Geliat Pariwisata Belum Terlihat

20
Dua orang bocah sedang menikmati wahana permainan mobil-mobilan di kawasan wisata Pantai Padang, kemarin (10/6). Para pedagang berharap di masa transisi menuju era new normal nanti kunjungan wisatawan ke Pantai Padang dapat meningkat. (Sy Ridwan-Padang Ekspres)

Masa transisi menuju tatanan hidup baru atau new normal, geliat industri pariwisata di Kota Padang belum menunjukkan tren positif. Pantauan Padang Ekspres, Rabu (10/6) di kawasan wisata Pantai Padang masih terlihat sepi dari pengunjung. Biasanya pada sore hari, ratusan pengunjung telah berada di destinasi wisata andalan di Kota Padang tersebut.

“Kita bisa lihat sendiri faktanya di lapangan, tidak ada pengunjung yang datang ke Pantai Padang untuk berwisata,” kata salah seorang pedagang makanan di Pantai Padang, Surmiati, 34, kemarin.

Meskipun saat ini Kota Padang telah memasuki masa transisi, tetap saja saat ini belum ada tren peningkatan pengunjung yang datang ke kawasan Pantai Padang. Kondisi tersebut berimbas terhadap pendapatan usahanya yang juga mengalami tren penurunan yang cukup siginifikan bahkan lebih dari 60 persen.

“Saya menjual makanan ringan dan minuman. Biasanya sebelum ada Covid-19 dan PSBB, pendapatan dalam satu hari bisa mencapai Rp200 ribu, namun sekarang kurang dari Rp100 ribu per hari,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan pengelola mainan di Pantai Padang, Bustami, 50. “Biasanya dalam satu hari sebelum Covid-19, kami para pengelola permainan di pantai Padang ini bisa mendapatkan uang Rp250 ribu, tapi sekarang sangat susah,” jelasnya.

Ia menyebutkan, untuk sewa permainan mobil-mobilan dipatok Rp25 ribu selama 30 menit. Sementara untuk sepeda motor mainan sebesar Rp20 ribu per 30 menit, skuter Rp15 ribu yang per 30 menit. “Namun saat ini pengunjung sepi,” tuturnya.

Sari: Protokol Kesehatan

Terpisah, pengamat pariwisata, Sari Lenggogeni mengatakan dengan mulai dibukanya sejumlah tempat di wisata di Sumbar, pastinya industri-industri yang selama ini menggantungkan kehidupannya dari sektor pariwisata mulai memiliki harapan untuk perkembangan usaha mereka.

“Kita bisa lihat selama pandemi Covid-19 ini, usaha-usaha seperti perhotelan, tempat oleh-oleh makanan dan lainnya mengalami dampak perekonomian. Pastinya dengan mulai dibukanya sejumlah tempat wisata memberikan angin segar,” ujarnya.

Lebih lanjut Sari mengatakan, dengan mulai dibukanya sejumlah tempat wisata di Sumbar, harus diikuti dengan penerapan protokol kesehatan sebagai langkah antisipasi pencegahan dan penyebaran Covid-19.

Menurutnya, apa yang telah dilakukan oleh Pemprov Sumbar dengan membuat kebijakan tes swab kepada setiap orang yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) merupakan langkah yang sudah tepat.

Namun hal tersebut juga harus diikuti dan diterapkan oleh masing-masing kepala daerah yang juga menerapkan tatanan hidup baru dan membuka destinasi-destinasi wisata mereka.

“Jadi jangan sampai terjadi kepala daerah terkesan langsung membuka tempat wisata tanpa memikirkan dan mempersiapkan hal-hal yang berhubungan dengan protokol kesehatan,” ujarnya. (a)