Durian memang ada musimnya, namun di Pariaman olahan durian dalam bentuk kebab bisa dinikmati setiap saat. Kebab durian, camilan unik ini cukup favorit saat ini. Apalagi isian durian dalam kebab memang full durian tanpa ada campuran.
Sajian kebab durian ini bisa ditemui di Cafe Soup yang beralamat di Pasir Pauh Pariaman. Cafe yang memang menjadikan sup daging sebagai menu utama ini selama dua tahun terakhir menyajikan kebab durian sebagai camilan.
“Pecinta durian kan banyak ya, nah disitulah saya terinspirasi tetap bisa menyajikan durian kepada konsumen meskipun tidak sedang musim durian. Iseng-iseng coba buat kebab yang isinya durian ternyata respons konsumen positif, banyak yang ketagihan,” ujar Owner Cafe Soup Adek Oswandi kepada Padang Ekspres di cafenya, kemarin (16/1).
Maka sejak dua tahun terakhir, Adek pun mulai menghadirkan kebab durian di daftar menu cafenya. Konsumen bisa menikmati kebab durian dengan harga Rp 13 ribu per batangnya. Kebab ini kemudian banyak dinikmati konsumen dengan kopi bakar yang gulanya dibuat terpisah.
Rasa manis dari durian berpadu dengan kulit kebab yang digoreng krispi memang menyajikan sensasi berbeda ketika menyicipinya. Apalagi jika dicocol ke kopi bakar yang ada rasa pahit-pahitnya, lengkap sudah sensasi rasanya.
Tak ayal kebab ini kemudian menjadi camilan favorit bagi konsumen. Sedikitnya Adek bisa menjual 20 hingga 50 potong kebab durian setiap harinya. Bahkan bisa lebih jika saat musim liburan.
Adek menyebut, memang tak menambahkan perasa atau pemanis apapun pada durian isian kebab tersebut sehingga memang durian yang ada didalam kebab rasanya original. Sebelum disajikan kebab durian digoreng dengan margarin sehingga disajikan dalam keadaan hangat.
Bagaimana dengan bahan baku durian apakah Adek kesulitan mendapatkannya? Adek menyebut hingga saat ini ia tak kesulitan untuk mendapatkan bahan baku durian, meski Kota Pariaman sendiri tak memiliki durian. Adek sudah menjalin kerja sama dengan teman yang selalu siap memberikan pasokan durian.
Tak hanya durian malalak dan kayutanam Padangpariaman dan Pesisir Selatan namun juga berasal dari Medan dan Pekanbaru. Minimal ia memasok durian tersebut setiap dua minggu, setelah dibuka dan diambil daging buah durian kemudian dikemas dalam wadah dan dibekukan didalam lemari pendingin.
Ke depan Adek juga berencana membuat penganan durian dalam bentuk camilan lainnya karena memang durian tidak hanya dagingnya yang manis, omzetnya juga manis. Karena selalu dicari kapanpun oleh konsumen. (nia)