Sandiaga Uno Dukung Pengembangan Wisata Alam dan Budaya di Sumbar

83

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mendukung pengembangan wisata berbasis alam dan budaya di Sumbar.

Komitmen itu disampaikan Sandi saat menerima audiensi 11 bupati dan wali kota dari Sumbar beserta Anggota Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Selasa (13/4/2021).

Sandi mengatakan Sumbar merupakan provinsi dengan potensi wisata yang kaya akan keindahan alam dan budaya, terutama dari segi kuliner.

“Saya pikir pengembangan pariwisata di Sumatera Barat berbasis nature and culture ini sudah tepat,” kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Untuk itu, Sandi mendorong agar pemerintah daerah mengemas potensi-potensi tersebut menjadi lebih berkualitas.

“Jadi kita punya kekayaan sumber daya alam dan potensi pariwisata serta ekonomi kreatif tapi bagaimana kita meningkatkan nilai tambahnya,” katanya.

Pengembangan potensi wisata ini juga perlu diselaraskan dengan pengembangan desa-desa wisata di provinsi yang juga dikenal dengan sebutan “Ranah Minang” itu.

Desa dan nagari wisata dapat membuka peluang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi pemenang pascapandemi Covid-19.

Ia mencontohkan pengembangan tersebut dengan diraihnya sertifikasi “Desa Wisata Berkelanjutan” oleh Desa Wisata Kubugadang yang berada di Kota Padangpanjang. Nantinya, program ini juga bisa diikuti oleh desa-desa wisata lainnya.

“Pandemi ini akan mengubah peta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Saya juga akan menyempatkan diri berkunjung ke Sumatera Barat,” ujarnya.

Selain pengembangan desa wisata, Sandi juga menekankan pentingnya digitalisasi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Sumatra Barat.

Menurutnya, digitalisasi juga berperan penting dalam upaya meningkatkan kualitas sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di sana.

“Ini juga masuk ke dalam pengembangan desa wisata dan juga ekonomi kreatif kedepannya. Saya yakin, dengan kita bergandengan tangan, kita bisa kembali bangkit,” ungkapnya dalam kesempatan dihadiri Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) dan Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani serta Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekra  Oni Yulfian dan anggota Komisi III DPRD Sumbar Irwan Afriadi.

Baca Juga:  Tindaklanjuti Kunjungan ke Sumbar, Kemenparekraf Bergerak Cepat

Dalam laman media sosialnya, Sandi menyebutkan pertemuan ini merupakan “KOLABOR-AKSI” dengan bupati dan wali kota di Sumatera Barat.

Dalam RPJMN 2020-2024 disebutkan bahwa terdapat lokus baru yang ditentukan sebagai Destinasi Pariwisata Pengembangan (DPP), salah satunya adalah DPP Bukittinggi-Padang dan sekitarnya untuk mendorong peningkatan nilai tambah pariwisata di yang difokuskan pada peningkatan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan.
 
Langkah konkret terus dijalankan, mulai dari penerapan standar CHSE di setiap destinasi wisata, memberikan hibah pariwisata, refocusing strategi pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif, hingga berkolaborasi dengan seluruh pihak untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya.
 
“Kami optimistis sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan terus menggeliat di Sumatera Barat. Melalui program desa wisata serta adaptasi teknologi dan digital, kita akan ciptakan banyak peluang usaha dan juga lapangan kerja,” ujarnya.

Adapun 11 bupati dan wali kota Sumatera Barat yang hadir dalam pertemuan itu adalah Bupati Agam, Andri Warman, Bupati Padangpariaman Suhatri Bur; Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, Bupati Pesisir Selatan, Rusma Yul Anwar, Wakil Bupati Tanahdatar Richi Aprian, dan Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Solok, Medison.

Kemudian, Wali Kota Solok Zul Elfian, Wali Kota Pariaman Genius Umar, Wali Kota Bukittinggi, Erman Saffar, Wali Kota Sawahlunto Deri Asta dan Wakil Wali Kota Padangpanjang Asrul.(rel)

Previous articleBNPB Surati 30 Gubernur termasuk Sumbar, Waspada Bibit Siklon Tropis
Next articleSurau Latiah, Masuk Cagar Budaya, Naskah Tuonya Didigitalisasi