Korona saat Bermaafan dan Deraian Airmata

28
Ilustrasi ramadhan.

Dalimi Abdullah
Mantan Anggota DPR/MPR RI

Ramadhan bulan mulia tahun ini berlalu sudah. Dia pergi meninggalkan bekas dan hikmah. Sebulan lamanya dimanjakannya hidup ini untuk membentuk insan yang beriman dan bertakwa. Betapa bahagianya hidup manakala puasa itu benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan perhitungan untuk mendapatkan derajat takwa, berlomba mengejar ampunan Allah SWT. Menurut para ahli yang dimaksud dengan takwa adalah manusia takut melaksanakan hal-hal yang dilarang Allah dan takut kepada hal-hal yang merusak dirinya dan merusak orang lain.

Covid 19 otomatis merusak diri dan bisa merusak keluarga, serta orang lain. Kalau tak sepenuhnya dengan kesadaran kita laksanakan ketentuan yang ada. Kita harus waspada selamatkan diri dan jauhi kemudharatan dalam kondisi saat ini itulah pilihan terbaik. Selagi semua kemudharatan yang kita usahakan untuk menghindarinya dalam kehidupan akan terpelihara, juga ketakwaan yang telah kita gapai sebulan penuh perjuangan.

Di hari ini kemenangan kita telah kembali kepada fitrah sejati. Kita telah bersihkan bathin kita untuk mendapat ampunan Allah dan saling bermaafan antara sesama. Di antara orang-orang yang puasanya itu berhasil mendapat derajat takwa adalah orang yang menafkahkan hartanya di masa senang dan masa susah. Sanggup menahan marah dan orang yang suka memberi maaf kepada orang lain.

Seorang muslim yang baik adalah orang yang mudah menerima maaf dan mudah dengan bathinnya yang bersih memberi maaf sesuai dengan firman Allah: ”Maafkanlah mereka dan mintalah ampunan bagi mereka, musyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan.” (Surat Al Maidah-159).

Kata ”maaf ” hanya terdiri dari empat huruf, tetapi punya arti dan hakikat yang sangat menentukan bagi seseorang yang mengaku islam dan beriman. Predikat maaf mengandung khazanah rohani yang mampu mengubah jalan hidup kita yang lebih baik sebagai manusia baru. Diingatkan oleh rasullulah Muhammad SAW. ”Tidaklah beriman seseorang kamu sebelum dia memberi maaf dan mengasihi temannya sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri.”

Sangatlah tinggi nilai maaf bagi kehidupan seseorang muslim yang bertakwa dengan hasil puasanya itu kita rayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan, hari kesejahteraan dan kebahagiaan sesuai dengan fitrah bahwa kita telah menemukan jati diri yang sebenarnya dengan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid kita agungkan Allah karena telah bebas dari belenggu dosa setelah ditebus melalui ampunan di bulan Ramadhan. Kemenangan dan fitrah itu akan diperlihatkan dengan wajah berseri senyum manis dan uluran tangan dari bathin yang jernih sebagai bukti kesucian. Semua kesalahan telah saling bermaafan antar sesama. Hidup telah mulai jauh dari kehinaan. Karena peningkatan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia telah terpelihara.

Ditimpakan kepada manusia kehinaan di mana saja dia berada, kecuali orang yang selalu memelihara hubungannya dengan Allah dan hubungannya dengan manusia (Al Quran). Buah Ramadhan yang menjulai dari tangkai iman dan takwa itulah yang melahirkan maaf dan kesucian penuh bahagia.

Kita tentu menyadari bahwa Lebaran tahun ini sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Keterbatasan nilai maaf secara berhadapan langsung dibatasi oleh ketentuan yang berakibat timbulnya sedih dan air mata. Dunsanak dan anak di rantau tidak bisa pulang dibatasi oleh ketentuan PSBB (pembatasan sosial berskala besar).

Bersabarlah yang akan diperbanyak, tahanlah hati dulu, biarlah tak pulang ke kampung supaya terjauh dari kemudharatan hidup secara bersama. Besarkanlah hati dirantau orang, hapuslah airmata kerinduan demi keselamatan bersama keluarga di kampung. Tak bisa kita bertemu didarat, lewat udara melalui HP kita berhubungan. Yang pokok maaf lahir bathin itu secara tulus dari lubuk hati yang suci diucapkan. Lebih utama daripada salam berhadapan dengan bathin yang tidak tulus. Katakanlah salam politik kata orang politik. Ketawa juga bersalaman tapi dibalik itu masih terselip ranjau persaingan dan permusuhan. Ikhlas dan tulus bathin itulah sebagai penentu dari hasil dan manifestasi puasa bagi muslim sejati.

Orang yang selalu bersabar pertolongan Allah lebih dekat kepadanya. Islam adalah agama yang sarat dengan nilai dan kasih sayang dan saling bermaafan antara anak, orang tua dan masyarakat. Untuk melahirkan sesuatu kehidupan yang damai dan persahabatan yang kuat dan kokoh, terjauh dari hasad dan dengki terhindar dari fitrah dan hujat menghujat yang berakibat rusaknya tatanan kehidupan. Bermaafanlah dengan jiwa yang bersih dan dada yang lapang.

Semoga kita kembali ke fitrah kesucian kita. Puasa dan semua ibadah yang kita lakukan semoga akan diterima oleh Allah SWT. Aamiin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Mohon maaf lahir dan bathin. Minal aidil wal faidzin. Wassalam. (*)