Tanpa Ganti Nama, Ini Desain Platform Puncak Paku Mandeh

694

Masyarakat di Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh berterima kasih kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yang telah berkunjung dan mempromosikan destinasi wisata di Kabupaten Pesisir Selatan.

Apalagi, Menparekraf Sandiaga Uno bersama Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy dan Bupati Pesisisr Selatan (Pessel) Rusma Yul Anwar, juga mendukung dibangunnya Viewing Platform Puncak Paku untuk memudahkan pengunjung menikmati panorama kawasan wisata Mandeh.

Hal itu diungkapkan Renggo Pernanda, tokoh muda kawasan Mandeh, Koto XI Tarusan, Pessel, Minggu (25/4/2021).

Realisasi pembangunan Viewing Platform Puncak Paku itu, kata Renggo, sudah ditunggu masyarakat sejak lama.

“Pembangunan Viewing Platform ini telah dinantikan masyarakat selama 4 tahun sejak desain ini selesai pada tahun 2017 lalu,” ungkap Renggo.

Sosok arsitek jebolan Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta (UBH) ini, juga menjelaskan terkait filosofi “Puncak Paku” yang sebelumnya menuai pro-kontra karena diusulkan bupati namanya diganti jadi “Puncak Jokowi”.

Menurut Renggo, nama Puncak Paku diambil dari tanaman paku/pakis (Pteridophyta) menjadi tanaman yang filosofis dan familiar di tengah masyarakat Minangkabau yang menjadikan “Alam sebagai Guru”. Kemudian diadopsi dalam bentuk ukiran Minangkabau “Kaluak Paku Kacang Balimbiang”

Proses pemberian nama Puncak Paku disebabkan karena radius manuver kendaraan yang kecil dan tergolong ekstrem menyerupai “Kaluak Paku” dan hanya bisa dilalui kendaraan tertentu (sebelum pembangunan jalan nasional). “Sebab itu masyarakat mengenal puncak tersebut dengan nama Puncak Paku,” imbuhnya.

Sehubungan dengan nama yang filosofis tersebut, Renggo  mendesain Viewing Platform ini menggunakan analogi bentuk dari tanaman paku/ pakis sebagai platform yang memudahkan akses pengunjung saat menikmati panorama Puncak Paku.

Terkait usulan penggantian nama puncak Paku menjadi Puncak Jokowi dengan maksud “rebranding”, kata Renggo perlu dikaji ulang.

“Karena pemberian nama Puncak Paku barawal dari proses filosofis sehingga nama tersebut melekat di tengah masyarakat,” katanya.

Namun demikian, kata Renggo, desain Viewing Platform ini juga sebagai milestone atau tonggak sejarah kunjungan Presiden Jokowi ke Kawasan Mandeh tahun 2015.

“Puncak Paku adalah salah satu tempat yang dikagumi dan dikunjungi Presiden Jokowi. Karena itu, desain Viewing Platform ini juga merepresentasikan sebuah “monumen” Pencanangan Kawasan Mandeh sebagai Destinasi Wisata Nasional, diharapkan menjadi Landmark di kawasan Mandeh,” katanya.

Renggo memberikan branding alternatif tanpa harus mengganti nama Puncak Paku, tapi cukup memberikan nama untuk monumen baru tersebut dengan nama “Monumen Presiden Jokowi”.

Baca Juga:  Tindaklanjuti Kunjungan ke Sumbar, Kemenparekraf Bergerak Cepat

“Whatever the name. Dengan niat baik ini, mudah-mudahan pembangunan Viewing Platform ini benar-benar terwujud,” harapnya.

Anak Muda Kreatif Mandeh

Sejak lama, Renggo dikenal telah banyak berkontribusi nyata dalam pembangunan kawasan Mandeh. Sebelumnya, Renggo mendesain Outdoor Amphitheater Sungai Nyalo yang menjadi sentral pertunjukan seni refresentatif di Kawasan Wisata Bahari Mandeh.

Tribun penonton di Amphitheater itu berbentuk lengkung setengah lingkaran dengan view terpusat ke arah panggung namun memiliki orientasi ke arah matahari terbenam.

Untuk merealisasikan berbagai desain tersebut, Renggo mengaku intens berkomunikasi dengan tokoh Minang, Andrinof Chaniago yang pernah jadi Menteri PPN/ Kepala Bappenas kabinet Jokowi dan sejak awal mendorong pembangunan Mandeh.

Anak ketujuh dari delapan bersaudara itu juga mendesain Rest Area Sei Gemuruh. Salah satu area unggulan yang masuk dalam masterplan Mandeh.

Rest area dibangun karena belum ada sarana dan prasarana pendukung, seperti tempat bersantai, ruang ganti dan toilet yang membuat wisatawan kurang nyaman ketika berkunjung.

Sei Gemuruh dikenal sebagai tempat pemandian air tawar yang sejuk karena berada dekat air terjun pengunungan. Kawasan ini memiliki hutan taman mangrove yang cukup lebat.

Renggo yang telah bekerja sebagai arsitek di Bandung ini, terpanggil pulang kampung dan mencoba berkontribusi dengan menawarkan karyanya untuk Mandeh.

Renggo memiliki sejumlah prestasi yang membanggakan, di antaranya Juara 2 Sayembara Arsitektur Tingkat Nasional “Sayembara Renovasi Gedung PT Pelabuhan Indonesia IV Makassar tahun 2014, Juara Sayembara Arsitektur Tingkat Nasional “Sayembara Penjaringan Prakarsa Masyarakat dan Pencanangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan 2014, Lulusan Terbaik Tingkat Program Studi tahun 2014, Penerima Piagam Penghargaan Mahasiswa Berprestasi dari Rektor UBH pada Dies Natalis ke-33 UBH tahun 2014.

Sebagai putra asli Mandeh, Renggo juga ikut berkontribusi bersama para pemuda dalam pembedayaan masyarakat dalam kegiatan sadar wisata. Seperti menggerakkan kegiatan Tour de Mandeh (TdM), Kemah Persahabatan Anak Pesisir (KPAP) yang dihadiri Tristan Alif Naufal dan lainnya.

Renggo berharap sumber daya manusia di kawasan Mandeh menjadi pelaku wisata yang kreatif dan inovatif. Iapun menginisiasi pendirian JG, wadah komunitas pemuda kreatif di kawasan Mandeh.(elf/esg)

Previous articleDokter Spesialis Jantung SPH: Kenali Gejala & Faktor Penyakit Jantung
Next articleSatu-satunya di Indonesia, UNP Punya Prodi Kedokteran Olahraga