"Tangan mancancang, bahu mamikua. Apo nan ditanam, itu nan di tua". Bencana yang datang silih berganti menimpa ranah saat ini adalah sebuah proses panjang tanpa disadari dan nyata dari perbuatan perbuatan manusia.
Tangan tangan kekar kitalah yang merusak alam. Tangan tangan kuat kitalah yang menebangi pepohonan di hutan hutan yang menjadi hulu sungai. Deru mesin Chainsaw yang meraung setiap detiklah yang memisahkan batang pohon dengan pangkalnya.
Robohnya sebatang pohon bukan sebatas terputusnya kehidupan pohon dengan pangkalnya. Tumbangnya pohon secara otomatis memutus, mematikan, mencabut dan meruntuhkan benteng alam. Ilmu dari alam telah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya merawat alam.
Sebatang pohon tidaklah tumbuh begitu saja. Sebatang pohon hadir dengan manfaat multi guna. Selain memproduksi oksigen, pohon juga berfungsi sebagai benteng kehidupan. Pohon dengan akar akar yang kuat mencukam ke bumi telah mengikat dan menjadi bendungan alam. Akar akar pohon itu tidak saja menahan air namun jauh lebih berat dan besar dari itu. Tanah dan bebatuanpun mampu diikat akarnya sehingga tidak runtuh walaupun berdiri timpang di kemiringan atau ketinggian.
Kini "tanda tangan manusia" dalam merusak alam telah terjadi. Alam murka, alam memberontak atas kezaliman yang dilakukan kepadanya. Batangnya yang terpotong, air bah yang bergelombang dan bebatuan besar yang selama ini diikat akarnya di lepas dari hulu ke hilir. Arus sungai baru terbentuk. Badan sungai lama dihulunya banyak yang ditinggalkan seolah olah membuat jalur baru. Apa saja yang menghalang dan menghadang disapunya. Tak disebut fisik dan nyawa direnggutnya.
"Tanda tangan manusia" dialam ini hanyalah dinikmati sebagian kecil orang. Sementara dampak dan resikonya merata menyapu ranah. Masihkah kita mau berdebat dan saling menyalahkan ? Bangkit dan tegakkanlah aturan dengan sepatutnya.
Hentikan Alih Fungsi Lahan
Apa yang terjadi hari ini tidaklah datang begitu saja. Kerusakan demi kerusakan eko sistem sudah berlangsung cukup lama. Kemurkaan alam ini adalah pertanda bahwa alam marah dan ingin mengembalikan ekosistemnya.
Daerah aliran sungai yang dimasa lalu milik mereka janganlah dirampas juga untuk jadi kawasan hunian atau aktivitas ekonomi. Ingat!!! Alam tidak akan pernah lupa dengan haknya. Sehebat apapun kita dan teknologi memagarnya bila sudah datang waktunya areal yang pernah dilaluinya pasti akan dilalui kembali. Bisa jadi besok, lusa, tahun depan atau beberapa tahun kedepan.
Jangan merampas alam. Masih banyak lahan dan kawasan lain yang dapat dimanfaatkan. Jangan pernah memintak alam mengerti dengan keterbatasan kita. Kitalah yang harus mengerti bagaimana siklus dan eko sitem alam. Patuhi rambu rambu alam. Daerah aliran sungai tidaklah kawasan hunia, daerah dataran tinggi dan kemiringan bukanlah pemukiman ideal. Patuhilah tambu rambu alam itu.
Teruntuk regulator, perbaharuilah Rencana Tata Ruang dan Tata Bangunan (RTRW). Tegak luruslah dengan aturan yang sudah dibuat. Jangan izinkan satu meterpun lahan dialih fungsikan. Sepanjang tak sesuai dengan peruntukan bertegas tegaslah. Jangan tunggu alam murka dan memarahi kita.
Tidak Membaca Tanda Tanda Alam
Lupakah kita dengan kawanan Harimau Sumatera yang memasuki perkampungan penduduk sebulan yang lampau?.
Kita memang manusia bebal. Kita ini insan yang tak mau belajar dengan tanda tanda alam. Filosofi, "alam takambang jadi guru" hanyalah sebatas retorika dalam sebuah forum diskusi.
Cobalah kita tarik sebulan yang lampau. Satu keluarga Harimau Sumatera masuki perkampungan warga di Palupuah, Kabupaten Agam. Harimau itu terpantau CCTV kantor BRINS di Koto Tabang, Kabupaten Agam. Koto Tabang merupakan salah satu stasium utama pemantauan cuaca yang dibuat atas bekerja sama dengan Pemerintahan Jepang.
Secara teritorial, Bukit Koto Tabang dengan Palembayan adalah dalam satu bentangan kawasan hutan walaupun bukit dan punggungannya berbeda. Kalau Bukit Koto Tabang ini di sisir terus arah ke utara maka kita akan menjumpai perkampung Palembayan di bawah lebah bukitnya. Palembayan inilah saat ini yang terdampak paling parah oleh bencana galodo dan banjir bah.
Alam selalu memberi tanda. Binatang penghuni rimba belantara yang murka juga ikut memberi tanda. Kita lah sebagai insan yang selalu bebal dan menutup akal serta logika. Turunnya Harimau ke perkampungan selalu kita terjemahkan dengan habisnya bahan makanan mereka di rimba belantara. Padahal binatang buas itu turun tak selalu soal makanan, terkadang mereka itu turun untuk membawa pesan dan tanda tanda alam. Resapi betullah filosofi "Alam Takambang Jadi Guru".
Hentikan Pelepasan kawasan
Hutan adalah benteng utama kehidupan. Pelapasan kawasan hutan sama saja kita membiarkan benteng kehidupan ini dicopot tiang tiangnya pancangnya.
Sumatera Barat adalah daerah yang dilintas oleh gugusan bukit barisan. Ranah ini memiliki banyak bukit dan gunung yang tinggi menjulang. Bukit dan gunung adalah habitannya hutan tropis yang menjaga alam.
Pelepasan kawasan hutan secara masif oleh Kementrian Kehutanan di era 2009-2014 adalah kebijakan yang keliru dan sangat bar bar. Jutaan hektar hutan dialih fungsikan. Jutaan hektar hujan dialih fungsikan hingga ke status Areal Peruntukan Lain (APL). Status APL inilah pintu masuk kerusakan eko sistem alam.
Pembukaan lahan terjadi secara masif dan bergelombang. Hutan yang dulu rimba dengan pepohonan satu persatu tumbang menjadi lahan perkebunan. Ada yang menjadi perkebunan sawit dan ada pula di tanami dengan tanaman produktif lainnya.
Hilang dan beralih fungsinya lahan telah mendekatkan kita dengan kemurkaan alam. Bukit dan rimba yang dulu rindang satu persatu terbuka bak Panau di belahan punggung. Lihatlah ke perbukitan di kawasan Lubuk Minturun hingga ke pergunungan Gadut (Pauh). Berkasat mata kita bisa melihat betapa banyaknya luka luka alam di punggung bukit. Apakah itu luka terjadi alami atau ulah tangan jahat manusia.
Satu hal yang pasti, bekas potongan kayu yang hilir ke muara bisa menjadi pertanda. Pepohonan besar yang hanyut bisa jadi pedoman. Kalau potongannya pepat dan rapi berarti pohon itu di tebangi. Sebaliknya kalau potongan serabut dan diiringi percabangan serta lapuk barulah itu tumbang secara alami. Janganlah berkilah juga pohon itu tumbamg karena alam. Lidah bisa saja bersilat kata tapi data lapangan akan selalu jujur mengungkap fakta.
193 Orang Meninggal, Ratusan Hilang
Kalau kita mau jujur, bencana kali terparah dan terbesar dampaknya. Baik kerugian materi ataupun korban jiwa.
Pasca Gempa 3 September 2009, inilah bencana terbesar dan hampir merata. Nyaris semua daerah di sasar bencana. Kota Padang yang teletak di pinggir pantai baratpun cukup banyak kawasannya luluh lantak oleh banjir bandang ini.
Korban terbanyak dan terparah tercatat di Palebayan, Kabupaten Agam. Ratusan nyawa melayang dan hektaran lahan pertanian, hunian dan persawahan serta peladangan hilang di terjang bencana.
Dari data terakhir www.dasboard.sumbarprov.go.id tercatat 16 Kabupaten dan kota terdampak bencana. 28 Kecamatan porak poranda. Penduduk yang terdampak terbilang sangat banyak. 193 orang meregang nyawa, 32 orang jenazah belum terindentifikasi, 117 orang hilang, 112 orang terluka dan 136.673 mengungsi.
Kerugian material mengagetkan kita. Tercatat 1.299 rumah rusak ringan, 453 unit rusak sedang dan 1.031 unit rusak berat dan hilang. Fasilitas sosial juga begitu. 86 unit rumah ibadah (masjid dan mushala) rusak, 13 unit fasilitas kesehatan terdampak, 16 unit perkantoran pemerintah tertimpa bencana, 110 unit sekolah dihantam bencana.
Lahan ekonomi sumber kehidupan juga tak luput. Tercatat 3.473 hektar sawah terdampak, 2.292 hektar lahan hunian, 199 hektar lahan perkebunan dan 10.438 kolam ikan yang tertimbun banjir dan longsor.
Infrastrukrur juga terbilang parah. Sebanyak 7 ruas jalan terputus dan 121 jembatan terdampak. Sebagian rusak ringan, rusak sedang dan rusak parah. Bahkan sebagian putus total dan harus dibangun ulang kembali. Diestimasi total kerugian akibat bencana periode ini mencapai Rp. 1.072.779.241.505.
Berbenahlah
Sumbar adalah etalase bencana. Apa saja bentuk bencana ada di ranah ini. Mulai dari letusan gunung api, gempa tektonik, gempa vulkanik, banjir bandang, tsunami dan sebagai bersarang ranum di perut bumi Sumatera Barat.
Setiap tahun bencana itu datang silih berganti. Tahun 2023 kita dikejutkan letusan Gunung Marapi dengan 23 orang pendaki meregang nyawa. Bulan Mei 2024 Banjir dan galodo mendera Sungai Pua, Bukik Batabuah, Kabupaten Agam dan Sungai Jambu, Kabupaten Tanah Datar.
Puluhan orang meregang nyawa. Berbulan bulan akses Padang-Bukittinggi via Lembah Anai terputus. Bahkan bekas bencana alam di bulan Mei tahun 2024 itu masih banyak yang belum tertangani. Sabo Dam yang dijanjikan sebagai solusi tak kunjung terealisasi. Kementrian PU yang punya rencana rintang dengan teknis administrasi pelaksanaan pembangunan Sabo Dam. Disisi lain, dalam hitungan menit ancaman bencana selalu datang menghadang.
Di ujung kata kegundahan ini saya berpesan. Berbenahlah. Matikan komitmen atas keputusan. Tempatilah kawasan sesuai peruntukannya. Hentikanlah aktivitas merampas dan memperkosa alam. Tegakan aturan, benahi regulasi dan hentikan alih fungsi lahan. Cukup sudah kita merusak alam. Hentikan membubuhkan "tanda tangan manusia" dengan memperkosa alam. Ingat, kalau alam murka tak satupun dari kita bisa menghadangnya. Berbenahlah!!!. (***)
Editor : Hendra Efison