Akhir Pandemi dan Pandemi Baru?

Defriman Djafri Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat , Universitas Andalas. (IST)

Defriman Djafri
Dekan FKM Unand/ Ketua PAEI Sumbar

Sudah genap 300 hari saat ini sejak pertama kasus Covid-19 di laporkan di Indonesia. Berbagai upaya dan evaluasi berbagai pihak telah dilakukan untuk pengendalian pandemi ini.

Tahun 2020 akan berakhir, apakah pandemi Covid-19 ini juga akan berakhir dalam penantian pergantian tahun ini? Di sisi lain, saat ini varian baru dari mutasi virus korona menjadi ancaman nyata yang akan dihadapi ke depan.

Harapan dan ancaman ini menjadi penting kita pelajari, mempersiapkan bekal dan mengevaluasi yang telah dijalankan untuk menghadapi pandemi global Covid-19 dan bertahan dalam menjalankan roda kehidupan ini ke depan.

Harapan Mengakhiri Pandemi
Harapan bentuk optimisme kita pentingnya pelajaran yang diambil dalam proses penanganan pandemi Covid-19. Tercerah harapan semuanya akan kembali normal seperti biasanya.

Ada beberapa pelajaran dari informasi dan evaluasi yang kita peroleh dari pengetahuan dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengurangi risiko penularan Covid-19. Pertama, risiko Covid-19, Covid-19 tidak hanya sekadar flu, banyak kesamaan antara Covid-19 dan influenza bagaimana kedua virus ini menyebar, tetapi jumlah orang yang rentan inilah yang memungkinkan SARS-CoV-2 menyebar dengan mudah.

Kecepatan penularan merupakan poin penting perbedaan antara kedua virus tersebut. Jumlah angka infeksi sekunder yang ditimbulkan dari satu individu yang terinfeksi, diketahui antara 2 dan 2,5 untuk virus Covid-19, lebih tinggi daripada influenza. Namun, perkiraan untuk virus Covid-19 dan influenza sangat bergantung pada konteks dan waktu, tempat dan individu yang terinfeksi.

Covid-19 memiliki penyakit yang parah dan tingkat kematian yang lebih tinggi daripada influenza di semua kelompok umur, kecuali mungkin anak-anak di bawah usia 12 tahun. Artinya, usia yang lebih tua dan kondisi penyakit penyerta yang mendasarinya meningkatkan risiko infeksi yang lebihparah.

Kedua, tindakan pencegahan kesehatan masyarakat, ini upaya paling penting dalam mencegah terjadinya infeksi Covid-19. Pada kondisi pandemi ini, tindakan pencegahan individu (menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) dalam menerapkan protokol kesehatan sangatlah efektif jika ini dilakukan dengan benar.

Kita menyadari, membentuk perilaku pencegahan dalam menerapkan protokol kesehatan ini yang sulit dibentuk saat ini. Upaya perilaku pencegahan ini yang perlu terus digalakan tidak hanya melalui proses adaptasi tetapi menjadi sesuatu kebiasaan baru yang terbentuk di masyarakat menjadi budaya ke depan.

Inilah sebenarnya modal kita percaya dan optimistis ada harapan, kita mampu dan punya bekal menghadapi pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan dan tindakan pencegahan individu, tidak hanya melindungi diri kita, tetapi juga orang lain.

Ketiga, ketersediaan vaksin, vaksin merupakan harapan yang sangat besar ditunggu semua orang untuk diimplementasikan. Kekebalan yang diharapkan menjadi solusi mengakhiri pandemi ini. Perlu diingatkan, ketersedian vaksin kedepan bukan berarti kita mengabaikan protokol kesehatan yang sudah dijalankan saat ini.

Proses vaksinasi yang akan dilakukan kedepan tentunya juga menerapkan protokol kesehatan dalam pelaksanaannya. Proses vaksinasi membutuhkan waktu untuk persiapan menjangkau semua khalayak. Efektifitas vaksin idealnya diharapkan di atas 70% dan aman diberikan kepada masyarakat.

Yang terpenting dari semua itu, tentunya membangun kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan vaksinasi ini bisa diterima oleh masyarakat kedepan. Informasi yang lengkap dan utuh serta mudah diakses salah satu cara saat ini perlu disosialisasikan secara masif kepada masyarakat.

Keempat, kebijakan kesehatan dalam pengendalian, kebijakan seharusnya mempunyai peran penting dalam upaya pengendalian pandemi. Harapan besar, dengan kebijakan yang tepat dan terukur pengendalian pandemi benar-benar dapat dikontrol oleh pemerintah. Setiap kebijakan bisa diikuti dan disesuaikan pada strata pemerintahan dibawahnya.

Baca Juga:  Pengembangan Competency Based Learning Sistem Pendukung Keputusan

Tidak ada keraguan-raguan pemangku kebijakan dalam mengimplementasikan diseluruh tatanan masyarakat. Peran kepala daerah merupakan faktor kunci dalam implementasi kebijakan kesehatan ini. Penegakan aturan dan memberikan contoh serta tauladan kepada masyarakat menerapkan protokol kesehatan, dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat atas tanggung jawab pemerintah dalam pengendalian pandemi Covid-19.

Strategi yang komprehensif dalam penguatan kemampuan testing, pelacakan riwayat kontak, isolasi dan perawatan, serta surveilans yang mumpuni menjadi bekal pemerintah bahwa penanganan pandemi butuh solidaritas besama dalam upaya memutus mata rantai penularan dan pengendalian Covid-19.

Ancaman Mutasi Varian Virus Baru
Ketika banyak orang bertanya, kapan pandemi ini akan berakhir? Sampai kapan pandemi ini akan hilang?. Mudah sebenarnya jika kita sadar dan menjawab pertanyaan ini, pandemi akan berakhir ketika semua orang disiplin menerapkan protokol kesehatan, tetapi ini yang sulit dijalankan ketika semua aktivitas kehidupan dijalankan.

Pandemi ibarat passport di mana epidemi yang berjalan atau menyebar di lintas negara. Di sini kita melihat ancaman ke depan, sama seperti kita melihat awal masuknya virus korona pada bulan Maret 2020 di Indonesia. Perspektif yang kita lihat tidak hanya melihat di dalam daerah atau dalam negeri kita saja, tetapi bagaimana perkembangan penyebaran pandemi ini dalam tatanan global saat ini.

Ancaman nyata tentunya mutasi jenis strain virus yang baru korona yang telah dilaporkan di 18 negara, 5 negara di Asia (Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Yordania ) saat ini. Mutasi virus korona sangat mungkin terjadi juga di Indonesia, kemungkinan proses mutasi ini banyak faktor yang akan mempengaruhi dan menjadi pertimbangan.

Critical point faktor yang paling besar mempengaruhi mutasi virus ini adalah faktor dari inangnya dalam mereplikasi atau berkembang biak. Ini menjadi tolak ukur, di mana mutasi virus korona yang baru bisa lebih berbahaya dari yang sebelumnya.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam pengendalian adalah tingkat penularandan severitas terhadap kematian. Jenis varian baru yang dilaporkan dari Inggris dengan kode B117 atau disebut juga VUI202012/01 lebih 70% lebih menular dari varian yang sebelumnya, tetapi tidak mematikan.

Di sisi lain, kecenderungan lebih tinggi menginfeksi pada anak-anak. Jenis varian lain yang juga dilaporkan adalah dengan kode D614G, ini berbeda dengan B117. Jenis D614G terletak di dalam protein yang menyusun spike virus yang digunakannya untuk masuk ke dalam sel manusia. Mutasi ini mengubah asam amino pada posisi 614, dari D (asam aspartat) menjadi G (glisin).

Ini dilaporkan 10 kali lebih menular, tetapi belum tentu mematikan dibandingkan varian sebelumnya. Mutasi virus dilaporkan, penularan yang lebih cepat memungkinan mengubah jalur pemajanan infeksi. Ini yang perlu dipertimbangkan untuk antisipasi ke depan, penerapan protokol kesehatan dengan intervensi kebijakan yang diiringi dengan penegakan hukum diharapkan efektif dilakukan untuk mengurangi risiko penularan dan meminimalkan acaman varian virus baru ini ke depan.

Mudah-mudahan varian baru ini tidak menjadi pandemi baru ke depan. Vaksin yang dibangun saat sekarang seharusnya juga bisa disesuaikan dengan jenis varian virus baru yang berkembang saat ini. Efektivitas vaksin benar-benar mampu mengendalikan dan mengurangi morbiditas dan mortalitas dari pandemi Covid-19 di Indonesia. (*)