Ini Usulan Penamaan Jokowi di Mandeh yang Dinilai Warga Tepat & Keren

387

Keinginan Bupati Pesisir Selatan Rusma Yul Anwar mengubah nama “Puncak Paku” menjadi “Puncak Jokowi” menuai pro-kontra, Jumat (23/4/2021). Namun, bukan berarti warga tak ingin ada penamaan Jokowi yang lebih tepat di kawasan wisata terkemuka di pantai barat Sumatera itu.

Salah seorang tokoh pemuda di kawasan wisata Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan Alesandro Satri mengungkapkan bahwa terbukanya kawasan wisata Mandeh memang berkat peran besar dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta jajarannya dan para pegiat pariwisata tahun 2015.

Ketika itu, Jokowi bersama Ibu Iriana dan para menteri datang mencanangkan Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh. Setelah itu, banyak wisatawan berkunjung hingga pemerintah akan menjadikan salah satu lokasi, yakni Bukit Ameh sebagai Kawasan Ekonomi Ekslusif (KEK) di Mandeh.

Aktivitas perekonomian masyarakat yang bergerak di sektor pariwisata menggeliat. Berbagai fasilitas dibangun. Wisatawan domestik dan mancanegara makin ramai berkunjung ke destinasi yang ada di kawasan itu.

Salah seorang tokoh Minang yang membuka komunikasi hingga presiden datang ke Mandeh waktu itu adalah, Andrinof A Chaniago yang pernah menjabat Menteri PPN/ Kepala Bappenas di kabinet Jokowi.

Andrinof intens mengajak masyarakat, para pegiat pariwisata, media, akademisi dan perantau (pentahelix) bersama-sama membangun dan melakukan pemberdayaan di kawasan Mandeh hingga ada gerakan Mandeh Joy Sailing tahun 2014.

“Sebagai penghargaan, sebaiknya, yang lebih pas itu nama Pak Jokowi diberikan untuk penamaan jalan ke Mandeh. Ada dasar dan sejarahnya. Sebab jalan yang terbuka sekarang belum ada nama dan Pak Jokowi yang minta Menteri PUPR ketika itu membangunnya guna memudahkan akses wisatawan ke Mandeh. Alhamdulillah, jalan itu sekarang selesai dan bagus. Beraspal hotmix. Akses ke Mandeh jadi lebih cepat,” kata Satri.

Satri yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sei Nyalo Mudiak Aia itu, berharap itu bisa segera mengakhiri pro-kontra di daerah terkait usulan penggantian nama “Puncak Paku” jadi “Puncak Jokowi”.

“Menurut saya, itu jalan tengah dan lebih tepat dibanding mengubah nama “Puncak Paku”. Lebih baik, sepanjang jalan Mandeh itu dibikin nama Jalan Jokowi, dan ada sebagian Jalan Darizal Basir (mantan Bupati Pessel yang kini anggota DPR RI, red) yang membuka di awal. Lebih bagus dan keren,” kata Satri.

Sebelumnya, Satri mengaku terkejut dan menolak penggantian nama “Puncak Paku” jadi “Puncak Jokowi” karena dia menilai tidak berdasarkan pada sejarah.

Diceritakannya, penamaan Puncak Paku karena dulunya di daerah itu banyak tumbuhan paku liar. Begitu pula penamaan kawasan lain di Kawasan Mandeh seperti Kapo-Kapo karena di lokasi itu dulu banyak ditanami pohon Kapo.

“Kita berharap rencana bupati mengubah nama “Puncak Paku” menjadi “Puncak Jokowi” dibatalkan karena merusak tantanan sejarah yang telah ada. Kalau ingin bikin nama di tempat lain saja yang punya landasan sejarahnya,” tegas pegiat wisata yang akrab disapa Satri ini.

Baca Juga:  Mudik, Wisata dan Pandemi

Terpisah, Sejarawan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Dr Siti Fatimah memahami adanya penolakan dari masyarakat terhadap usulan perubahan nama itu.

Menurutnya usulan mengubah nama itu keputusan yang kacau dan tidak mengacu pada sejarah. Bahkan, kata Siti Fatimah, penamaan di lokasi tersebut justru bisa merendahkan nama Jokowi.

Nama “Puncak Paku” diberikan ketika itu berdasarkan sejarah. “Dulu di sepanjang jalan Mandeh dekat puncak itu, tidak bisa dilewati karena penuh dengan paku ransam. Tempat yang banyak paku ransam ya ada di puncak itu. Makanya diberi nama “Puncak Paku”,” jelas Siti Fatimah.

Dekan FIS UNP yang sudah lima tahun meneliti di kawasan wisata Mandeh ini menjelaskan bahwa paku rancam adalah sejenis paku liar. Banyak tumbuh di sana karena sesuai dengan alam dan tekstur tanahnya. “Hanya itu (paku rancam) yang bisa tumbuh di sekitar puncak itu,” imbuhnya.

Meski demikian, kalau memang pemerintah kabupaten Pesisir Selatan ingin memberikan nama Jokowi juga, usulannya lebih tepat di sekitar pantai dekat Jokowi meresmikan Kawasan Wisata Terpadu Bahari (KWBT) Mandeh.

“Kalau saya lebih cocok di pantai, tempat Pak Jokowi meresmikan KWBT Mandeh dulu. Bisa dibikin nama Pantai Jokowi, keren. Sekarang sudah ada amphiteater dan rencananya Komandan Lantamal II Padang juga akan membuat pusat olahraga bahari di sana. Ada sejarahnya Jokowi ke sana,” kata Siti Fatimah yang akrab disapa para pegiat pariwisata Bundo Fat ini.

Ke depan, diharapkan dalam mengambil keputusan berkaitan dengan penamaan suatu tempat agar dibahas atau didiskusikan dengan orang yang ahlinya, seperti mengerti sejarah sehingga nantinya ada literasi atau cerita bagi para pengunjungnya.

“Makanya bertanya ke ahlinya dalam mengambil kebijakan. Saat ini saja, beberapa mahasiswa S3 saya membuat disertasi tentang Mandeh,” ujarnya.

Jenis batu di Mandeh itu saja, kata Siti Fatimah, telah diteliti oleh dosen S3 Ilmu Lingkungan. “Begitu juga dengan persoalan sosial dan budaya di sana. Banyak. Jadi, semua tempat itu ada sejarahnya. Begitu juga dengan kenapa kawasan itu diberi nama Mandeh, Pulau Setan, dan lainnya termasuk Puncak Paku,” papar Siti Fatimah.

Sebelumnya, seperti diberitakan media, ide Bupati Pessel Rusma Yul Anwar mengubah nama “Puncak Paku” jadi “Puncak Jokowi” disampaikan saat menerima kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ke Pessel. Alasannya, tidak lepas dari kepedulian Presiden Jokowi pada tahun 2015 lalu yang mencanangkan KWBT Mandeh.Rusma Yul Anwar mengatakan, tidak ada maksud lain, kecuali untuk mendongrak kunjungan wisata dan kepentingan daerah.(elf/esg)

Previous articleUsulan Ganti Nama Puncak Paku jadi Puncak Jokowi Tuai Penolakan
Next articleRatusan Advokat Dampingi Didi Cahyadi Ningrat