Saya menimba ilmu tafsir dari almarhum Buya Malik Ahmad yang terkenal dengan tafsir Sinarnya secara khusus di rumah beliau di Tebet sambil kuliah di UI. Saya juga belajar pada almarhum Buya Azhary Noor yang ikut membuat khat Masjid Al Azhar Kebayoran Baru.
Walau sebentar, saya pun belajar kepada almarhum Ustad Yunahar Ilyas yang menjadi ulama muda Muhammadiyah. Maka terhadap orang Minang bukan hanya saya yang merasa berutang budi pada para ulama mereka yang kharismatik, tetapi seluruh muslimin di negeri kita, terutama Buya Hamka dengan karya Tafsir Al Azhar yang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa kita.
Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 269, “Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan, hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
Hikmah adalah karunia Allah berupa ilmu pengetahuan agama, tafaqquh fid diin. Dalam sebuah tafsir disebutkan hikmah adalah kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah. Hikmah ini juga menyangkut rahasia kehidupan yang dapat ditangkap oleh para ulama atau ulil albab.
Rasulullah dalam salah satu hadits menyebutkan,”Al hikmatu Yamaniyah (Hikmah itu umumnya berada di Yaman).” Ini pujian Nabi shollallahu alaihi wassalam kepada suku Yaman yang berada di daratan Nejd, karena kegemaran suku ini pada ilmu khususnya agama.
Sahabat Nabi berasal dari Yaman yang terkenal dengan kecerdikannya adalah Hudzaifah Al Yamani. Bukan berarti suku lain tidak istimewa. Hanya di zaman itu Nabi memberikan apresiasi kepada suku ini karena pemahaman agama.
Konon keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam banyak bermukim di Yaman ini dalam suatu waktu kemudian menyebarkan agama ke seluruh dunia termasuk ke nusantara (Indonesia). Di negeri kita ini mereka banyak tersebar dari Aceh hingga Madura.
Bahkan merambah ke Sulawesi dan Maluku karena kecintaan terhadap dakwah. Di tanah Minang kita dapati mereka sudah sangat dekat menyatu dengan masyarakat, nama mereka diawali dengan sidi atau sayidi. Penggunaan bahasa Arab pun menjadi panggilan sehari-hari di rumah orang Minang seperti abuya, ummi, abi, dan lainnya.
Suku Minang dari sebelah barat Sumatera adalah suku yang memiliki semboyan “Adat barsandi syara’, syara’ (syariat) bersandi kitabullah.” Mereka punya banyak petatah petitih yang syarat dengan hikmah yang mendalam.
Seperti halnya Yaman, dari ulama ranah Minang ilmu agama berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia dengan kegemaran mereka merantau, berdagang, dan mengajar agama. Dalam sejarah sebut saja Tuanku Imam Bonjol, Buya Sutan Mansyur, Buya dan lain-lain.
Jumlah ini lebih banyak dari suku lain dilihat dari prosentasi jumlah penduduknya. Karena, ruh Islam suku Minang juga sangat nasionalis dan berperan penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Saya mengenal pepatah Minang yang sangat populer “alam takambang jadi guru (Alam terkembang menjadi guru)”, seakan menjelaskan ayat tentang Ulil Albab. “
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS: Ali Imran, Ayat 191)
Dari alamlah orang Minang banyak mendapat ilham atau inspirasi untuk menciptakan kata mutiara petatah petitih yang penuh hikmah. Yang paling terkenal tentu saja, “adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah, sarak mangato adat mamakai.” Ini dikenal mendarah daging oleh urang awak sejak usia dini.
Yang paling menarik ajaran, “bulek aia dek pambuluah bulek kato dek mufakat.” Artinya bulat air, karena pembuluh dan bulat kata karena mufakat, yang mengajarkan manusia untuk gemar bermusyawarah dalam mengambil keputusan.
Dalam Pancasila kita kata hikmah disebutkan dalam masalah kepemimpinan dengan ungkapan, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permuayawaratan perwakilan” telah tercermin dalam pepatah ini. Sungguh bahagia urang awak (Minangkabau) di perantauan bila kembali kepada jati diri mereka yang dimuliakan Allah dengan ilmu dan hikmah. (*) Editor : Novitri Selvia