Sabtu itu, senja mulai datang. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Sukarti duduk termenung di beranda rumahnya yang menghadap ke laut lepas sambil memperhatikan tingkah burung-burung itu. Hari itu ayah dan ibunya berjanji untuk mengajaknya ke luar rumah. Tapi sampai matahari terbenam kedua orangtuanya belum juga datang.
Karti begitulah kawan-kawan memanggilnya. Ia sebenarnya gadis yang periang dan juga pintar. Tapi sayang tidak dibarengi dengan pertumbuhan jiwa yang matang. Ia begitu rindu kasih sayang orangtua.
Ayahnya dan ibunya seorang manager di perusahaan yang berbeda. Pekerjaannya super sibuk bahkan sering ke luar kota. Sehingga tidak mempunyai waktu untuk bersama anaknya. Meskipun ada pembantu namun tidak cukup mengisi relung-relung hatinya yang butuh kasih sayang seorang ibu. Tak jarang pula, ia tertidur sendiri di depan TV dan masih memakai seragam sekolah.
Karti mempunyai teman Najwa (bukan nama sebenarnya). Ia berteman semenjak SD. ibu Karti sering menitip Karti di rumahnya. Rumah Najwa hanya berbeda gang saja di kompleks mereka tinggal. Ibu Najwa hanya seorang ibu rumah tangga, bapaknya seorang guru SMP di Kota Padang ini. Namun kehidupannya terasa lebih indah dari keluarga Karti.
Tiap pagi Karti menjemput Najwa untuk sekolah bareng. Setiap pagi pula ia melihat kasih sayang dan belaian seorang ibu Najwa. Mulai dari menyiapkan makanan, baju, sampai kaos sepatu. “Kapan ya saya seperti ini,” ujarnya membatin.
Suatu hari Karti demam, matanya merah, badannya menggigil. Dalam keadaan demam itu, ia datang ke rumah Najwa. “Assalamu’alaikum!” kata Karti di depan rumah Najwa. “Wa’alaikum salam, ayo masuk.” Jawab mama Najwa.
Karti pun masuk dan mengajak ke kamar Najwa. Saat itulah Karti merasakan belaian seorang ibu yang penuh kasih sayang. Ia menyuruh Karti berbaring, kemudian mengusap punggung Karti dengan balsem. “Seandainya ia ibuku, betapa senangnya dan bahagianya,” ujar Karti sambil tengkurap dan meneteskan air mata.
“Ini sepertinya masuk angin, ntar juga sehat,” ujar mama Najwa sambil mengusap kepala Karti dan mengatakan istirahatlah, ibu memasak dulu.
Sorenya, badan Karti sudah terasa segar, setelah menyantap masakan ibu Najwa. Ia kembali ke rumahnya. Waktu itu Ayah dan Ibu belum juga pulang. Di atas sofa ia tertidur sampai pagi. Kebetulan waktu itu hari Minggu. Saat Karti bangun ibu sudah sibuk dengan handphone di tangannya.
Ayah belum pulang. Kemungkinan ia pulang dengan pesawat siang. Biasanya ia sampai di rumah sekitar pukul 15.00. Tak lama berselang. Ibu menghampiri ku. “Karti dua hari lagi, kamu ulang tahun, kamu mau dibelian apa, nak? ujarnya.
Karti menangis, ia memeluk ibunya erat-erat. “Bu, aku tak ingin membeli apa-apa dihari ulang tahun nanti. Karena uang yang ibu berikan selama ini lebih dari cukup. Karti tidak merasa kekurangan. Namun Karti ingin perhatian dan kasih sayang ibu sebagaimana anak-anak yang lain,itu saja bu,” jawab Karti sambil menangis.
Waktu itu, Ibunya juga menangis, dan berpelukan. Saat berpelukan, ayah datang. Ia melihat kami berpelukan sambil menangis terisak-isak. Waktu itu ayah diam saja, tapi ternyata ia menahan tangis. Ia mendekati kami. Lalu bertanya ada apa? Lalu ibu menjawab Karti tidak mau ditinggal lagi, ia ingin dekat dengan kita, ia tidak butuh uang banyak seperti yang kita lakukan selama ini. “Ia hanya ingin kasih sayang,” jelasnya.
Baca Juga: 2 Pelaku Ditangkap, 6 Paket dan 4 Empat Tanaman Ganja Diamankan
Air mata ayah yang ditahan itu akhirnya jatuh juga. Ia membuka kaca matanya yang minus itu. “Hari ini baru ayah mengerti, kebahagiaan keluarga itu tidak bisa diukur dengan uang. Ayah selama ini bekerja keras untuk kalian semua, agar kalian bahagia.
Tapi ternyata itu hanya fatamorgana saja, yang tidak mungkin terwujud tanpa kasih sayang. Ayah memeluk kami. “Maafkan ayah, ternyata selama ini ayah salah, dengan memenuhi semua kebutuhan kalian, ayah kira kalian sudah bahagia,” ujarnya menangis sambil memeluk kami.
Besoknya, ibu langsung mengundurkan diri dari tempat ia bekerja. Sementara ayah tetap bekerja. Dengan gaji ayah yang sekarang ekonomi keluarga kami sudah lebih dari cukup. Setelah itu, hari-hari bahagia yang penuh warna itu, ada pada keluarga kami. Mudah-mudahan ini bisa sampai akhir hayat. “Terima kasih ya, Allah SWT atas semua petunjuk yang engkau berikan,” ujar Karti sambil memeluk ibu erat-erat. (juf)
Editor : Adetio Purtama