Sensasi Terbang di Ketinggian 1.400 Mdpl, Wisata Dirgantara Solsel

8
Salah seorang atlet paralayang tengah terbang dengan pemandangan hijau dan aliran sungai.

Pemkab Solok Selatan tengah menggarap potensi pariwisata. Selain pada objek, pemkab juga menggarap olahraga yang dapat mendukung pariwisata. Salah satunya olahraga yang masuk dalam kategori Aero Sport. Seperti apa ?

Diawali dengan ketinggian 25 meter hingga batas ekstrem 1.400 mdpl, satu persatu putra daerah Kabupaten Solok Selatan merasakan terbang mengudara melalui olahraga paralayang. Mereka menguji keberanian dan adrenalin para calon atlet di venue bertaraf Internasional seperti di Puncak Bukit Tito, Nagari Alam Pauhduo, Kecamatan Pauhduo, Solok Selatan.

Uji coba terbang perdana dilakukan di ketinggian 25 meter di Bukit Manggiu, Nagari Lubukgadang Utara, Kecamatan Sangir di tahun 2019. Bahkan olahraga ini sudah masuk program sekolah, khusunya SMAN 6 Solok Selatan. Satu-satunya sekolah setingkat SLTA di Indonesia yang memiliki ekstrakurikuler paralayang, sebagai bentuk inovasi dalam menciptakan atlet aero spot bagi putra putri saerah.

“Hasil inventarisir, Solsel punya lokasi lebih bagus karena berada diatas 1.000 mdpl. Bahkan dinilai Pordirga Gantole dan Paralayang Indonesia (PGPI) venue Aero Sport disini (Solsel,red) bertaraf internasional selevel Asia Tenggara,” ungkap Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Solok Selatan, Syamsuria, Rabu (30/6).


Seperti arena Puncak Tito di Pauhduo dengan ketinggian 1.400 mdpl. Tanah milik masyarakat dan pemiliknya bersedia menghibahkan untuk kegiatan FASI Solsel sebanyak yang dibutuhkan. Dinilai bertaraf Internasional, arena terbaik di Provinsi Sumatera Barat. Tanah ini tanpa ganti rugi, hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap putra putri daerah mengembangkan bakat dan minatnya dalam olahraga paralayang.

Akses jalan ke lokasi dibuka sendiri oleh pemilik lahan, lebar jalan 6 meter. Setelah dua kali dilakukan uji coba penerbangan calon atlet yang dibina oleh SMAN 6 Solsel, bisa top lending. Venue yang dikelilingi komoditi kopi arabika itu, berjarak sekitar 20 kilometer dari Padangaro, pusat Kabupaten Solok Selatan.

Pemandangannya yang begitu indah dan mempesona dari ketinggian, bisa jadi objek wisata dirgantara dan agrowisata serta tempat persinggahan. Rasa takut para calon atlet aero sport akan hilang denga hadirnya sensasi pemandangan yang menakjubkan di ketinggian diatas 1.400 mdpl itu,” ujarnya.

Venue lainnya puncak senyap di Camintoran. Puncak Senyap ini memiliki ketinggian 1.360 mdpl berlokasi di Camintoran, Golden Arm, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir. Berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat Solsel atau sekitar 1 kilometer dari Kantor DPRD Solsel dan Mako Polres Solsel.

Menurut pengurus FASI ini, sudah dilakukan uji coba penerbangan 3 kali, kondisinya sama dengan Puncak Tito. Top landing, dan mendarat di lokasi Makam Pahlawan di Goldenarm. Kemudian Puncak Alau, dengan ketinggian 612 mdpl, dimanfaatkan untuk Lantihan Ketepatan Mendarat (LKM), atau latihan biasa. “Di lokasi latihan ini take off 420 meter, ketinggian landing 400 meter,” bebernya.

Baca Juga:  Keindahan Danau Talang di Solok, Alam nan Asri di Lereng Gunung

Camintoran bisa dilakukan bermacam-macam kegiatan latihan ground, cara mengembangkan parasut. Bisa terbang jauh mengelilingi Solsel top landing.
Kendala yang dihadapi adalah peralatan, SMAN 6 Solsel hanya punya parasut 4 unit dan 3 unit yang layak terbang dan 1 untuk groud. Komite Nasional Indonesi (Koni) Solsel akan berupaya membantunya melalui aspirasi anggota DPRD Sumatera Barat. Awalnya tempat terbang tidak terdeteksi, materi berupa teori diberikan ke siswa di sekolah SMAN 6 itu.

Target FASI Solsel tahun 2020, telah mengikuti iven Kasau Cup di Tanahdatar, hadirkan 7 atlet seluruhnya putra putri Solsel. Namun hasil belum memuaskan, kelemahan parasut. Parasut 3, memakai 7 orang.

Sebagusnya parasut dimiliki masing-masing atlet Aero Sport, agar pengguna parasut memiliki karakter sejiwa dengan parasut. Tahun 2021, Troi di seluruh Indonesia ada 8 tempat atau di 8 provinsi.“Di tahun 2022, Solsel usulkan tuan rumah troi, iven nasional pembukaan daerah baru Paralayang. Bisa saja Puncak Tito,” terangnya.

Harapan ke depan, FASI Solsel berusaha memperkenalkan wilayah Solsel dari udara dan akan memadukan olahraga dirgantara dengan pariwisata, agro wisata atau wisata daerah pertanian dan perkebunan dan wisata alam. Beranikan diri taklukan rasa takut melalui olahraga udara yang ekstrem itu menyemangati paralayang pemula.

“Waswas pasti ada, ketika akan terbang bebas, ternyata sensasi keindahan alam dilihat dari ketinggian melumpuhkan rasa takut,” ujar Diko Adriano siswa SMAN 6 Solok Selatan.

Tekad siswa SMAN 6 Solok Selatan menguasai teknik terbang mengudara melalui olahraga paralayang sudah mulai terwujud sesuai harapan pemerintah daerah. Dengan modal teknik dasar dipelajari di halaman sekolah di sore harinya, yang didapat dari instruktur cabang paralayang. sehingga mereka lanjut Diko, sudah mulai terbang mengudara beberapa kali di sejumlah tempat yang berada di lereng bukit dan dataran tinggi di Solsel.

Selain ajang pencarian bakat kegiatan ekrakurikuler (ekskul) di sekolah, juga merupakan langkah awal untuk mewujudkan atlet paralayang perdana bagi putra putri daerah Solok Selatan. Pihak sekolah pun melakukan seleksi siswa yang berbakat untuk tampil berani dalam berolahraga yang mengudara itu. “Awalnya latihan sempat grogi, takut kalau jatuh dari ketinggian. Namun sekarang sudah mulai terbiasa dengan tantangan yang ekstrem ini,” tuturnya. (*)