Pantauan di lokasi, Kamis (01/01/2025), menunjukkan hanya satu lantai bagian depan yang masih difungsikan dari total empat lantai gedung.
Sebagian besar area lainnya tampak kosong dan minim aktivitas. Lorong-lorong yang sebelumnya ramai pengunjung kini terlihat lengang, dengan banyak kios dan toko tutup.
Salah seorang pengunjung, Retno (27), mengaku merasakan perubahan signifikan suasana pusat perbelanjaan tersebut dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Dulu kalau ke sini ramai sekali, sekarang sunyi dan banyak toko tutup. Rasanya sudah tidak seperti pusat perbelanjaan lagi. Saya biasanya hanya mampir sebentar,” ujar Retno.
Kondisi serupa dirasakan pedagang yang masih bertahan. Habibah (37) mengatakan jumlah pembeli terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Pembeli sekarang jauh berkurang, kadang seharian hanya beberapa orang. Kami bertahan karena belum ada pilihan lain. Mudah-mudahan ada perubahan ke depan,” kata Habibah.
Menurut pedagang, perubahan pola belanja masyarakat, kehadiran pusat perbelanjaan baru, serta maraknya belanja daring menjadi faktor utama sepinya Ramayana Payakumbuh.
Satpam gedung, Joko (42), yang telah lama bertugas, menyebut kondisi saat ini sangat kontras dengan masa kejayaan pusat perbelanjaan tersebut.
“Sekitar tujuh sampai sepuluh tahun lalu, tempat ini merupakan mal terbesar di Payakumbuh. Setiap hari selalu dipadati pengunjung dari berbagai daerah,” ungkap Joko.
Penurunan aktivitas juga terlihat dari kondisi fisik bangunan. Eskalator menuju lantai atas tidak lagi berfungsi dan sejumlah fasilitas tampak kurang terawat.
Meski demikian, pedagang dan pengunjung berharap Ramayana Payakumbuh dapat kembali dimanfaatkan secara optimal melalui upaya revitalisasi. (cr7)
Editor : Hendra Efison