Setelah Pensiun tidak Dihargai

275

Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

Banyak teman yang menyampaikan curahan hati (curhat)nya ke saya. Isinya senada. Setelah mereka pensiun, merasa tidak dihargai termasuk oleh teman-temannya yang pengusaha. Padahal ketika masih menjabat, setiap saat orang yang dikontak langsung merespon baik lewat telefon maupun WhatsApp. Tanpa diminta sering memberikan sesuatu.

Setelah pensiun kondisinya berubah 180 derajat. Bahkan ada yang semula komunikasinya akrab, jadi renggang. Terkesan tidak kenal sama sekali.

Sebagian teman itu ada yang meresponsnya dengan sikap kecewa, marah, sakit hati, dan berbagai hal negatif lainnya. Sehingga merugikan dirinya sendiri. Ada juga yang sikapnya biasa-biasa saja. Menganggap hal itu tidak pernah terjadi.

Saya menyimak semua yang disampaikan teman-teman itu. Menunjukkan sikap empati atas cobaan yang mereka alami.

Sambil menyimak mereka, saya merenung dan introspeksi diri. Bersyukur sekali karena selama ini tidak pernah menjabat sehingga tidak mengalami hal serupa.

Seleksi Alam
Setelah mereka puas menyampaikan curhatnya, baru saya berkomentar. Pertama kali saya sampaikan mereka harus mensyukuri semua itu.

Tuhan dengan caranya menunjukkan orang yang benar-benar tulus dan yang ada pamrih dalam berteman. Seleksi alam.

Akhirnya waktu yang menunjukkan dan membuktikan semua itu. Orang-orang yang tulus, berteman sama sekali tidak ada kaitannya dengan jabatan. Jadi meski tidak menjabat tetap bersahabat.

Baca Juga:  Kenali Kanker Lewat CERDIK dan WASPADA

Kondisinya bertolak belakang dengan orang-orang yang berteman karena terkait jabatan. Tidak tulus dan ada pamrihnya.

Mungkin orang-orang itu beranggapan setelah pensiun, mereka tidak punya pengaruh dan kekuatan lagi. Sehingga tidak dapat dimintai tolong yang dapat memberikan keuntungan padanya.

Jadi saat mereka masih menjabat, persahabatannya transaksional. Bersikap baik karena ada maunya dan membutuhkan sesuatu. Setelah itu semuanya dianggap selesai.

Orang-orang itu mungkin juga beranggapan, imbalan yang pernah diberikan kepada mereka saat menjabat, apapun wujudnya, dianggap sudah impas. Sehingga merasa tidak punya utang kepada mereka yang telah pensiun.

Temukan Teman Sejati
Semuanya sudah terjadi. Mereka yang sudah pensiun tidak perlu kecil hati. Jadikanlah semua sebagai pelajaran dan pengalaman berharga termasuk untuk lebih mengenal karakter seseorang.

Saat pensiun temukanlah teman sejati. Orang-orang yang berteman secara tulus. Sama sekali tidak ada pamrih apa-apa.

Persahabatan yang sepenuhnya dilandasi sebagai umat Tuhan. Saling tolong-menolong, berbagi, dan mengingatkan dengan penuh kasih sayang.

Sedangkan kepada yang masih menjabat agar selalu introspeksi diri, hati-hati, waspada, dan mawas diri. Sehingga kejadian yang dialami pendahulunya yang telah pensiun tidak terulang kembali. Dengan begitu tidak menimbulkan rasa sakit hati.

Semoga ke depan semakin banyak orang yang bersahabat secara tulus. Niat sepenuhnya ibadah, karena Tuhan, bukan yang lain. Aamiin ya robbal aalamiin.(*)