Tren Pariwisata Berubah, Identifikasi Destinasi Minus Penyebaran Korona

44
Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas tentang tatanan normal baru di sektor pariwisata. (Foto: BPMI Setpres)

Tren pariwisata dunia diprediksi akan berubah selepas pandemi Covid-19. Ke depan, persoalan kesehatan, kebersihan, keselamatan, dan keamanan akan menjadi isu utama bagi dunia pariwisata.

Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas mengenai tatanan normal baru (new normal) di sektor pariwisata yang produktif dan aman dari Covid-19 menyebut bahwa hal tersebut harus dapat diantisipasi para pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Sehabis pandemi ini kita harus melakukan inovasi, perbaikan-perbaikan, sehingga bisa cepat beradaptasi dengan perubahan tren yang kemungkinan besar nanti akan terjadi di dunia pariwisata global,” ujarnya melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (28/5/2020).

Di antara sejumlah tren dan pergeseran yang diperkirakan bakal terjadi selepas pandemi, misalnya referensi berwisata yang berubah menjadi berlibur sendirian, tertarik pada wisata kesehatan, wisata virtual hingga staycation.

“Perubahan dan pergeseran pola wisata tersebut menjadi sangat penting untuk dipahami,” ingatnya.

Selain itu, karena isu keselamatan dan kesehatan lebih diprioritaskan para pelancong, maka diperlukan pula protokol tatanan normal baru bagi sektor pariwisata.

Presiden menegaskan bahwa protokol tersebut nantinya harus mampu menjawab isu-isu berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan sehingga wisatawan dapat berwisata dengan aman dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Mulai dari protokol kesehatan yang ketat di sisi transportasi, hotel, restoran, dan area-area wisata yang kita miliki. Sebagai perbandingan saya minta lihat benchmark di negara lain yang juga sudah menyiapkan ini dengan kondisi new normal di sektor pariwisata,” jelasnya.

Protokol kesehatan harus menjadi sebuah pedoman dan kebiasaan baru di sektor pariwisata yang diaplikasikan secara luas dan konsisten.

Jokowi berpandangan hal tersebut dapat dicapai dengan sosialisasi masif disertai pengawasan, uji coba, serta simulasi terencana mengenai protokol kesehatan.

“Standar protokol kesehatan itu betul-betul dijaga di lapangan karena ini risikonya besar. Begitu ada imported case, kemudian ada dampak kesehatan, maka citra pariwisata yang (menjadi) buruk itu akan bisa melekat dan akan menyulitkan kita memperbaikinya lagi,” tukasnya.

Sementara itu, untuk mendukung sektor pariwisata agar dapat kembali bergeliat selepas pandemi, pemerintah sudah harus mulai menyiapkan strategi khusus dalam promosi pariwisata di fase produktif dan aman dari Covid-19 atau tatanan normal baru.

Oleh karena itu, destinasi wisata di daerah-daerah yang diketahui sudah mulai menunjukkan penurunan penyebaran Covid-19 harus segera diidentifikasi.

“Saya minta diidentifikasi daerah-daerah tujuan wisata yang memiliki R0 (tingkat penularan awal) dan Rt (angka reproduksi) di bawah 1 sehingga betul-betul secara bertahap kita bisa membuka sektor pariwisata, tapi dengan pengendalian protokol yang ketat,” ucapnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menugaskan Menteri Pariwisata menyusun program pariwisata di dalam negeri yang aman dari Covid-19, termasuk menggencarkan promosi produk-produk lokal dalam atraksi pariwisata.

Tentunya hal tersebut harus didahului dengan kontrol dan penerapan protokol kesehatan yang ketat di lapangan.

“Mengenai kapan waktunya ini tolong tidak usah tergesa-gesa, tetapi tahapan-tahapan yang tadi saya sampaikan dilalui dan dikontrol dengan baik,” tandasnya.(esg)