Desa Wisata Sungaibatang di Agam, Wisata Sejarah dan Budaya Nan Religius

35
Pesona Desa Wisata Sungaibatang di Tepian Danau Maninjau.(IST)

Desa Wisata Sungaibatang sukses mencuri perhatian pelaku wisata setelah masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Desa yang berada di tepian danau Maninjau ini menawarkan kombinasi pesona alam menawan yang berpadu dengan kekayaan budaya, sejarah dan religi. Seperti apa?

Desa Wisata Sungaibatang bernaung di bawah kaki pendakian Kelok 44 di tepian Danau Maninjau, persisnya di Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam. Kearifan lokal yang terjaga di desa ini menempatkannya menjadi 50 desa wisata terbaik dari 75 ribu lebih desa di Indonesia.

Desa ini tak sulit dijangkau. Jika beranjak dari Kota Padang, pengunjung mesti menempuh jarak 125 km lewat Jalan Lintas Barat Sumatera. Bila mengambil rute dari Kota Bukittinggi, wisatawan butuh 39 km perjalanan melintasi jalan lintas Sumatera.

Hamparan air jernih kebiru-biruan berpadu dengan perbukitan dan hijaunya pepohonan di kawasan Danau Maninjau serta panorama Gunung Marapi yang kokoh menjulang siap memukau siapa saja yang datang ke Desa Wisata Sungaibatang.

“Desa Wisata Sungaibatang kaya akan potensi wisata budayanya, sejarah dan tradisi adat istiadat yang masih lestari. Di desa ini pula tempatnya tokoh pahlawan nasional Buya Hamka dilahirkan,” kata Wakil Ketua Pokdarwis Sungaibatang, Rudi Yudistira saat berbincang dengan Padang Ekspres, Kamis (23/9).

Desa Wisata Sungaibatang, sambung Rudi, saat ini mengedepankan konsep wisata sejarah dan budaya dibalut dengan nuansa religius. Konsep ini sendiri telah diperkuat dengan kepopulerannya sebagai kampung kelahiran Buya Hamka dan ditopang oleh pesona wisata alam dengan lanskap utama keindahan Danau Maninjau.

Sederet potensi yang telah tergali bebernya, teranyar adalah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang berada di Tapian Kampung Tangah Tanahsirah, Jorong Batungpanjang. Di sini juga terdapat Kutub Chanah, Manuskrip dan Makam Dr H Abdul Karim Amrullah, ayah dari Buya Hamka. Termasuk bangunan  Surau Tuo sang ayah di Jalan Kabun.

Kemudian di jorong nagari terdapat situs makam Syekh Muhammad Amrullah, ulama besar sekaligus kakek dari Buya Hamka dan situs makam Syekh Guguak Katua, kakek buyut dari tokoh pemikir dan sastrawan penentang diskriminasi itu.

“Dari sekian banyak potensi itu, sudah mulai dinikmati wisawatan baru museum kelahiran Buya Hamka. Biasanya wisatawan Malaysia datang per kelompok dan telah kerjasama dengan masyarakat Jorong Tanjungsani,” katanya.

Saat ini, imbuh Rudi, masih banyak potensi wisata di Sungaibatang yang belum tergali. Potensi itu meliputi surau tuo dan makam Syekh Muhammad Ambillah, makam Syekh Guguak Kata, sarasah Badarun Labuah, air terjun Baburai Data, bumi perkemahan dan panaroma Batu Ajuang, rumah gadang suku Jambak Kabun, pantai Kualo dan Konservasi LIPI, dermaga Sungaibatang, panaroma Sawah Labuah dan Sawah Nagari serta pendidikan surau bersama tokoh adat Angku Yus Datuak Parpatih.

Sementara dari segi kuliner ditekankannya, Desa Wisata Sungaibatang kaya akan hasil ikan endemik Danau Maninjau yang biasa disebut rinuak. Ikan ini diolah oleh masyarakat setempat menjadi berbagai macam makanan dan kuliner khas untuk memanjakan lidah wisatawan. Selain itu juga ada aneka kudapan khas berbahan baku bada, gulai paku, dan lainnya.

Bagi pengunjung yang datang dari luar daerah dan butuh tempat menginap, masyarakat Sungaibatang juga telah menyediakan homestay. Paling tidak, saat ini sudah tersedia lima homestay di desa wisata itu. Harganya terjangkau, paling mahal ditarif sekitar Rp 100 ribu.

Rudi mengisahkan, status desa wisata yang disandang Sungaijariang saat ini tidak diperoleh dengan instan. Semua beranjak dari perjuangan Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) Tanjungraya dalam gerakan mengangkat marwah sang buya di kampung kelahirannya. Menghidupkan kembali tatanan keagamaan budaya surau dalam keseharian hidup bermasyarakat.

Gerakan ini mendapatkan dukungan pihak kecamatan dalam pengembangan museum rumah kelahiran Buya Hamka. Buah dari perjalanan itu dimulai dengan mengantarkan meseum rumah kelahiran Buya Hamka masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) pada tahun 2021.

“Sungaibatang lebih dulu memperoleh kepercayaan menjadi platform pemajuan kebudayaan desa dari Kemendikbud Ristek sebelum ditetapkan sebagai desa wisata,” kata Rudi yang saat ini juga dipercaya menjabat Ketua KPGH Tanjungraya dan Daya Desa Sungaibatang itu.

“Kami akan menghimpun mereka dalam organisasi kepemudaan nagari dan berkolaborasi dengan organisasi kepemudaan yang telah lebih dulu bergerak. Seperti KPGH, pemuda-pemudi Muhammadiyah ranting tiap jorong di Sungaibatang. Setelah menghimpun dan menyatukan kekuatan, baru kami kaji perencanaan langkah pengembangan jangka pendek, menengah dan jangka panjang,” sebutnya.

Terkait pengembangan dan pemanfaatan potensi wisata tambahnya lagi, lebih terurai dalam bentuk warisan budaya seperti Cagar Budaya Kutub Chanah yang menyimpan Manuskrip karya Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul, ada rumah baca dan rumah gadang Nur Sutan Iskandar (Sastrawan Angkatan Balai Pustaka). Museum rumah kelahiran Buya Hamka dan Cagar Budaya Rumah Gadang Angku Lareh Ampek Koto.

Sembari berharap dukungan dan kerjasama lintas sektoral, pihaknya saat ini juga tengah bersiap menggarap potensi alam dengan beragam keindahan pemandangan dan atraksi. Idenya semacam Festival Rinuak, Jambore Pramuka Tikam Jejak Buya Hamka hingga membuka program Pelajar Berkunjung ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Agam, Syatria mengatakan, sektor wisata menjadi salah satu fokus Bupati Agam untuk dikembangkan saat ini. Kemajuan wisata yang terintegrasi dinilai sangat potensial untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

Dikatakan terintegrasi karena memajukan pariwisata butuh keterlibatan banyak pihak dan faktor. Mulai dari segi pemasaran, kuliner dan seni budaya lokal.

”Pemerintah daerah akan selalu mendorong pengembangan objek wisata di Agam. Selain peningkatan fisik destinasi, kita juga tiap tahun memberi pelatihan bagi pelaku pariwisata di Agam untuk mengasah kompetensi mereka dalam mengelola pariwisata. Termasuk memberikan pendampingan bagi pengembangan Desa Wisata dan,” tuturnya. (***)

Untuk Desa Wisata Sungaibatang lanjutnya, khusus museum rumah Kelahiran Buya Hamka terus mendapat perhatian peningkatan oleh pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir. Baik pembenahan dari segi sarana prasarana bangunan, koleksi, interior dan fasilitas lain.