Perkuat Literasi Digital dan Promosi Wisata Lewat Digital Marketing

Merebaknya aktivitas dalam dunia digital perlahan membuat distrupsi kehidupan. Dulu ketika ada undangan mengisi sebuah acara seminar dilakukan dengan hadir secara fisik. Kini bisa dilakukan secara maya atau virtual. Maka,  trasformasi digital itu adalah keniscayaan.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengungkapkan pentingnya memperkuat  literasi digital di saat terjadi perkembangan teknologi yang pesat saat ini. Apalagi pada cakupan penyebaran konten digital yang semakin luas dan beragam ini banyak muncul konten-konten bermuatan negatif dan kabar bohong atau hoaks.

“Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran karena bisa membawa banyak dampak yang juga buruk sehingga pentingnya literasi digital dimulai dari sendiri. Saring sebelum sharing,” ingat Yuliandre dalam diskusi berbasis daring yang di selenggarakan oleh Komunitas Jelajah dengan tema “Menggali Potensi Ekonomi Museum di Era Pandemi” di Bandung, Sabtu (21/11/2020).

Yuliandre yang juga aktif di dunia pariwisata ini menyebutkan bedasarkan International Council of Museum (ICOM) merilis data lebih dari 10 persen museum dunia diproyeksi tidak bisa buka lagi. Artinya pertumbuhan gerak aktivitas museum saat pandemi sedang turun drastis.

Baca Juga:  Wisata dan Edukasi di Kawasan Ekowisata Penyu Nagari Ampingparak

“Misalnya di Padang, ada Museum Adityawaran. Pengunjung yang datang sehari paling banyak 10 orang saja, bahkan pernah tidak ada pengunjung sama sekali,” kata Yuliandre.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Andre ini mengungkapkan beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam menerapkan digital marketing agar bisa efektif menarik konsumen hingga akhirnya meningkatkan penjualan produk.

Menurutnya pelaku destinasi wisata bisa memanfaatkan media sosial sebagai channel promosi. Pegiat dunia wisata khususnya harus memiliki strategi konten yang mencakup jenis konten yang dibuat, waktu dan frekuensi posting konten yang menarik.

Konten juga harus memiliki sebuah cerita atau story sehingga membuat audience terikat atau relate dengan sebuah potensi wisata.

“Media sosial populer seperti Facebook, Instagram atau Tiktok banyak digunakan sebagai saluran promosi dan berjualan,” ungkap Andre.(rel/syr)