Tambak Menjamur, Nyiur Kini Tidak Melambai di Pantai

16
Mhd Nazir Fahmi Wartawan Utama

NYIUR hijau di tepi pantai. Siar-siur daunnya melambai. Padi mengembang kuning merayu. Burung-burung bernyanyi gembira. Masih ingat bait lagu ini? Kalau lupa, kita ingatkan. Judulnya ”Nyiur Hijau”.

Ciptaan Maladi. Salah satu lagu wajib nasional. Satu lagi lagu wajib nasional yang mengandung kata nyiur adalah ”Rayuan Pulau Kelapa” karya Ismail Marzuki. Nyiur adalah tanaman khas Indonesia. Sering disebut kelapa. Banyak di tepi pantai.

Tapi kalau tidak cepat antisipasi, nyiur tidak akan lagi hijau di tepi pantai. Siar-siur daunnya, juga tidak lagi melambai. Karena apa? Kini, sawah dan kebun kelapa banyak digarap jadi tambak udang. Kicauan burung kini berganti cipratan dari kincir air.

Banyak pantai di Sumatera Barat akan terancam hilang dan keindahan alam itu akan pudar.
Mau bukti? Jalan-jalanlah ke Pariaman atau Tiku. Kalau kita dari Padang ke Pariaman mengambil jalan pintas melalui tepi laut, pemandangan tambak udang akan terlihat jelas.

Sambung menyambung menjadi satu. Kiri kanan jalan, sudah ada tambak. Begitu juga dari Sungailimau hingga ke Tiku, tepi laut sudah dihiasi usaha tambak-tambak udang.
Kebun kelapa yang sebelumnya tertata rapi, kini dihabisi.

Ditumbang dengan alat berat. Rawa-rawa yang ditumbuhi pandan laut, akasia, mangrove atau jenis tumbuhan tepi laut, kini sudah habis. Satu sisi, nilai ekonomis tambak udang cukup menggiurkan. Ekonomi bergerak dan bertumbuh. Sisi lain, ekosistem punah ranah.

Sudah banyak kasus dampak negatif tambak udang ini di beberapa daerah di Indonesia. Yang terdekat adalah Sumatera Selatan. Ratusan ribu hutan mangrove luluhlantak. Rusak, gara-gara pembukaan tambak udang yang tidak terkendali.

Dan kalau tidak cepat tindakan pencegahan, Sumatera Barat juga akan mengalami hal serupa. Tambak udang terus merajalela. Entah ada izin atau main buat saja tanpa ada kajian lingkungan. Banyak tambak udang yang dibangun mengabaikan lingkungan. Banyak tanaman barrier yang rusak berat akibat alih fungsi tersebut.

Kemudian berkurangnya populasi tanaman perindang di lokasi kegiatan tambak udang, fungsi tanaman sebagai wind barrier (penahan angin) menjadi menipis. Siap-siap dengan badai yang lebih kuat ke daratan. Sebelumnya, banyak nyiur yang menepis sebelum angin sampai ke darat.

Dari beberapa penelitian, dampak yang timbul akibat degradasi ekosistem terutama mangrove adalah terjadinya erosi garis pantai dan sempadan sungai, sedimentasi, pencemaran, berkurangnya fungsi ekologi dan secara langsung akan mempengaruhi fungsi ekonomi dengan berkurangnya jumlah tangkapan nelayan; serta terjadinya intrusi air laut.

Mencegah, lebih baik dari mengobati. Mudah-mudahan dengan membaca tulisan ini pihak berkompeten bisa terbangun. Bangun untuk mengatur lagi sistem pembangunan tambak udang ini. Belajarlah dari kesalahan sebelumnya.

Ketika nilai ekonomis keramba jala apung tinggi, permukaan Danau Maninjau jadi sesak. Ketika abai dengan ekosistem, kini jadi masalah berkepanjangan. Pencemaran. Ikan mati. Air danau rusak. Susah memperbaikinya. Rumit. (*)