Hingga Jumat (13/2/2026), para pedagang masih terpaksa berjualan di trotoar jalan setelah diminta pindah 1,5 tahun lalu demi penilaian masjid terbersih tingkat nasional.
Herman (57), salah satu pedagang, mengaku nasibnya kini terkatung-katung tanpa kepastian. Padahal, saat diminta mengosongkan area parkir, pihak berwenang menjanjikan mereka boleh kembali berdagang setelah penilaian selesai. Namun, janji tersebut hingga kini belum terealisasi.
"Dulu kami diminta keluar sementara supaya masjid terlihat bersih saat penilaian. Katanya setelah selesai boleh masuk lagi, tapi sampai sekarang kami tetap di luar dan tidak ada kepastian," ujar Herman saat ditemui di sela-sela kegiatannya, Jumat (13/2/2026).
Kondisi ini berdampak fatal pada ekonomi pedagang. Herman menyebut omzetnya anjlok hingga 75 persen karena pembeli yang mayoritas wisatawan enggan keluar pagar masjid.
Jika dulu ia bisa meraup Rp500.000 per hari, kini ia kesulitan mendapatkan pembeli, bahkan sering harus kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP.
"Jujur kami tidak nyaman di luar. Selain sepi pembeli, kami juga sering ditertibkan Satpol PP. Padahal kami hanya ingin mencari makan dengan cara yang halal," keluhnya lirih.
Tekanan ekonomi ini bahkan memicu dampak sosial yang berat. Herman menceritakan ada rekan sejawatnya yang terpaksa pulang kampung hingga mengalami perceraian karena pendapatan yang tidak mencukupi. Ia sendiri kini kesulitan membiayai sekolah anaknya akibat tunggakan SPP.
Mewakili rekan-rekannya yang mayoritas adalah janda dan tulang punggung keluarga, Herman berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan pengelola masjid memberikan solusi nyata.
Mereka menyatakan kesediaan untuk ditata rapi dan menjaga kebersihan asalkan diizinkan kembali masuk ke area masjid.
"Kami hanya ingin bertahan hidup. Kami bersedia ditata dengan rapi, diatur tempatnya, dan menjaga kebersihan supaya tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. Kami mohon, dengarkanlah aspirasi kami ini," pungkas Herman. (cr3)
Editor : Hendra Efison