Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Arti Keresahan bagi Peneliti dan Akademisi

Novitri Selvia • Kamis, 23 Januari 2025 | 10:45 WIB

Abdul Aziz, Peneliti Unand.(Jawapos)
Abdul Aziz, Peneliti Unand.(Jawapos)

PADEK.JAWAPOS.COM-DIPASTIKAN bahwa setiap orang cenderung untuk menghindari keresahan karena secara alami manusia ingin merasa nyaman, aman, dan tenteram.

Keresahan biasanya muncul karena adanya ketidakpastian, ancaman terhadap kebutuhan atau keinginan, atau perbedaan antara harapan dan kenyataan.

Oleh karena itu, banyak upaya dilakukan untuk mengelola atau mengurangi keresahan, seperti mengandalkan orang lain untuk memberikan dukungan emosional atau bahkan sampai pada menggunakan meditasi, olahraga, relatasi teknik relaksasi.

Namun, perlu diingat bahwa hal ini berbeda bagi seorang peneliti. Justru ketika seorang peneliti kehilangan rasa keresahan intelektual, kondisi inilah yang dapat membuatnya mereka merasa gelisah.

Keresahan intelektual adalah pemicu utama untuk menggali pertanyaan, mencari jawaban, dan menemukan hal-hal baru yang belum terungkap. Keresahan bisa menjadi sinyal untuk bertindak atau berpikir ulang.

Dalam beberapa situasi, keresahan dapat memotivasi seseorang untuk berkembang dan menemukan cara baru untuk mengatasi tantangan. Tanpa keresahan, proses penelitian dapat kehilangan arah dan tujuan.

Ketika seorang peneliti mulai kehilangan keresahan, ia seperti kehilangan nyala api yang menjadi pendorong langkahnya. Keresahan adalah elemen inti yang menggerakkan seorang peneliti untuk bertanya, menggali, dan menemukan hal-hal baru.

Tanpa keresahan, semangat untuk mengeksplorasi dan mengembangkan ide-ide segar bisa memudar, seperti seorang pelaut yang kehilangan arah di tengah lautan.

Ketiadaan keresahan menciptakan ruang kosong yang sulit diisi. Tanpa dorongan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendalam, seorang peneliti mungkin merasa cukup dengan apa yang sudah ada, sehingga proses berpikirnya menjadi stagnan.

Produktivitas ilmiahnya pun perlahan menurun, seiring dengan hilangnya motivasi untuk menciptakan kontribusi yang bermakna.
Lebih dari itu, seorang peneliti yang kering dengan keresahan mungkin kehilangan kepekaannya terhadap isu-isu baru yang berkembang di masyarakat.

Penelitiannya menjadi kurang relevan, tidak lagi menjawab tantangan zaman, dan akhirnya terpisah dari kebutuhan nyata dunia akademik maupun praktis. Pada akhirnya, tanpa keresahan, seorang peneliti bisa mengalami krisis identitas.

Ia mulai mempertanyakan keberadaannya dalam dunia penelitian, merasa terombang-ambing tanpa tujuan yang jelas. Oleh karena itu, keresahan yang sehat bukanlah hal yang perlu dihindari, melainkan dijaga dan dipupuk.

Keresahan adalah bahan bakar yang terus menyalakan semangat intelektual, memastikan bahwa perjalanan seorang peneliti tetap hidup, penuh makna, dan berkontribusi bagi dunia.

Keresahan seorang peneliti sering kali berakar pada urgensi suatu subjek yang menuntut perhatian. Ketika peneliti dihadapkan pada masalah nyata di masyarakat, keresahan itu muncul seperti panggilan yang tidak bisa diabaikan.

Ia mungkin melihat ketidakadilan sosial, perubahan lingkungan, atau fenomena baru yang belum sepenuhnya dipahami. Masalah-masalah ini menciptakan dorongan kuat untuk mencari solusi atau pemahaman yang lebih dalam secara ilmiah.

Di sisi lain, keresahan juga muncul dari kesenjangan dalam pengetahuan. Ketika seorang peneliti menyadari bahwa ada pertanyaan yang belum terjawab atau teori yang belum sempurna, hatinya tidak tenang.

Kesenjangan ini bagai ruang kosong yang memanggilnya untuk diisi dengan pemikiran, data, dan analisis. Ia merasa gelisah sampai menemukan cara untuk menjawab pertanyaan tersebut dan menambah kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Perubahan yang dinamis di lingkungan sosial, ekonomi, atau teknologi juga menjadi sumber keresahan. Dunia yang terus bergerak maju meninggalkan jejak-jejak baru yang perlu dipahami.

Peneliti merasakan urgensi untuk mendokumentasikan perubahan itu, mengevaluasi dampaknya, dan memberikan panduan bagi masa depan.

Lebih jauh lagi, tekanan praktis dari masyarakat dan pembuat kebijakan turut memupuk keresahan peneliti. Dorongan untuk memberikan jawaban yang dapat diterapkan secara langsung sering kali menjadi api yang menyala dalam dirinya.

Ia tahu bahwa penelitiannya tidak hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang manfaat nyata bagi kehidupan orang banyak. Jadi, keresahan bagi seorang peneliti bukanlah hal yang negative, tapi sebaliknya, ia adalah bahan bakar intelektual.

Keresahan yang lahir dari urgensi membuat peneliti terus bertanya, menggali, dan berkontribusi. Tanpa keresahan, perjalanan seorang peneliti akan kehilangan arah, seperti perahu tanpa angin. Namun dengan keresahan, ia dapat terus melangkah, memberikan makna, dan menemukan kebenaran yang selama ini dicari.

Menurut Albert Camus 1913-1960, dalam konteks absurditas (ketegangan atau konflik antara keinginan manusia untuk mencari makna), Camus melihat keresahan sebagai kondisi manusia yang menyadari ketidakterbatasan pertanyaan tetapi keterbatasan jawaban.

Peneliti, dalam pandangan ini, adalah sosok yang terus mencari makna dan jawaban meskipun tahu bahwa tidak ada kepastian mutlak.

Bagi Albert Camus, meskipun hidup tidak memberi kita makna yang pasti atau tujuan yang jelas, kita tetap dapat menerima absurditas dan menciptakan makna kita sendiri.

Bagi Camus, pemberontakan terhadap absurditas, atau dengan kata lain, menjalani hidup dengan penuh kesadaran meskipun tanpa harapan akan makna akhir, adalah jalan untuk mencapai kebebasan sejati.

Kebebasan sejati bagi seorang peneliti adalah kemampuan untuk terus menggali dan berpikir kritis tanpa terbelenggu oleh teori atau norma yang ada.

Ini berarti membuka hati dan pikiran untuk menerima pertanyaan baru, mengeksplorasi perspektif yang berbeda, dan berani mengubah pandangan berdasarkan bukti.

Peneliti yang bebas dapat berkarya dengan integritas, tanpa takut pada tekanan eksternal, dan terus mencari kebenaran meskipun menghadapi ketidakpastian.

Kebebasan ini mendorong kreativitas dan inovasi, yang sangat penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Seorang peneliti yang bebas adalah mereka yang terus bertanya, menggali, dan menciptakan penemuan baru.

Keresahan dan urgensi penelitian bagi seorang peneliti tidak hanya mendorong pencarian pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar bagi kontribusi empiris dan praktis yang dapat diperoleh. Keresahan muncul ketika peneliti menyadari adanya kesenjangan dalam pemahaman atau fenomena yang belum terpecahkan.

Urgensi untuk mengatasi ketidakpastian atau permasalahan tertentu menjadikan penelitian sebagai sebuah keharusan, bukan sekadar pilihan. Dalam proses ini, peneliti tidak hanya terfokus pada aspek teoritis, tetapi juga pada aplikasi nyata dari temuan-temuan tersebut.

Kontribusi empiris muncul melalui pengumpulan data yang relevan, analisis yang cermat, dan temuan yang dapat diuji secara objektif. Peneliti mengandalkan bukti-bukti yang terkumpul untuk memberikan wawasan baru yang dapat menambah khazanah pengetahuan di bidang yang sedang diteliti.

Temuan empiris ini kemudian menjadi dasar untuk mengembangkan teori baru, memperbaiki teori yang sudah ada, atau bahkan memvalidasi atau menggugat asumsi-asumsi lama.

Sementara itu, kontribusi praktis terwujud ketika hasil penelitian memberikan solusi langsung atau rekomendasi yang dapat diterapkan dalam konteks nyata.

Peneliti tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, dunia industri, atau kebijakan publik.

Dengan demikian, urgensi dan keresahan dalam penelitian tidak hanya menghasilkan kontribusi ilmiah yang berguna untuk pengembangan ilmu, tetapi juga memberikan dampak langsung yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah kita, sebagai mahasiswa, akademisi, tenaga pendidik, dan para doktor, masih memiliki keresahan? Jangan hanya sibuk mengisi waktu dengan hadir pada setiap jam belajar dan mengajar yang telah dirancang untuk mencari ilmu dan uang.

Tetaplah tumbuhkan, pupuk dan pelihara keresahan sebagai seorang peneliti dan ilmuan, agar kita menjadi lebih berarti bagi diri sendiri, orang lain, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Untuk itu, akreditasi pendidikan harus kita tingkatkan melalui pengelolaan keresahan yang melahirkan setumpuk hasil penelitian yang substantif, bukan hanya seonggok narasi yang hanya bermakna sesaat. (Abdul Aziz, Peneliti Universitas Andalas)

Editor : Novitri Selvia
#Keresahan #abdul aziz #peneliti #akademisi