Diabetes dengan Risiko Tinggi Kardiovaskular: Paradima Baru

33
ilustrasi. (jawapos.com)

Eva Decroli
Guru Besar Fakultas Kedokteran Unand

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dikenal sebagai gangguan kesehatan yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Penyakit diabetes melitus rentan mengundang penyakit lain, di antaranya penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung mendadak, gagal jantung, stroke, gagal ginjal, dan gangren kaki diabetik. Penderita DMT2 mempunyai risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dua sampai empat kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa diabetes.

Terdapat hubungan diabetes dengan penyakit pembuluh darah jantung dan pembuluh darah ginjal. Hal tersebut ditandai dengan 32% pasien dengan gangguan pembuluh darah jantungmenderita DMT2, 12%-45% pasien dengan gagal jantung menderita DMT2, 76% pasien dengan DMT2 dan penyakit kardiovaskular menderita gagal ginjal, 20%-44% pasien DMT2 menderita gagal ginjal dan 35%-45% pasien dengan gagal jantung menderita gagal ginjal.

Komplikasi kardiovaskular yang terjadi akibat diabetes dapat berupa gangguan pada pembuluh darah baik pada pembuluh darah besar maupun pembuluh darah kecil, Komplikasi pada pembuluh darah tersebut dapat terjadi pada penderita DMT2 yang sudah lama menderita penyakit atau DMT2 yang baru terdiagnosis. Komplikasi pada pembuluh darah besar umumnya mengenai pembuluh darah koroner pada jantung, pembuluh darah otak dan pembuluh darah tungkai, sedangkan gangguan pembuluh darah kecil dapat terjadi pada pembuluh darah mata dan pembuluh darah ginjal.

Berbagai kerusakan pembuluh darah di atas dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, dampak terhadap tingginya biaya pengobatan, produktivitas kerja yang menurun, malah di ujung sana bisa bersifat fatal. Oleh karena itu, penyakit kardiovaskular menempati urutan pertama penyebab kematian pada penderita DMT2.

Pada DMT2 komplikasi kardiovaskular berkembang secara lambat dan perlahan sehingga seringkali baru terdeteksi saat kondisi telah mencapai derajat keparahan tertentu. Pasien DMT2 dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular adalah pasien yang mengalami dua atau lebih hal berikut yaitu: pasien dengan riwayat serangan jantung dalam dua bulan terakhir, pasien dengan riwayat gagal jantung, pasien yang mengalami gangguan dua atau lebih pembuluh darah utama jantung (Arteri Koronaria) yang dibuktikan dengan terdapatnya penyempitan ? 50% pada pemeriksaan angiografi, pasien DMT2 dengan riwayat pemasangan stent atau operasi bypass jantung dalam 2 bulan terakhir.

Termasuk, juga pasien DMT2 dengan risiko tinggi kardiovaskular adalah pasien yang mengalami gangguan pada satu pembuluh darah jantung tetapi gagal dilakukan tindakan revaskularisasi. Riwayat dirawat dengan keluhan nyeri dada dalam 12 bulan terakhir atau keluhan nyeri dada kurang dari 2 bulan dengan bukti terdapatnya gangguan pada lebih dari 1 pembuluh darah jantung.

Keadaan lain yang masuk dalam kelompok ini adalah riwayat menderita stroke dalam 2 bulan terakhir, pasien dengan riwayat penyumbatan pembuluh darah anggota gerak, pasien dengan riwayat pemasangan stent atau operasi bypass pada pembuluh darah anggota gerak. Riwayat amputasi tungkai atau lengan oleh karena gangguan peredaran darah, dan hasil pemeriksaan perbandingan tekanan darah antara tungkai dan lengan <0.9 juga dimasukkan pada kelompok risiko tinggi kardiovaskular.

Baca Juga:  Sejarah dan Perkembangan Kelistrikan Indonesia

Pasien DMT2 dengan risiko tinggi kardiovaskular harus dilakukan tindakan-tindakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Kepada penderita DMT2 dengan keadaan di atas disarankan agar rutin memeriksakan diri kepada dokter, minum obat secara teratur, beraktivitas fisik secara teratur. Diet juga harus diperhatikan seperti, diet sesuai jumlah kalori yang disarankan, diet rendah garam, dan diet rendah kolesterol.

Saran kepada tenga medis agar dapat mengelola pasien DMT2 dengan paradigma baru yaitu, selain mengevaluasi gula darah puasa, gula darah 2 jam setelah makan, HbA1c dan faktor-faktor risiko klasik seperti tekanan darah, lemak darah, berat badan, kebiasaan merokok, diet dan olahraganya, maka perlu juga mengevaluasi gangguan pada pembuluh darah, seperti gangguan pada pembuluh darah otak, gangguan pembuluh darah jantung, gangguan pembuluh darah ginjal, gangguan pembuluh darah tungkai dan gangguan pembuluh darah mata.

Contoh sederhana evaluasi kelainan pembuluh darah otak adalah dengan menanyakan riwayat stroke, riwayat transient ischaemic attack, riwayat serangan stroke ringan, stroke sekilas, atau stroke berat.dan bila perlu dilakukan pemeriksaan canggih seperti MRI. Contoh Evaluasi terhadap gangguan pembuluh darah jantung seperti menggali riwayat nyeri dada, gangguan irama jantung, melakukan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan bila ada indikasi dilakukan pemeriksaan canggih seperti angiografi.

Contoh evaluasi terhadap fungsi jantung adalah dengan mengetahui sesak nafas karena jantung dan memperhatikan tanda-tanda gagal jantung seperti sesak nafas waktu bekerja, sesak nafas di malam hari dan sesak saat berbaring terlentang dan bisa jadi dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi, pemeriksaan invasif lainnya seperti kateterisasi jantung.

Contoh mengevaluasi kelainan pembuluh darah ginjal dengan pemeriksaan mikroalbuminuria, protein urin, laju filtrasi glomerulus, dan kapam perlu sampai kepada pemeriksaan canggih renogram. Contoh evaluasi terhadap kelainan pembuluh darah tungkai adalah dengan memeriksa denyut arteri tungkai, dengan memeriksa ankle brachial index, kapan perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan doppler dan angiografi tungkai.

Bila pada penderita DMT2 ini didapatkan tanda-tanda yang mengarah kepada keadaan risiko tinggi komplikasi kardiovaskular maka sebaiknya dirujuk agar mendapat sarana diagnostik yang lebih akurat dan mendapatkan pelayanan yang lebih maksimal dan kolaboratif.

Pelayanan kolaboratif diberikan oleh profesional di bidang endokrin/ ahli diabetes, ahli jantung, ahli saraf, ahli ginjal, ahli mata dan paramedis dengan kemampuan khusus. Dengan pendekatan paradigma baru pengelolaan pasien DMT2 dengan risiko kardiovaskular yang tinggi diharapkan dapat menurunkan komplikasi yang fatal, mengurangi hari rawatan di rumah sakit dan meningkatkan umur harapan hidup. Semoga kita semua sehat-sehat saja dan pandemi Covid-19 segera berlalu. (*)