Wujudkan Teaching Industry Faperta Unand PTNBH

26
Munzir Busniah Dosen Fakultas Pertanian

Fakultas Pertanian Universitas Andalas berdies natalis yang ke-67 pada tanggal 30 November 2021. Guna mengenang hari kelahiran tersebut tidak salah rasanya kita melakukan perenungan tentang apa yang telah dicapai, serta apa yang kita lakukan saat ini.

Dan hal yang lebih penting lagi adalah perubahan apa yang perlu kita lakukan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi zaman, serta menyongsong masa depan ih gemilang. Hakikat kehidupan adalah perubahan atau dinamika. Tanpa perubahan dan dinamika tersebut maka sesungguhnya kita sedang menuju ke kematian.

Fakultas Pertanian Unand merupakan perguruan tinggi pertanian tertua di luar Pulau Jawa dan ketiga tertua di Indonesia setelah Fakulteit Pertanian Universiteit Gajahmada di Yogyakarta dan Fakulteit Pertanian Universiteit Indonesia di Bogor (IPB University saat ini). Sejarah ini mesti menjadi cimeti bagi keluarga besar Fakultas Pertanian Unand untuk tetap di depan dalam pembangunan pertanian Indonesia.

Paradigma baru ini menjadi keniscayaan, ketika Universitas Andalas baru saja berubah status menjadi PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) yang memposisikan Unand menjadi lebih otonom dalam pengelolaannya, serta membutuhkan unit-unit bisnis sebagai income generating yang baru.

Ditambah lagi program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mas Nadiem Makarim dengan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) yang sangat menantang. Oleh karena itu, Fakultas Pertanian Unand harus bergerak cepat dan dapat memanfaatkan kesempatan ini, sehingga bisa selalu terdepan dalam pelaksanaan pendidikan pertanian Indonesia.

Ada berbagai data dan fenomena yang terjadi di sektor pertanian dan pendidikan pertanian Indonesia. Pada kesempatan ini disorot tiga hal saja, yaitu: 1) tenaga kerja sektor pertanian, 2) hilirisasi produk pertanian, dan 3) pendidikan pertanian di perguruan tinggi. Ketiga hal ini saling berkaitan, bagaimana menghasilkan sarjana pertanian pebisnis sebagai penggerak pertanian untuk mempercepat hilirisasi produk pertanian.

Pertama. Data statistik mengungkapkan bahwa sektor pertanian hanya banyak menampung dan mempekerjakan orang-orang berpendidikan rendah (tamatan sekolah dasar dan sekolah menengah). Katanya untuk bergelut di sektor pertanian tidak membutuhkan ilmu yang tinggi dan keahlian khusus. Kemudian, lulusan perguruan tinggi tidak banyak yang mau melirik dan berkiprah di sektor pertanian.

Termasuk lulusan perguruan tinggi pertanian itu sendiri yang lebih suka menjadi pekerja ”kantoran” dari pada ”berteman lumpur” jadi petani. Hal ini tidak lepas dari persepsi yang salah sebagian besar orang tentang pertanian, bahwa pertanian hanya sebagai usaha budidaya tanaman. ”Bertani hanyalah dilema keterpaksaan kondisional”.

Padahal pertanian adalah sebuah entitas bisnis, sebuah usaha tani atau agribisnis yang membutuhkan berbagai kepakaran yang bahkan tidak hanya ahli pertanian semata.
Kedua. Banyak produk pertanian yang butuh proses hilirisasi sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari produk pertanian tersebut.

Kebanyakan proses hilirisasi produk pertanian tersebut tidak dilakukan oleh petani, sehingga nilai tambah produk pertanian tersebut tidak dinikmati oleh petani atau kelompok tani. Bahkan ada komoditi pertanian yang semakin mendapatkan tekanan sehingga petani semakin tidak menikmati hasil komoditi tersebut.

Seperti gambir, dahulu petani menjual gambir dalam bentuk getah gambir yang telah diolah dengan cara ”mengampo” oleh petani. Saat ini, berdiri pabrik pengolahan gambir tanpa memiliki kebun gambir, yang hanya membeli daun gambir petani. Akibatnya petani tidak lagi menikmati nilai tambah gambir yang terpaksa menjual daunnya ke pabrik dengan harga murah.

Ketiga. Perguruan tinggi pertanian belum menghasilkan sarjana pertanian pelaku agribisnis, yang dihasilkan baru sebatas sarjana pertanian yang memahami ilmu pertanian. Kenapa perguruan tinggi pertanian belum banyak menghasilkan sarjana pebisnis? Hal tersebut disebabkan karena masih kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki Fakultas Pertanian untuk melakukan kerja dan praktik lapangan.

Baca Juga:  Tanpa Sakit

Fakultas Pertanian UNAND, sebagai salah satu contoh, belum memiliki lahan yang cukup memadai untuk melakukan kerja lapangan, baik bagi mahasiswa untuk melakukan praktikum dan penelitian maupun bagi dosen/institusi untuk melakukan penelitian, pengajaran, serta hilirisasi dan komersialisasi yang dapat menghasilkan income generating.

Proses belajar mengajar umumnya hanya berlangsung di ruang kelas dan di lahan-lahan yang secukupnya saja, sehingga mahasiswa perguruan tinggi pertanian jarang yang dapat ”bermain lumpur” sepuasnya untuk melakukan budidaya berbagai jenis tanaman. Sehingga mereka hanya mendapatkan ilmunya saja, namun belum memiliki kemampuan teknis (technical skill) sebagai seorang pebisnis pertanian.

Itulah yang menyebabkan mereka takut menjadi petani dan lebih memilih menjadi pekerjaan kantoran yang kesannya juga lebih keren. Ada anekdot yang sering didendangkan, alumni Fakultas Pertanian bisa apa saja kecuali bercocok tanam. Alumni Fakultas Pertanian sanggup kerja apa saja, kecuali menjadi petani. Kita bisa berkaca pada Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi atau yang lainnya.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dalam proses pendidikannya selalu berada di klinik dan rumah sakit, serta selalu berinteraksi dengan pasien, mempelajari kasus-kasus penyakit yang berkembang di masyarakat, sehingga di samping mereka memiliki pengetahuan yang cukup di bidang kedokteran, mereka juga memiliki keterampilan, serta siap untuk melakukan berbagai tindakan dan memberikan resep untuk menangani berbagai penyakit pasien. Sehingga alumni kedokteran bisa langsung menjadi dokter dan melaksanakan praktik dokternya.

Sekarang bagaimana mahasiswa Fakultas Pertanian bisa pula seperti mahasiswa Fakultas Kedokteran tersebut. Tidak lain Perguruan Tinggi Pertanian harus pula bisa melakukan pembelajaran seperti itu yang biasa dikenal dengan teaching industry. Teaching industry adalah suatu kegiatan pembelajaran, riset, pengembangan dan inovasi yang melembaga dengan model bisnis, yang dapat berkolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri.

Teaching industry bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan penelitian, serta menghasilkan lulusan yang siap terjun menjadi pebisnis, serta menghasilkan produk inovasi yang laku di pasar. Teaching industry adalah flatform industri yang dipakai untuk proses pendidikan.

Teaching industry Fakultas Pertanian harus memiliki lahan berskala bisnis serta didukung sarana prasarana lainnya untuk dapat membudidayakan atau memproduksi hasil pertanian dalam skala bisnis. Lahan beserta sarana prasarana tersebut harus dikelola secara bisnis serta dapat pula menjadi tempat pembelajaran, riset dan pengembangan bagi mahasiswa dan dosen.

Sebagai contoh, teaching industry kopi memiliki lahan perkebunan kopi serta berbagai sarana prasarana prosesing kopi dengan ukuran skala bisnis. Contoh lain adalah sarana mix farming dengan berbagai komoditi yang terintegrasi dan bernilai bisnis. Teaching industry pada dasarnya adalah kegiatan pertanian berskala bisnis (agribisnis) yang dapat dimanfaatkan untuk sarana pembelajaran, riset dan pengembangan.

Di saat berdies natalis ke-67, di saat Unand baru saja menjadi PTNBH yang membutuhkan unit-unit bisnis sebagai income generating, dan di saat Program MBKM yang memerdekakan pembelajaran yang sedang giat-giatnya dilaksanakan, maka ini adalah saat yang paling tepat bagi Fakultas Pertanian Unand untuk membuat terobosan dengan mendirikan teaching industry.

Pekerjaan besar ini tidak sanggup dipikul sendiri oleh Fakultas Pertanian Unand. Pekerjaan ini butuh dukungan Unand, pemerintah daerah serta pelaku bisnis, khususnya di bidang pertanian. Semoga dapat kita mulai pekerjaan besar ini, membangun teaching industry Fakultas Pertanian Unand yang dapat menjadi kebanggaan kita semua. Aamiinn ya Robb. (*)