Tingkatkan Akses Jalan Desa Wisata & Pasokan Air Bersih Museum Buya Hamka

96

Desa Wisata Sungai Batang di Kabupaten Agam telah masuk dalam 50 besar pada Ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Agustus lalu.

Sungai Batang salah satu nagari (desa) yang terletak di Danau Maninjau, satu kawasan di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Nagari yang dikelilingi perbukitan sisa letusan gunung vulkanik Sitinjau. Separuh hutan berada dalam kawasan Cagar Alam Maninjau yang dipenuhi hayati unik seperti bunga Rafflesia dan satwa dilindungi.

Di desa wisata ini, terdapat Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, ulama besar Indonesia bernama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah. Lokasinya berada di Jorong Batung Panjang.

Para owner dan pimpinan media yang tergabung dalam Jaringan Pemred Sumbar (JPS), Kamis (14/10/2021), mengunjungi museum tersebut. Rombongan JPS yang dikoordinir Heri Sugiarto dari Padang Ekspres itu, difasilitasi M Zuhrizul, Owner Lawang Adventure Park. Kedatangan mereka disambut oleh Pj Wali Nagari Rustian, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Imam dan Wakil Ketua Rudy Rajo Intan.

“Alhamdulillah, Desa Wisata Sungai Batang ini masuk 50 besar di Indonesia. Memiliki konsep wisata religi, cagar budaya, sejarah dan alam,” ungkap Imam di awal pertemuan

Wilayah Nagari Sungai Batang seluas 2,304 hektare. Meliputi arah barat merupakan Danau Maninjau, arah timur perbukitan Cagar Alam Maninjau berbatasan dengan Malalak, arah selatan Berbatasan dengan Nagari Tanjung Sani dan arah utara berbatasan dengan Nagari Maninjau.

Imam mengatakan, keberadaan desa wisata diharapkan bisa menjadi daya ungkit kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat dan pelaku usaha di daerah ini.

Untuk mewujudkan itu, pihaknya sebagai pokdarwis yang terbentuk sejak 2017 lalu, telah melakukan berbagai upaya penyelamatan cagar budaya dan potensi wisata yang ada di nagari bersama anak-anak nagari, tokoh adat dan agama, ibu-ibu serta UMKM lewat berbagai program dan kegiatan.

“Kita juga berharap dinas terkait mendukung kegiatan seperti pemberdayaan karena anggaran nagari yang terbatas,” ujar Imam.

Rudy menambahkan bahwa, di Sungai Batang ini terdapat tujuh jorong yang memiliki organisasi kepemudaan, tokoh adat, budaya dan agama.

“Sebagai destinasi wisata religi, maka kita terus lakukan upaya penyiapan di internal anak-anak nagari bersama para tokoh agama, adat dan budaya dengan mengedepankan kearifan lokal. Kita berkoordinasi dengan semuanya, bagaimana meningkatkan kapasitas SDM lewat program pemberdayaan,” kata Rudy.

Peningkatan kapasitas SDM tersebut, kata Rudy, jadi kunci utama dalam memajukan wisata religi di Sungai Batang. “Kekuatan kita ada pada budaya. Kalau SDM kita di nagari belum satu persepsi, maka bakal kesulitan ke depannya memajukan pariwisata,” katanya.

Untuk itu, ada program pemajuan desa terkait pengembangan budaya dari Kemendikbudristek.

Komunitas Pemuda

Selama tiga tahun ini, khusus di Kawasan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, ada Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) binaan Camat Tanjung Raya, Handria Asmi yang sangat membantu program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam dan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Agam.

Museum merupakan Cagar Budaya yang dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam. Kebetulan KPGH sangat fokus mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan dengan landasan ABSSBK dan Buku Buya Hamka.

Komunitas ini satu-satunya pemerhati museum di Agam. Salah satu komunitas pemerhati museum yang hanya hitungan jari di Sumbar.

Komunitas ini berperan aktif selama tiga tahun ini membangkitkan potensi cagar budaya Sungai Batang dan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

Bahkan, melahirkan ivent Festival Rinuak  yang mencakup kuliner, pacu sampan dan tangkap rinuak tradisional. Kemudian,  pendidikan surau termasuk  pendidikan agama, adat, kesenian, dan silek.

Bekerja sama dengan Kwuran 09 dan Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya menggelar Kemah Bakti Pramuka Penegak.

Baca Juga:  Kawasan Wisata Ulakan Padangpariaman, Kearifan Lokal Pemikat Wisatawan

Kegiatan yang telah digagas itu akan menjadi iven atau atraksi atau Paket Wisata Reliqius Buya Hamka. Berupa outbond, traking, hiking dan kemping. Marketnya jelas minat khusus untuk pelajar SD, SMP dan SMA, anak-anak perantau serta anak-anak wisatawan Malaysia.

KPGH menjadi mitra kerja Pokdarwis Sungai Batang. KPGH telah memiliki Akta Notaris dengan SK Camat Tanjung Raya, pada 13 Maret 2019 dan Akta Notaris: SK MENTERI HUKUM dan HAM RI NOMOR : AHU – 860.AH.02.01 Tahun 2011 tanggal 6 Desember 2011.

Masukan Perbaikan

Sejalan dengan itu, pihaknya juga berupaya memberikan masukan dalam menyiapkan infrastruktur penunjang bersama pemerintahan nagari.

Dalam pertemuan itu terungkap bahwa masalah air bersih, akses jalan serta dukungan program dan kegiatan peningkatan kapasitas SDM dari pemerintah daerah masih belum memadai.

“Misalnya akses jalan belum memadai bagi kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Sulit dilewati bus. Begitu juga air bersih, di museum ini sering macet. Untuk itu, kita sudah minta dukungan pemkab melalui dinas PU. Katanya sudah dianggarkan tahun 2022. Semoga bisa terealisasi. Apalagi Pak Bupati fokus dalam memajukan sektor pariwisata, termasuk wisata religius di Sungai Batang ini,” jelas pegiat pariwisata yang pernah berkiprah sebagai jurnalis di Padang TV (Padang Ekspres Group) itu.

Selain dari pemkab, kata Imam, juga dibutuhkan dari wakil rakyat daerah pemilihan Agam di DPRD Provinsi Sumbar untuk peningkatan sarana dan prasarana destinasi wisata di Sungai Batang. Seperti akses jalan, dermaga, taman tepian danau, air bersih dan lainnya.

“Kita di sini memiliki satu kilometer kawasan danau bebas keramba jaring apung. Untuk tepiannya, lahan sepanjang 900 meter dan lebar tiga meter juga sudah disiapkan. Kita ajukan untuk pengembangan wisata danau den sehingga nantinya ada homestay dan restoran terapung dilengkapi permainan air,” tuturnya.

Wartawan senior JPS Novrianto mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan anak-anak nagari yang tergabung dalam pokdarwis dalam memajukan nagarinya.

Jika ini terealisasi, dia yakin, wisatawan yang datang akan semakin banyak, usaha masyarakat ikut terangkat dan perekonomian meningkat. “Namun, tentu saja itu butuh dukungan konkret dari pemkab dan wakil rakyat dapil Agam ini, misalnya dalam bentuk program pokok pikiran,” ujar Novrianto yang juga Ketua Forum Wartawan Parlemen Sumbar itu.

Eksplor Sungai Batang
Terkait objek yang bisa dikunjungi saat ini, kata Rudy, selain ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Sungai Batang juga memiliki fasilitas budaya berupa Gelanggang Medan Nan Bapaneh. Terletak di depan Halaman Balairuang Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan Kantor Pemerintah Kenagarian Sungai Batang.

Selain itu ada 7 masjid di tujuh jorong yang ada di Nagari Sungai Batang. Lima unit Sekolah Dasar dan satu unit MTsS Muhammadiyah Sungai Batang.

Sungai Batang juga memiliki dua dermaga, satu unit pasar tradisional, 5 unit benda cagar budaya dengan destinasi wisata religi dan budaya. “Untuk akses jalan perkampungan, memang belum begitu memadai,” katanya.

Kemudian, ada Benda Cagar Budaya yakni Rumah Gadang Nur Sutan Iskandar dan Rumah Baca Nur Sutan Iskandar yang juga dapat dijadikan Homestay. “Untuk Nagari Sungai Batang, terdapat sekitar 30 unit rumah gadang yang dapat dijadikan homestay atau penginapan,” imbuhnya.

Sedangkan homestay rumah penduduk yang siap pakai saat ini, terdapat empat unit. Pertama, Homestay Kampuang Inyiak De Er Muaro Pauah, Homestay Buk Titi Tanah Sirah, Homestay Tanjung Sani dan Homestay Aznal.

“Namun untuk homestay Rumah Gadang hampir banyak yang membutuhkan perbaikan berupa rehab bangunan, air bersih dan toilet layak pakai,” pungkasnya.(esg)