Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Willy Aditya, Berada di Usia yang Pas untuk Bangkitkan Semangat 45

Hendra Efison • Selasa, 18 April 2023 | 23:05 WIB
Photo
Photo
Oleh: Adio Sangiro, Wakil Ketua DPW NasDem Sumbar

Di musim mudik saat ini, ramai orang-orang melakukan perjalanan untuk pulang ke kampung halaman. Perjalanan mudik itu tentu saja sudah melewati terlebih dahulu periode persiapan, mulai dari kendaraan, bekal, sampai pada rute ke kampung halaman pun sudah rampung dalam perbincangan.

Di kepala setiap orang telah terpeta-peta tujuan dan harapan masing-masing. Hidup pada hakikatnya adalah perjalanan yang sama, tapi tentu saja dengan dimensi yang lebih luas, lebih dalam, dan bukan momentum musiman.

Perjalanan hidup seperti yang banyak dikatakan oleh para filsuf adalah pendakian dalam gurun kehidupan, selalu ada jalan terjal dan beban di pundak.

Ruang kehidupan akan selalu bergumul dengan udara dari berbagai warna yang tidak semua cocok dengan paru-paru kita. Akan tetapi, pada setiap pertambahan usia, maka ruang-ruang dalam kehidupan juga akan semakin luas, paru-paru juga akan lebih adaptif, bahkan selera kita terhadap sesuatu hal menjadi semakin variatif, tidak sentris apalagi egois. Itulah definisi kebijaksanaan yang saya tangkap dari seorang Willy Aditya.

Narasi Kehidupan

Bulan April ini, beliau berusia tepat 45 tahun. Hakikat pertambahan usia sebenarnya serupa dengan bertambahnya satu cabang akar pada pohon. Akan semakin mengokohkan seiring dengan semakin dalam cabang akar yang tertanam.

Hal-hal demikian tentu erat kaitannya dengan filosofi kebermanfaatan, di mana suatu hal memberi dampak positif kepada hal lain di sekitarnya. Sebagaimana narasi kehidupan manusia dalam keyakinan seorang muslim, yaitu yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya.

Kenapa saya menghubungkan pertambahan usia dengan identitas keagamaan seorang Willy Aditya? Tentu saja bukan karena asal-asalan, tetapi sebagai pemuda berdarah Minang, Willy memang selalu berusaha membawa serta nilai-nilai agama dalam dialektika sehari-harinya.

Tidak jarang ia berbicara tentang amar ma’ruf nahi mu’ngkar, dan mengingatkan kepada orang lain tentang iqro’ yang menjadi sumber segala pengetahuan dalam Islam dan sesekali juga ia menyinggung tentang tokoh-tokoh Minang seperti Buya Hamka dan tokoh-tokoh besar dengan karyanya yang sampai saat ini masih menyumbang manfaat bagi peradaban Indonesia.

Hal tersebut menurut saya disadari atau tidak adalah representasi dari orientasi seorang Willy Aditya sendiri, bahwa memang tujuan hidup, tujuan perjuangan dan tujuan berpolitiknya adalah kebermanfaatan. Atau setidaknya, saya membaca niat baik itu setiap kali melihat sorot mata dan cara ia berbicara. Maka tidak heran, kalau saat ini beliau telah masuk dalam jajaran politisi nasional yang cukup berpengaruh dan diperhitungkan argumentasinya dalam banyak kontestasi, terutama dalam menyuarakan aspirasi masyarakat tentang pentingnya Indonesia memiliki figur pemimpin yang teduh, agamis dan intelektual seperti Anies Baswedan.

Gagasan Politik Willy Aditya

Munculnya sosok Willy Aditya sangat menggairahkan suhu perpolitikan nasional. Dialektika yang dibawanya mengingatkan kita pada cara berkomunikasi Tan Malaka, Buya Hamka bahkan juga pada Sang Proklamator RI Presiden Soekarno.

Dialektika yang begitu hidup, padat dan menyala, seperti lahir dari sebuah pendekatan yang mendalam, bukan sekadar semangat yang kacangan.

Satu gagasannya yang paling identik dan elementer antara Willy Aditya dengan para intelektual terdahulu adalah saat ia mengemukakan tentang politik gagasan. Bahwa setiap aksi dan kebijakan dalam politik harus berdasarkan gagasan, buah pikir dan tidak mendahulukan kepentingan pribadi atau golongan mana pun.

Melihat Willy Aditya seperti membaca ulang sejarah para pelakon perjuangan, di mana dulu negara ini dipenuhi oleh para pemikir kritis dan dialogis, sehingga sendi-sendi demokrasi semakin berenergi dari meja-meja diskusi yang berisi.

Saat ini, kita juga tidak kekurangan forum diskusi, semua media berlomba membuat ajang silang pendapat. Tapi, tidak semua diskusi digawangi oleh argumentasi yang berisi. Sehingga sebagian diskusi tersebut menjadi sekadar tontonan akhir pekan, atau pilihan saat jeda iklan di saluran lainnya. Memang sejomplang itu kualitasnya, tapi tentu tidak semua. Diskusi bernas dan cerdas masih ada, tapi belum cukup untuk menopang apalagi untuk membuat demokrasi menjadi gagah dan berwibawa.

Untuk itu, Willy menolak segala bentuk selebrasi demokrasi yang nihil substansi. Pemilu tidak boleh hanya jadi ajang perayaan 5 tahunan dan pertarungan omong kosong yang harus dibiayai triliunan dengan uang rakyat.

Ia mengajak semua orang mengambil peran untuk membenahi tatanan politik dengan masuk ke dalam sistem bukan justeru menabrakkan diri dengan sistem.

Menurutnya, konsekuensi moral juga harus ditanggung oleh orang pintar yang diam saat menyaksikan kebodohan.

Semangat 45 Bersama Indonesia

Barangkali memang dari buku-buku yang ia baca dan pengalaman selama menjadi aktivis telah mengantarkan Willy Aditya kepada titik awal kematangannya sebagai politisi, sebagai negarawan, dan sekaligus sebagai rakyat biasa yang bercita-cita bermanfaat untuk negara.

Kenapa saya sebut sebagai titik awal kematangan? Karena potensi bertumbuh dalam diri Willy Aditya masih sangat besar. Titik awal kematangan ini akan menjadi tapak pertama menuju kematangan berpikir, bertindak dan berdialog yang lebih progresif dan strategis.

Kematangan individu itu lambat laun akan bergulir menjadi kematangan kelompok, sebagaimana yang mulai terjadi pada Willy Aditya dan Nasdem, karena memang mustahil seorang politisi sekelas Willy memilih tempat bernaung yang abal-abalan. Entah siapa yang memberi pengaruh terlebih dahulu, atau malah Willy dan Nasdem bertemu telah dalam satu frekuensi besar pemikiran yang seragam.

Prediksi terakhir mungkin jauh lebih masuk akal, karena politisi biasanya akan memilih berkiprah bersama partai yang dianggap sepadan secara pemikiran.

Willy berlabuh di kapal yang tepat, meski juga tergantung pada kualitas individunya, Nasdem sebagai partai telah berkontribusi terhadap demokrasi dengan memberi ruang yang cukup agar setiap kadernya dapat bereksplorasi dan bertumbuh.

Kader yang berkualitas pun jika tumbuh di ladang pemikiran yang antagonis tentu tidak akan berkembang subur. Saat ini, masyarakat Indonesia dapat menyaksikan sosok Willy Aditya yang lantang menggemakan politik demokrasi yang beradab dengan mengambil semangat para pejuang kemerdekaan. Meskipun  medan laga berbeda, tapi semangat 45 tetap sama untuk Indonesia.

Penutup

Seperti biasa, Minang tidak pernah gagal menempa para intelektual bangsa. Willy Aditya menurut saya sudah layak menempati posisi sebagai penerus tokoh-tokoh besar Minang karena pemikiran yang menakjubkan.

Di usia yang belum setengah abad, kharismanya terpancar, bahkan saat dipadukan dengan banyak politisi besar lainnya, sorot matanya tidak redup, ia lantang menuturkan pemikirannya seperti diplomat ulung yang memperjuangkan hak-hak negara dalam konferensi dunia.

Mungkin tidak berlebihan kalau saya menyebutnya sebagai sosok pemimpin masa depan. Latar belakangnya sebagai aktivis, dekat dengan masyarakat dan kemampuan bernalar yang identik adalah profil pemimpin yang tumbuh dalam diri Willy Aditya.

Menjelang usia keemasan, perlahan tapi pasti, Willy mulai berani membidik sasaran perang. Ia berusaha melibas segala negosiasi politik sumbang, narasi “Ajeni Petani” ia gaungkan sejak masih sebagai aktivis mahasiswa, kemudian langkah nyata ia tunjukkan dengan membawa semangat 45 ke Senayan sampai sekarang.

Jika berkaca dari latar belakangnya, maka karir politik Willy Aditya harusnya cemerlang serupa emas, karena ia bukan politisi dadakan yang bersinar karena polesan. Ia politisi bukan politisi karbitan yang matang dipaksakan. Ia politisi emas, politisi sungguhan, ia anak bangsa, suguhan dari tanah Minang untuk Indonesia.(***) Editor : Hendra Efison
#Politisi dari Minang #willy aditya #Usia yang Pas untuk #Bangkitkan Semangat 45