Salah seorang petani di Kuranji, Marisa, 30 menyampaikan sawahnya belum dipupuk karena harga pupuk yang mahal. Padahal padi yang dia tanam sudah masuk bulan terakhir jelang panen.
“Harusnya di bulan pertama sudah dipupuk pertama kali, lalu akan di pupuk lagi di bulan ketiga. Ini sudah masuk bulan ketiga, tapi belum dipupuk sama sekali,” jelas Marisa pada Padang Ekspres, Selasa (8/11).
Marisa biasanya mencampur Urea dengan NPK untuk padinya. Dia membeli Urea Rp 130 ribuan per karungnya serta NPK Rp 10 ribu per kilogram. Dalam satu kali tanam padi, 25 kilogram atau setengah karung Urea akan dicampur dengan 10 kilogram NPK.
Begitupun untuk pemupukan kedua. “Kalau dihitung-hitung, anggap saja saya menghabiskan sekitar Rp 300 ribu untuk pupuk sekali tanam, belum lagi untuk racun hama berkisar Rp 100 ribu,” tambah dia.
Belum lagi Marisa harus mengupah orang untuk penanaman dan pembajakan sawahnya. Bila ditotalkan akan menghabiskan dana sekitar Rp 600 ribu.
“Total modalnya kira-kira Rp 1 juta. Sedangkan satu kali panen, rata-rata hanya mendapatkan 14 karung padi. Itupun kalau sedang banyak. Beberapa waktu lalu hanya mendapatkan 7 karung saja saat panen,” akunya.
Panen sebelum ini, Marisa mengaku hanya mendapatkan 7 karung. Setengah dari target 14 karung itupun tidak semuanya bisa dijual karena beberapa karung diberikan kepada pemilik sawah.
Dia menjual padinya sekitar Rp 340 ribu per karung. Panen lalu hanya 2 karung saja. Jadi hanya mendapatkan Rp 680 ribu, sekitar 68 persen dari modal yang dikeluarkan. “Makanya kali ini tidak bisa memupuk, karena belum bisa membeli pupuk dari hasil panen kemarin,” ungkapnya.
Marisa mengaku belum masuk dalam kelompok tani di daerahnya. Katanya, tak terdata sebagai petani. Padahal jika masuk dalam kelompok tani, bisa mendapatkan subsidi pupuk. Dia mengaku mendapatkan pupuk dengan harga subsidi karena ditolong saudara.
Petani lain Iwan, 40 juga mengatakan belum membeli lagi pupuk sejak enam bulan lalu. Dia memanfaatkan pupuk pada penanaman sebelumnya yang masih tersisa. “Beberapa bulan lalu harga urea hanya sekitar Rp 80-90 ribu saja. Sekarang sudah hampir Rp 130 ribu. Tidak ada jalan lain, mau tidak mau kita harus hemat pupuk,” katanya.
Iwan ingin beralih ke pupuk organik melihat tingginya harga pupuk saat ini. Hanya saja untuk mendapatkan pupuk organik, diperlukan juga ternak. “Yang bagus itu kompos dari kambing. Namun susah juga mendapatkannya,” keluh Iwan.
Dia juga menyiasati sawahnya dengan mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari penanaman, pembajakan hingga saat panen tiba. Jika tidak, tentu tak mendapatkan untung.
Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Syahrial Kamat mengatakan petani seharusnya sudah terdaftar di kelompok tani masing-masing wilayah karena banyak keuntungan yang akan didapatkan.
“Salah satunya pasti mendapatkan harga pupuk subsidi karena selisihnya sangat jauh. Dari satu karungnya Rp 130 ribu sedangkan nonsubsidi bisa mencapai Rp 500 ribu,” jelasnya. Selain itu, jika masuk ke dalam kelompok tani, keuntungan lain untuk meringankan beban petani bisa mendapatkan bantuan dari dana pokir, APBD maupun APBN.
“Jadi seharusnya mendaftarkan diri menjadi anggota kelompok tani agar bisa mendapatkan tak hanya dana tambahan tapi juga informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan petani,” ujar dia.
Syahrial menyebutkan saat ini, pupuk subsidi memang terbatas, hanya 1.000 ton tahun ini. Namun tahun depan ada 4.500 ton pupuk subsidi untuk petani Kota Padang. (cr7/mg1) Editor : Novitri Selvia