalat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat maktubah (fardhu)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Nabi SAW juga bersabda: ”Shalat sunnah yang dikerjakan seseorang tanpa dilihat orang lain sebanding dengan dua puluh lima kali shalat sunah yang dikerjakannya di hadapan orang lain (HR Abu Ya’la). Khusus di bulan Ramadhan, Nabi SAW selalu didatangi Jibril AS untuk bertadarus (HR al-Bukhari dan Muslim)

Persoalan ekonomi yang dialami banyak orang saat ini juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian sosial dan nilai ibadah sosial. Ini ujian untuk mengukur kualitas diri karena menurut Nabi SAW manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya (HR al-Thabrani). Ini kesempatan untuk meningkatkan nilai zakat-infaq-sedekah karena zakat-infak-sedekah terbaik adalah yang dilakukan ketika sempit (HR. al-Nasa’i), Sedekah yang diberikan ketika rezeki pemberi lagi sempit lebih bernilai daripada ketika rezeki pemberi sedang lapang. Demikian juga dari sisi penerima, ia akan lebih merasakan bantuan yang diterima ketika ia sedang kesempitan daripada ketika dia dalam keadaan lapang.

Hal ini sejalan pula dengan amalan sosial yang banyak diperintah di bulan Ramadhan, seperti sedekah, berbagi perbukaan, dan zakat fitrah. Nabi SAW bersabda: ”Barangsiapa yang memberi perbukaan kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR al-Turmudzi dan al-Nasa’i). Rasulullah dikenal sosok paling dermawan dan pada bulan Ramadhan kedermawanan beliau lebih menonjol, kesigapan beliau dalam membantu dimisalkan sebagai ”lebih cepat dari angin” (HR al-Bukhari). Ajaran Ramadhan sebagai bulan santunan ini perlu dijalankan secara pro-aktif.

Keadaan ini juga kesempatan untuk menata dan merasakan kembali kehangatan rumah tangga yang selama ini tergadaikan dan atau terabaikan karena kerajinan mencari rezeki, keharusan menuntut ilmu, kehausan mengejar karir, atau hanya karena kegemaran kumpul-kumpul. Kesempatan ini juga bisa dimanfaatkan untuk berkumpul dan makan bersama sembari menanamkan nilai-nilai agama dan budaya kepada anggota keluarga. Ingat, salah satu fungsi utama keluarga dan orangtua adalah pendidikan. Sekolah dan guru hanya bersifat membantu.

Masih banyak hikmah-hikmah lain yang dapat dipetik dan dimanfaatkan bersamaan dengan musibah Covid-19. Ini kesempatan untuk meningkatkan nilai ibadah Ramadhan sehingga menghasilkan nilai lebih dibandingkan Ramadhan sebelumnya. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

*Ikhwan Matondang – Wakil Rektor UIN Imam Bonjol Padang