Stay at Home Kaum Milenial: Produktif vs Konsumtif

Ilustrasi

Mewabahnya virus korona atau yang biasa disebut dengan istilah “Covid-19” di Indonesia, mengharuskan pemerintah untuk melakukan berbagai macam upaya dan kebijakan guna menghambat lajunya penyebaran virus tersebut di tengah masyarakat. Hal utama dari banyaknya upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan kebijakan “stay at home” untuk seluruh masyarakat. Sekolah-sekolah diliburkan, para pekerja swasta maupun negeri menerapkan sistem “bekerja di rumah”, beberapa pedagang menutup tokonya, jalanan pun tampak lengang dari biasanya dan mulailah diberlakukannya aturan untuk tidak keluar rumah selama pandemi virus ini berlangsung. Meskipun tidak semua aspek masyarakat dapat menerapkan peraturan ini, namun mereka yang harus tetap berada di luar rumah diwajibkan untuk menggunakan masker dan menerapkan kebijakan “physical distancing”.

Hingga saat ini sudah terhitung 1 bulan lebih masyarakat melakukan karantina mandiri di rumahnya masing-masing. Tentu banyak sekali perbedaan yang dirasakan selama kebijakan ini berlaku. Segala aktivitas yang biasa dilakukan di luar rumah kini segalanya harus dilakukan di dalam rumah. Sebagai makhluk sosial, tentu tidak heran jika seringkali rasa bosan dan jenuh dirasakan oleh masyarakat, terlebih dengan terbatasnya kontak sosial yang dapat dilakukan selama pandemi virus ini. Namun dengan patuhnya masyarakat mengikuti kebijakan pemerintah tersebut, banyak dari mereka mulai mencari kreativitas-kreativitas untuk mengusir kebosanan sehingga hal ini mulai menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat, khususnya bagi kaum milenial.

Sehubungan dengan berlakunya ketetapan pemerintah untuk tetap berada di rumah selama pandemi virus Covid-19 ini terjadi, tentunya akan banyak kesulitan yang dirasakan. Maka sebagai generasi yang sangat erat kaitannya dengan internet dan media digital, kaum milenial berusaha untuk menghilangkan rasa jenuh atau bosannya selama berada di rumah dengan tetap bergantung pada penggunaan internet. Terlebih lagi untuk urusan aktivitas akademis dan sosial, penggunaan internet dan media digital adalah alat utama. Segala sesuatu akan lebih mudah didapatkan ketika menggunakan media digital dan internet. Dengan demikian terdapat dua perilaku berbeda pada generasi milenial di tengah mewabahnya virus korona saat ini, yaitu kaum milenial yang produktif dan kaum milenial yang konsumtif.

Kaum Milenial Produktif

Pada awal mula masuknya virus korona atau Covid-19 ini ke negara Indonesia, pada saat bersamaan pula terjadi berbagai macam masalah krisis baik di bidang sosial dan ekonomi. Kepanikan masyarakat membuat banyaknya kebutuhan medis dan kesehatan menjadi langka dan mengalami pelonjakan harga yang drastis. Dapat kita rasakan alat medis dan kesehatan seperti masker, handsanitaizer, bahkan ADP (alat pelindung diri bagi tenaga medis) pun sulit untuk didapatkan. Tidak hanya menjadi benda langka, harganya pun sangat mahal dari harga normalnya.

Mengutip salah satu artikel online yang ditulis Rival, berdasarkan riset di berbagai pemasaran digital (e-commerce) seperti Tokopedia, pihaknya menyebutkan bahwa kelangkaan masker dan hand sanitaizer pada saat ini memunculkan banyaknya produk buatan lokal yang ramai dibeli oleh masyarakat secara online seperti “Dr. Soap” dengan harga yang terjangkau (Almanaf, 2020).

Selain itu juga mengutip dari artikel online yang ditulis Cindy, ia menuliskan bahwa sepanjang bulan maret ini pihak e-commerce telah mencatat adanya peningkatan yang cukup signifikan, yaitu lebih kurang 10% pengguna baru yang membuat akun toko onlinenya selama pandemi Covid-19 berlangsung. Dengan penjualan produk berupa masker, obat-obatan, multivitamin, produk makanan/minuman sehat dan alat penunjang kesehatan lainnya (Annur, 2020).

Tingginya tingkat kebutuhan barang-barang dan makanan penunjang kesehatan pada saat ini, berhasil dimanfaatkan oleh kaum milenial dengan berusaha peka melihat peluang dan menjadi produktif. Hal ini juga membuktikan bahwa pemasaran media digital memberikan perubahan perilaku bagi kaum milenial untuk dapat menciptakan kreativitas dan produktivitas selama menjalani masa pembatasan sosial pada saat ini. Selain untuk menghilangkan kejenuhan di rumah, kaum milenial juga menjadikan teknologi, internet dan media digital sebagai alat produktivitas dan kreatifitas mereka yang tentunya menjanjikan keuntungan. Sebagai dampak dari sulit nya perekonomian saat ini bagi sebagian orang, kaum milenial merasa mereka harus lebih bijak dalam berperilaku.

Kaum Milenial Konsumtif

Disisi lain, lamanya masa kebijakan untuk tidak keluar rumah selama virus korona mewabah, masyarakat menjadi sangat konsumtif dengan membeli semua barang-barang pangan dan lainnya dalam jumlah yang banyak. Sehingga pada saat ini dapat dilihat adanya pembatasan maksimal pembelanjaan untuk barang-barang tertentu di supermarket dan toko lainnya. Terlebih lagi dengan adanya pembatasan sosial pada saat ini, maka sistem pembelanjaan online menjadi sangat meningkat jumlah transaksinya.
Seperti yang dikutip dari artikel online oleh Meike, selain untuk mengurangi rasa bosannya ketika harus berada di rumah dan membatasi aktivitas sosialnya, kaum milenial juga terpengaruh oleh adanya tawaran dari e-commerce seperti diskon, cashback, buy one get one free dan promosi lainnya untuk membeli suatu produk. Akibatnya banyak dari kaum milenial saat ini membeli berbagai macam produk baik elektronik, makanan, pakaian, aksesoris dan lain sebagainya untuk memenuhi kesenangannya. Kebanyakan hal ini terjadi pada kaum milenial menengah keatas, yang biasanya tidak memikirkan dampak yang terjadi dari sifat konsumtif yang dilakukan (Kurniawati, 2020). Meskipun perilaku ini juga dapat membantu perekonomian dan menciptakan pasar bagi para produsen, namun tentunya kaum milenial diharapkan dapat lebih bijak dalam membeli barang yang dibutuhkan (Hasibuan, 2020). (*)

*Winda Ersa Putri – Communication Academics, Universitas Padjajaran