26 Hotel di Sumbar Tutup, 2.500 Pekerja Dirumahkan akibat Pandemi Covid-19

Pandemi virus korona (Covid-19) sudah berdampak terhadap tingkat hunian dan tenaga kerja hotel di Sumbar. Jika tidak segera diberikan stimulus oleh pemerintah, maka kondisinya bakal semakin parah karena tidak diketahui sampai kapan wabah Covid-19 akan berakhir.

Hingga Selasa (7/4) saja, dari data yang dihimpun Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar, tercatat sebanyak 26 dari 80 hotel di ranah Minang sudah tutup. Dari 80 hotel tersebut, sebanyak 2.500 tenaga kerja yang telah dirumahkan dengan sistem dibayar gaji setengah dan tanpa gaji.

Hotel yang tutup tersebut sebagian besar berada di Kota Padang, selebihnya di daerah yang memiliki destinasi wisata terkemuka di Sumbar seperti di Kota Bukittinggi,  Kabupaten Tanahdatar dan Kepulauan Mentawai.

“Dalam kondisi pandemi saat ini, semua member PHRI di Sumbar menghindari terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Saat ini yang kami lakukan adalah membuat kesepakatan dengan pekerja. Mereka dirumahkan dulu sementara,” ungkap Ketua PHRI Sumbar Maulana Yusran saat wawancara telekonferensi dengan media di kanal IJTI Sumbar, Selasa (7/4).

Menurut pria yang akrab disapa Alan ini, pihak hotel yang sudah menutup usahanya tersebut mengalami penurunan tajam okupansi (tingkat hunian) karena perjalanan wisata dan iven-iven yang sudah diagendakan sebelumnya semua terganggu oleh pandemi Covid-19.

“Ada yang okupansinya mencapai 10 persen. Jika mereka tetap buka, tidak akan sanggup menanggung beban operasional yang sangat besar. Sehingga diambil kebijakan untuk tutup sementara,” jelas Alan.

Menurutnya, kalau kondisi masih seperti ini dalam batas maksimal bulan Mei, apalagi tanpa ada bantuan dari pemerintah, bisa saja semua hotel dan restoran akan tutup. Tenaga kerja yang dirumahkan bertambah besar. Pasalnya jika buka pun hanya membayar biaya operasional tanpa ada pemasukan yang cukup.

“Pemerintah harusnya mencari jalan keluar. Karena kalau tutup kasihan karyawannya. Sebab, perusahaan itu tidak kuat lama-lama dalam kondisi saat ini,” ujar Alan.

Sementara itu Pakar Pariwisata dari Universitas Andalas Padang Sari Lenggogeni menyebutkan, kondisi pandemi global saat ini sangat mengganggu sektor pariwisata tidak hanya di Sumbar, tapi di seluruh dunia.

“Kondisi saat ini sangat buruk sekali dampaknya terhadap sektor pariwisata. Bahkan, lebih buruk dari dampak peristiwa Bom Bali lalu yang butuh recovery dalam waktu sekitar sembilan bulan. Diperkirakan pandemi Covid-19 sekarang sama dengan tujuh tahun kita kehilangan pekerjaan. Recovery-nya bakal lama. Apalagi sekarang vaksinnya belum ditemukan,” jelas Sari.

Pemerintah harus mengambil kebijakan cepat dari sekarang untuk membantu usaha-usaha dan pekerja yang bergerak di sektor pariwisata. Misalnya dalam bentuk stimulus pajak, relaksasi kredit bagi hotel serta jaminan sosial bagi para pekerjanya.

“Pandemi ini bukan siklus sehingga tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir. Saya memperkirakan sampai Juni mendatang dan masa libur sekolah, kondisi ini belum akan berakhir. Jadi, harus ada upaya cepat pemerintah membantu usaha di sektor ini. Apalagi selama ini sektor ini juga banyak membantu pemerintah dari pajak, devisa dan lainnya,” jelas Direktur Pusat Pengembangan Pariwisata Unand ini.(esg)