Survei Nesparda Ungkap Motif Utama Wisatawan ke Sumbar 

103

Jumlah wisatawan yang berkunjung, lama tinggal dan besarnya uang yang dibelanjakan selama berada di Sumatera Barat, sangat menentukan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian.

“Dari hasil survei yang telah dilakukan didapatkan, motif utama wisatawan nusantara ke Sumbar adalah kuliner. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara adalah budaya. Dari dua motif utama itulah yang harus diambil dukungan kebijakan oleh Pemprov Sumbar melalui Dinas Pariwisata untuk meningkatkan kontribusi ekonomi sektor pariwisata,” ungkap Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) IPB University Dr. Ernan Rustiadi.

Hal itu disampaikan Ernan dalam Focus Grup Discussion (FGD) hasil survei Neraca Satelit Pariwisata Daerah (Nesparda) Sumatera Barat yang diadakan Dinas Pariwisata di Hotel Hayam Wuruk, Padang, Kamis (24/9/2021).

Ernan menyampaikan kekaguman dan apresiasinya atas inisiatif Dinas Pariwisata untuk menyusun Nesparda.

“Setelah kami telusuri, Sumatera Barat termasuk salah satu provinsi pertama di Indonesia yang menyusun Nesparda. Di Sumatera, Sumatera Barat yang pertama,” ujar Ernan yang juga Ahli Perencanaan Wilayah.

Sementara itu, salah seorang  anggota Tim Penyusun Nesparda Adi Hadianto menyampaikan hasil survei Nesparda secara agregat aktivitas pariwisata di Sumatera Barat memberikan kontribusi sekitar 5,9% terhadap nilai tambah bruto dan 6,1% terhadap nilai output yang ada di Sumatera Barat pada tahun 2019.

“Secara sektoral, nilai output dari aktivitas pariwisata paling banyak terjadi di sektor penyediaan makanan dan minuman yang secara statistik jumlahnya mencapai sekitar 38,6% dari total nilai output yang dihasilkan oleh aktifitas pariwisata,” tutur Adi.

Baca Juga:  Jadi Primadona, 3 Pantai Makin Memesona

Kemudin, anggota Tim Penyusun Nesparda Sumbar lainnya Dr. Sari Lenggogeni yang juga Direktur Tourism Development Centre (TDC) Universitas Andalas menjelaskan selain sektor ekonomi, dampak dari pariwisata akan mempengaruhi sektor lainnya seperti transportasi, pertanian dan perdagangan.

Maka, lanjut Sari, untuk mengetahui dan mempelajari dampak ini diperlukan suatu kajian atau alat analisis berupa table Input-Output (I-O) yang disusun menjadi Nesparda. Dilakukan untuk pembangunan kepariwisataan yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

“Nesparda disusun sebagai bentuk alat untuk mengukur kontribusi pariwisata dalam perekonomian Sumatera Barat,” kata Sari Lenggogeni yang akrab disapa Ririe.

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Novrial saat membuka FGD berharap Sumatera Barat mempunyai baseline data yang bisa dipertanggungjawabkan untuk dasar perencanaan, pengembangan dan pembangunan pariwisata.

“Melalui Nesparda, Kami juga ingin mengetahui secara riil kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Sumatera Barat,” harap Novrial.

Tim Penyusun Nesparda Sumatera Barat melibatkan akademisi dari LPPM IPB University, Universitas Andalas, Universitas Dharma Andalas dan STKIP PGRI.

FGD ini mengundang para Kepala Dinas Kabupaten dan Kota se-Sumatera Barat beserta staf yang bertanggung jawab soal data, Asosiasi Kepariwisataan dan Perguruan Tinggi yang memiliki jurusan Pariwisata.(rel/idr)