Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kekeringan, Petani Beralih Tanam Jagung

S
Penulis: Syamsu Ridwan❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM -- Krisis pasokan air yang melanda lahan pertanian di Kecamatan Lampasi Tigo Nagari (Latina), Kota Payakumbuh, dalam beberapa bulan terakhir memaksa para petani mengubah pola tanam.

Demi menjaga lahan te­tap produktif, sebagian pe­tani di Kelurahan Sungai Du­rian dan Parik Muko Aia memilih mengganti tanaman padi dengan jagung.

Perubahan komoditas ter­sebut dilakukan sebagai langkah bertahan di tengah keterbatasan air yang dinilai tidak lagi mencukupi kebutuhan budidaya padi.

Advertisement

Namun, harapan untuk memperoleh hasil yang le­bih baik belum sepenuhnya terwujud karena harga jual jagung di tingkat petani justru mengalami penurunan.

Dalam dua pekan terakhir, harga jagung tercatat berada di kisaran Rp 6.000 per kilogram, turun dari harga normal yang biasanya ber­kisar antara Rp 6.500 hingga Rp 7.000 per kilogram.

Salah seorang petani di Kecamatan Latina, Amri, me­ngatakan peralihan ke tanaman jagung dilakukan karena pasokan air untuk sawah semakin terbatas. “Kami terpaksa beralih menanam jagung sejak bebe­rapa bulan lalu karena pasokan air untuk lahan pertanian sa­ngat terbatas,” ujarnya.

Advertisement

Hal senada disampaikan Masril, petani asal Kelurahan Sungai Durian. Menurutnya, harga jagung saat ini belum mampu memberikan keuntungan yang sepadan dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan petani.

Ia menjelaskan, hasil pa­nen jagung selama ini menjadi salah satu sumber pasokan utama bahan baku pakan ternak ayam di wilayah sekitar. Karena itu, petani berharap harga kembali membaik agar usaha pertanian tetap memberikan keuntungan. “Ideal­nya, kami berharap harga jual jagung bisa kem­bali naik minimal di angka Rp 7.000 per kilogram agar keuntungan petani bisa lebih terasa,” kata Masril.

Di tengah penurunan har­ga hasil panen, petani menga­ku masih mendapat sedikit ke­ringanan dari kebijakan peme­rintah terkait penuru­nan harga pupuk bersubsidi yang mulai diberlakukan sejak ak­hir tahun lalu.

Menurut Amri, kebijakan tersebut membantu mengura­ngi biaya produksi sehi­ngga beban petani tidak semakin berat di tengah kondisi kekeringan. “Kami sangat terbantu dengan turunnya harga pupuk bersubsidi ini. Setidaknya bisa memangkas biaya modal di tengah situasi sulit air,” ujarnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Irigasi Putus Total di Tigo Jangko Tanahdatar, 700 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Irigasi Putus Total di Tigo Jangko Tanahdatar, 700 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Irigasi di Tigo Jangko Tanahdatar putus total akibat longsor, 700 hektare sawah warga terancam kekeringan dan gagal dialiri air.

Kemarau, Krisis Air Bersih Mengancam

Kemarau, Krisis Air Bersih Mengancam

Musim kemarau yang melanda sejumlah daerah di Sumbar mulai berdampak kepada ketersediaan air bersih.

Kemarau, Produksi Air PDAM Terdampak

Kemarau, Produksi Air PDAM Terdampak

Perumda Air Minum Kota Padang menyatakan musim kemarau mulai berdampak pada produksi dan pelayanan air bersih. Manajemen mengimbau karyawan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer