PADEK.JAWAPOS.COM-Tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati Pasaman beradu gagasan dalam debat publik di Auditorium RRI Padang, kemarin. Ini sebagai bagian dari rangkaian Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Pasaman yang dijadwalkan digelar pada Sabtu (19/4) mendatang.
Ketiga pasangan calon adalah pasangan nomor urut 1 Welly Suheri-Parulian Dalimunte, pasangan nomor urut 2 Mara Ondak-Desrizal, dan pasangan nomor urut 3 Sabar AS-Sukardi.
Salah satu tema debat mengusung Pembangunan Kolaboratif dan Daya Saing Menuju Pasaman yang Lebih Baik”. Agenda ini menjadi sarana memperkuat informasi publik dalam memilih pemimpin daerah, sekaligus forum penajaman visi dan misi ketiga kandidat.
Isu kehutanan menjadi pembahasan dalam debat kali ini, khususnya keberadaan hutan lindung di wilayah Pasaman yang masih cukup luas.
Pasangan nomor urut 1, Welly Suheri-Parulian Dalimunte, melontarkan pertanyaan kepada pasangan nomor urut 2 tentang bagaimana mempertahankan kawasan hutan lindung serta kontribusi negara dalam mendukung pengelolaannya.
Menjawab pertanyaan itu, Mara Ondak dari paslon 2 menegaskan bahwa negara seharusnya lebih mandiri dalam pengelolaan kawasan hutan, baik dari aspek kehutanan maupun sosial.
Menurutnya, penguatan kelembagaan lokal dan edukasi kepada masyarakat sekitar hutan perlu menjadi prioritas.
“Hutan lindung bukan hanya tanggung jawab negara, tapi juga daerah. Yang terpenting adalah pendekatan sosial dan peran aktif masyarakat,” kata dia. Paslon 1 menanggapi dengan menyebut bahwa luas hutan lindung di Pasaman harusnya menjadi kekuatan ekonomi daerah bila dikelola dengan kolaboratif.
Debat terus berjalan, ketika pasangan nomor urut 2 mengajukan pertanyaan kepada pasangan nomor urut 3 mengenai peran strategis Pemerintah Kabupaten Pasaman dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Menanggapi pertanyaan itu, Sabar AS selaku paslon 3 menyatakan bahwa dirinya akan memperbaiki program-program pembangunan yang sudah berjalan selama ini. Ia menyebut koordinasi yang baik dengan sekda dan para kepala dinas sebagai titik awal membenahi pelayanan publik.
Namun, jawaban ini langsung dikritisi paslon 2 Mara Ondak. Ia menilai paslon 3 tidak memahami konsep governance-centric atau tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada masyarakat.
“Kalau kita harus mengerti konsep Behavior-centric, kalau jawab itu tidak nyambung, yang kita bicara prioritas masyarakat,” tegas Mara.
Respons balik datang dari Sabar AS yang menyanggah penggunaan bahasa asing oleh paslon 2. “70 persen masyarakat Pasaman tidak mengerti bahasa Inggris. Jadi, yang penting itu pemerintah yang bersih dan kesejahteraan warga,” ucapnya.
Pasangan nomor urut 3 kemudian berbalik melemparkan pertanyaan ke paslon 1 tentang strategi meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pasaman yang diketahui masih rendah.
Paslon 1, Welly Suheri mengakui bahwa IPM Pasaman merupakan salah satu yang terendah di Sumatera Barat. Ia menyebut tiga indikator utama yang perlu perhatian khusus: kesehatan, pendidikan, dan pendapatan per kapita.
“Kita perlu pengawasan dan evaluasi yang lebih ketat terhadap program-program kesehatan dan pendidikan. Perluasan layanan dasar harus jadi prioritas,” kata dia
Namun, Sabar AS kembali menyoroti tantangan keuangan daerah yang terbatas. Ia menilai bahwa terobosan diperlukan agar peningkatan IPM bisa berjalan meski dengan anggaran yang ketat.
Welly menjawab, dengan menekankan pentingnya komunikasi intensif dengan pemerintah pusat.
“Seorang kepala daerah harus punya komitmen kuat dan koneksi ke pusat agar bisa membawa program-program nasional ke daerah,” tegasnya.
Salah satu strategi yang disorot paslon 1 adalah pengembangan sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi berbasis rakyat. “Kita punya potensi pertanian yang besar. Ini yang akan kita dorong untuk mendongkrak pendapatan masyarakat,” katanya.
Selama debat berlangsung, gaya penyampaian masing-masing kandidat turut menjadi sorotan. Paslon 1 tampil dengan narasi teknokratis, menekankan data dan strategi.
Paslon 2 berfokus pada upaya memperbaiki pemerintahan yang ada. Sementara paslon 3 mengedepankan pendekatan pragmatis yang berulang kali menekankan pentingnya kesederhanaan dalam berkomunikasi dengan masyarakat. (cr1)
Editor : Novitri Selvia