Pantauan Padang Ekspres di lokasi menunjukkan kawasan Batang Agam ramai dikunjungi warga sejak sore hari untuk berolahraga, bersantai, dan menikmati suasana sungai yang telah tertata.
Di tengah aktivitas pengunjung, sejumlah warga membuka lapak usaha kecil, termasuk penjual kawa, minuman berbahan daun kopi sangrai yang diseduh secara tradisional.
Anto, pedagang kawa asal Tanjung Pauh, mengatakan ramainya kawasan Batang Agam memberikan peluang ekonomi bagi warga sekitar.
“Kalau tempatnya ramai dan nyaman, orang pasti ingin duduk lama. Di situ peluangnya. Kawa ini minuman tradisional, tapi masih banyak yang suka,” kata Anto kepada Padang Ekspres.
Ia menyebutkan, sebelum kawasan sungai ditata sebagai ruang publik, aktivitas ekonomi warga di sekitar Batang Agam relatif terbatas.
“Sekarang hampir setiap sore ada pengunjung. Dagangan kami jadi lebih laku dan membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Anto menilai daya tarik kawa terletak pada kesederhanaan dan cita rasa tradisional yang masih diminati, termasuk oleh generasi muda.
Salah seorang pengunjung, Erfin (24), mengaku menikmati suasana Batang Agam sambil minum kawa karena memberikan pengalaman berbeda dibandingkan kafe tertutup.
“Minum kawa di sini rasanya lebih nikmat. Suasananya sejuk dan terasa khas Payakumbuh,” kata Erfin.
Pemanfaatan kawasan Batang Agam sebagai ruang publik dinilai mendorong interaksi sosial sekaligus membuka peluang usaha berbasis kearifan lokal bagi masyarakat sekitar.(cr7)
Editor : Hendra Efison