Denyut Pariwisata di Tepian Danau Maninjau

Seorang pengunjung atau tamu mengabadikan momen di salah satu sudut the lakeside Hotel Maninjau Indah. (IST)

Popularitas Danau Maninjau boleh saja meredup dempak pencemaran atau sekarat imbas pandemi Covid-19. Namun, destinasi ikonik kebanggaan rang Agam ini tetap dipercaya jadi tumpuan investasi bisnis pariwisata oleh pemilik homestay dan penginapan yang menjalar di tepian danau legendaris itu.

Riak ombak danau sayup-sayup menepi dipuput sang bayu. Alunan seruling menggelinding di telinga tatkala mentari tersipu malu membawa teriknya pulang ke peraduan. Sambil duduk bersila di Palanta Abo, Neri Sutan Tanah Liyaih dari Sanggar Talam Sarumpun memainkan instrumen musik Minang. Di permukaan danau, kicau burung bangau begitu hangat menyapa. Bertengger melepas penat di jejeran keramba jaring apung (KJA) menunggu waktu pulang ke sarang.

Sore itu, Jumat (5/2), kemilau keindahan Danau Maninjau masih terpancar meneduhkan hati. Sang danau yang konon sedang tak sehat seolah memalingkan kesedihannya. Dari salah satu sudut hunian Hotel Maninjau Indah, owner sekaligus penggagas Palanta Abo, Poppy Mailani Rajo Bintang mulai menumpahkan asa. Sekeping harap yang ia tumpangkan ke dalam nama besar Danau Maninjau tidak pernah padam saat ini.

Setiap kepahitan yang dialami Danau Maninjau dari waktu ke waktu, diakuinya, cukup memukul pelaku usaha perhotelan dan homestay di tepian danau. Namun, kondisi demikian tak sekali pun menyurutkan langkah investasi bisnis pariwisata yang digeluti. Pencemaran lingkungan danau hingga badai virus korona menjadi sederet ujian yang harus mereka hadapi.

”Pelaku usaha perhotelan dan homestay di Danau Maninjau acap kali terpukul. Banyak hal yang membuat kebangkitan kepariwisataan Danau Maninjau jadi sulit. Mewabahnya pandemi Covid-19, belum lagi penyakit menahun kematian ikan secara massal di KJA. Namun, kami tetap eksis menunggu kepariwisataan Danau Maninjau kembali ke masa jayanya,” kata Poppy.

Beragam upaya dilakukan Poppy agar bisnis perhotelannya bisa tetap bertahan di tengah okupansi hunian anjlok ulah gempuran pandemi dan rintangan lainnya. Salah satunya berinovasi dengan menghadirkan tempat nongkrong berkonsep kekinian. Pojok kafe nan ia beri nama Palanta Abo.

”Tantangan harus dijawab dengan memperbaiki diri. Salah satunya memperbaiki fasilitas. Memang berat, tapi harus berusaha. Harapannya, Palanta Abo bukan saja solusi untuk tempat nongkrong yang nyaman, tapi juga menjadi tolak ukur pariwisata Maninjau ke depan,” imbuh Poppy.

Ia membeberkan, okupansi hunian Hotel Maninjau Indah sempat berada di titik nol saat pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan gerak sosial saat Agam masuk zona merah Covid-19. Terkini kata Poppy, kondisinya perlahan membaik. Bahkan selama libur panjang Natal dan tahun baru tingkat hunian meningkat.

”Saat semuanya mengalami penurunan drastis, kunjungan ke Palanta Abo masih cukup ramai. Terutama saat weekend dan didominasi kalangan anak muda. Sejak Covid-19 mengancam, tamu hotel dan palanta diharuskan taat protokol kesehatan dan ini berlaku hingga kini,” jelasnya.

Baca Juga:  Kuliah Umum di STAI-YKI Sumbar, Wawako Hendri Galakkan Wisata Halal

Dikupas jauh ke belakang, Poppy yang juga pegiat pariwisata Agam itu menyebut, kondisi umum sektor pariwisata Agam di tahun 2019 cukup menggembirakan. Ada peningkatan sebesar 9 persen. Jumlah 700 ribu wisatawan pada tahun 2018, naik menjadi 766 ribu orang di tahun 2019. Segmentasi pasar masih didominasi wisatawan lokal. Hanya 1,8 persen yang tergolong wisata asing termasuk Negeri Jiran, Malaysia.

Keyakinan Poppy yang setia menunggu kebangkitan pariwisata Danau Maninjau mendorong optimisme banyak pihak. Salah seorangmya tokoh masyarakat dan politikus senior Agam, Datuk Tumbijo. Menurutnya, dengan kondisi danau yang nyaris tercemar memang harus ada gerakan pembaharuan. ”Inilah waris bajawek, pusako batolong. Mudahan cita-cita yang rancak ini disambut bersama. Gerakan menggairahkan kembali pariwisata Danau Maninjau perlu didukung bersama,” katanya.

Selaras dengan itu, Pemkab Agam pun masih terus berlari menjemput kepopuleran Danau Maninjau. Sebagaimana diketahui, sekitar dua atau tiga dekade lalu, pesona Danau Maninjau mampu membuat wisatawan domestik hingga turis mancanegara betah berlama-lama di kawasan Maninjau.

Upaya pemerintah daerah Agam mengembalikan era keemasan Danau Maninjau salah satunya dengan membenahi objek wisata itu. Teranyar dengan membangun wisata Linggai Park yang konon diharapkan jadi penyempurna kepingan puzzle wisata Danau Maninjau.

Koordinator Pengelola objek wisata Linggai, Metrizon Dt. Kayo menyebut, Linggai Park hadir menambah opsi liburan dengan konsep wisata keluarga dengan fasilitas lengkap untuk bermain anak-anak di tepian danau. Menawarkan keindahan landskap dari berbagai sisi Danau Maninjau.

”Destinasi ini dibangun selain memperkaya khazanah kepariwisataan Tanah Air, Ranah Minang dan Kabupaten Agam, juga untuk mengembalikan nama harum Danau Maninjau. Oleh karenanya, Linggai Park ditata sedemikian rupa diharapkan memberi spirit baru dan jadi penyempurna bagian puzzle Danau Maninjau yang hilang,” sebut Metrizon.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Agam, Syatria mengatakan, ke depan akan terus ada pengembangan wisata Danau Maninjau secara bertahap. Lewat program ”Ayo ke Agam” yang digaungkan pemerintah daerah, pihaknya juga mengimbau seluruh wali nagari di Salingka Danau Maninjau untuk menganggarkan Dana Desa dalam membangun dermaga.

”Sudah dimulai dari Nagari Maninjau, semoga akan diikuti oleh nagari lainnya. Selain itu, kami juga masih merumuskan konsep wisata apung dengan sejumlah pihak. Semoga ada suntikan dana dari investor maupun kementerian,” tuturnya. (rifa yanas-putra susanto-Padang Ekspres)

Previous article50 Persen Pemodal Besar KJA asal Luar
Next articleJangan Biarkan Maninjau jadi Kenangan