Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang mencatat, total sampah pascabencana mencapai sekitar 3.327 ton.
Angka ini terdiri dari backlog sampah lima hari, sampah spesifik bencana dari permukiman terdampak, serta kayu gelondongan dalam jumlah besar yang terbawa dari hulu sungai.
Backlog yang menumpuk selama lima hari dihitung mencapai 1.237 ton, akibat layanan yang hanya beroperasi 60 persen selama masa darurat. Sementara itu, sampah spesifik permukiman di area terdampak 25 persen ditaksir sebesar 990 ton.
Komponen terbesar berasal dari hamparan kayu hulu sungai yang memenuhi kawasan pantai sepanjang 3,6 kilometer.
Berdasarkan estimasi volume dan densitas kayu basah, total material ini mencapai 1.100 ton. Kepala DLH Padang Fadelan Fitra Masta mengatakan meski volumenya sangat besar, pihaknya menegaskan tidak semua material akan diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Sejak hari pertama pemulihan, petugas Layanan Pengangkutan Sampah (LPS) dan pengelola Bank Sampah sudah menerapkan pemilahan langsung di lapangan.
Sebagian material yang masih bernilai guna dipisahkan dan dimanfaatkan kembali melalui pendekatan 3R (reduce, reuse, recycle).
“Masyarakat di kawasan pesisir secara aktif memungut dan memanfaatkan kayu tersebut, termasuk pelaku usaha kecil yang menggunakannya sebagai bahan bakar untuk kebutuhan produksi,” ujar Fadelan, kemarin.
Ia menambahkan, pihaknya mendorong agar sampah kayu tidak seluruhnya berakhir di TPA. “Kami berupaya agar tidak semua sampah kayu ini masuk ke TPA. Selain dimanfaatkan oleh masyarakat, sebagian besar akan kami salurkan ke PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif,” jelasnya.
Menurut Fadelan, langkah ini diambil untuk memastikan penanganan sampah pasca bencana tidak hanya cepat, tetapi juga efisien dan berwawasan lingkungan.
Dengan optimalisasi pemanfaatan ulang material, DLH meyakini target penuntasan dalam sembilan hari dapat dicapai.
Saat ini mobilisasi armada pengangkut terus ditingkatkan. DLH juga menerapkan pembagian zona penanganan di wilayah terdampak, sehingga proses pembersihan berjalan lebih terstruktur, terukur, dan tepat waktu.
“Seluruh upaya ini kami lakukan agar pemulihan Kota Padang berlangsung cepat, namun tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sampah,” tutup Fadelan. (eri)
Editor : Adetio Purtama