
Gemuruh air memecah sunyi di kaki Sarasah Bunta. Percikannya berhamburan di antara dinding-dinding batu yang menjulang tinggi, seolah menjadi tirai alam yang tak pernah usai dipentaskan. Hampir seabad lalu, di tempat yang sama, seorang pejabat Belanda berdiri terpaku memandangi bentang alam yang tersaji di hadapannya. J.H.G. Boissevain, namanya.
Laporan : Jufri Jao
Konon, ketika pandangannya menyusuri tebing-tebing raksasa yang mengurung lembah hijau itu, ia berucap pelan, “Dit is een hemel (ini adalah surga) , “ ujarnya sambil bertolak pinggang dan barangkali cerutu yang masih terselip di sudut bibirnya.
Entah benar atau tidak kalimat itu pernah terucap, sebab kisah tersebut lebih banyak hidup dalam tradisi lisan masyarakat daripada catatan resmi kolonial. Namun cerita itu terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dari sanalah muncul sebutan Hemel Arau atau Surga Harau, sebuah ungkapan yang mencoba menerjemahkan kekaguman manusia di hadapan karya Sang Kuasa yang luar biasa.
Kekaguman itu pula yang diyakini melahirkan sebuah penanda sejarah. Pada 14 Agustus 1926, sebuah prasasti didirikan di kaki Sarasah Bunta. Batu bertulis itu masih berdiri hingga hari ini, menjadi saksi bisu ketika Lembah Harau mulai diperkenalkan sebagai destinasi wisata alam pada masa Hindia Belanda. Artinya Jauh sebelum nama Lembah Harau menghiasi brosur-brosur wisata dan media sosial, J.H.G. Boissevain telah lebih dahulu membawa kisah tentang lembah batu yang memukau itu ke tanah Belanda. Dari mulut ke mulut, dari catatan ke catatan, bukan mustahil pesona Harau juga menyeberangi lautan dan dikenal hingga ke daratan Eropa.
Prasasti tersebut bukan sekadar peninggalan kolonial. Ia adalah penanda sebuah zaman ketika keindahan alam Nusantara mulai dipromosikan sebagai ruang rekreasi. Namun Harau tak membutuhkan prasasti untuk membuktikan pesonanya.
Lembah yang berada di Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota itu telah lebih dahulu menulis kisahnya sendiri melalui tebing-tebing granit yang menjulang antara 100 hingga 500 meter. Dari dasar lembah, dinding batu itu tampak seperti benteng raksasa yang mengawal hamparan sawah hijau dan aliran sungai yang tenang. Warna batuannya yang beragam, dari keabu-abuan hingga kemerahan, menciptakan panorama yang berbeda setiap kali matahari bergeser.
Di sela-sela tebing itulah air turun dari ketinggian. Sarasah Bunta menjadi yang paling dikenal. Air terjun setinggi sekitar 180 meter itu mengalir tanpa henti dari dataran tinggi, memecah batu-batu tua yang telah berjuta tahun berdiri. Ketika cahaya matahari menyentuh butiran airnya, pelangi tipis kerap muncul sejenak sebelum kembali menghilang bersama embun.
Selain Sarasah Bunta, terdapat pula Sarasah Murai yang dikenal karena kicauan burung murai yang dahulu sering terdengar di sekitarnya. Ada Sarasah Akar Berayun yang mudah dijangkau wisatawan, hingga Sarasah Aie Luluih yang tersembunyi di balik rimbun pepohonan. Setiap air terjun memiliki cerita dan karakternya masing-masing, namun semuanya bermuara pada satu kesan yang sama menakjubkan.
Harau juga menjadi surga bagi para petualang. Tebing-tebing curamnya yang nyaris tegak lurus telah lama menarik perhatian para pemanjat dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Ratusan jalur panjat tersebar di kawasan ini, menjadikan Harau salah satu arena panjat tebing alam terbaik di Indonesia. Tak sedikit yang kemudian menjulukinya sebagai Yosemite-nya Indonesia.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




