Pembelajaran Matematika Mahasiswa di Era Revolusi Industri 4.0

Yarman

Universitas Negeri Padang

Revolusi industri 4.0 menuntut dan mendorong reformasi pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perubahan cepat yang disebabkan hadirnya revolusi industri 4.0 membutuhkan penyesuaian di berbagai sendi kehidupan, termasuk bidang pendidikan.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya saat melantik ratusan perwira remaja TNI dan Polri di depan Istana Merdeka, Jakarta, 16 Juli 2019 mengatakan bahwa di era revolusi industri 4.0 ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat, bahkan maha cepat. “Revolusi industri 4.0 telah melahirkan banyak teknologi baru. Teknologi yang mengubah cara-cara hidup masyarakat dunia,” ujarnya saat berpidato.

Di satu sisi, revolusi industri lebih memudahkan manusia dalam menjalani hidupnya. Namun di sisi lain, sumber daya manusia secara tidak langsung akan digantikan oleh mesin dan teknologi. Hal ini berdampak pada generasi selanjutnya yang perlu mengembangkan dirinya agar mampu bertahan. Indonesia, sebagai salah satu warga dunia, membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

Pengembangan SDM yang berkualitas merupakan tugas dari sistem pendidikan (Ningrum, 2016), salah satunya perguruan tinggi. Perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga kerja wajib membekali mahasiswa dengan hardskill-softskill melalui proses perkuliahan, termasuk juga perkuliahan matematika.

Pembelajaran matematika sebagai komponen kunci sistem pendidikan di Indonesia harus mampu diadaptasikan untuk menjawab tantangan kebutuhan belajar mahasiswa yang selaras dengan dinamika perubahan oleh revolusi industri 4.0.

Pembaharuan pembelajaran matematika adalah keniscayaan, esensial dan mendesak dilakukan. Pembelajaran matematika harus didesain dan dilaksanakan bagi perwujudan generasi baru yang siap menghadapi ketidakpastian dan perubahan ini.

Pembelajaran matematika selama ini dianggap hanya mampu mengembangkan hardskill bagi mahasiswa, hanya terkait dengan rumus dan kemampuan berhitung saja. Padahal banyak aspek softskill yang dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran matematika. Oleh karena itu perlu inovasi agar pembelajaran matematika mampu memberikan hardskill sekaligus softskill bagi mahasiswa.

Artikel ini diharapkan dapat memberikan paradigma baru dalam melihat dan menyelenggarakan pembelajaran matematika serta mencoba meningkatkan kemampuan softskill dan hardskill melalui rekonstruksi pembelajaran matematika.

Salah satu mata kuliah matematika yang di rekonstruksi pembelajarannya di sini adalah persamaan diferensial biasa (PDB). Persamaan diferensial biasa seringkali muncul dalam model matematika dari permasalahan kehidupan nyata.

Hukum-hukum alam dan hipotesa-hipotesa banyak pula yang dapat diterjemahkan ke dalam PDB ini. Aspek hardskill yang menjadi perhatian di sini adalah tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi PDB yang diajarkan, sedangkan aspek softskill yang menjadi perhatian adalah kemampuan berkomunikasi matematis mahasiswa.

Mahasiswa diharapkan dalam mempelajari PDB tidak hanya sekedar mempelajari bagaimana mencari solusi dari sebuah PDB, tetapi yang tidak kalah penting adalah memahami konsep teoritis nya secara mendalam.

Hal ini sesuai dgn tuntutan KKNI untuk kualifikasi Sarjana pada level 6. Supaya memenuhi kualifikasi KKNI tersebut, pembelajaran di perguruan tinggi mesti memfokuskan pada dua hal penting sekaligus, yaitu tataran teoritis dan tataran aplikatif. Mahasiswa harus difasilitasi dengan caranya sendiri untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika. Melalui cara ini mahasiswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep matematika.

Gravemeijer (2013) memanfaatkan realistic mathematics education (RME) sebagai pendekatan dalam proses penemuan kembali konsep-konsep matematika. RME memahami matematika sebagai aktivitas manusia, pembelajaran matematika adalah melakukan (doing) matematika. Hal ini bermakna bahwa matematika harus dekat dengan mahasiswa dan relevan dengan setiap situasi kehidupan nyata.

Baca Juga:  Perempuan Berpendidikan, Perlukah?

Agar penemuan kembali konsep PDB oleh mahasiswa lebih bermakna, penulis mecoba mengembangkan alur belajar topik PDB memanfaatkan pendekatan RME,

dalam hal ini pengembangan local instructional theory (LIT) untuk perkuliahan PDB. LIT yang telah dihasilkan memperlihatkan proses pembelajaran berpusat pada mahasiswa. Interaksi yang terjadi multi arah sehingga mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal bekerjasama, kemandirian, dan berkomunikasi.

Pembelajaran berbasis RME harus memenuhi enam prinsip berikut, (1) prinsip aktivitas (activity principle), mahasiswa diperlakukan sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran; (2) prinsip realitas (reality principle), belajar matematika harus dimulai dari masalah kontekstual; (3) prinsip level (level principle), belajar matematika berarti melewati beberapa tahapan yang dimulai dari konteks informal dan dengan memanfaatkan berbagai model dan skema menuju matematika yang lebih formal; (4) prinsip keterkaitan (intertwinement principle), mengintegrasikan berbagai topik matematika dalam satu kegiatan pembelajaran: (5) prinsip interaktivitas (interactivity principle), pembelajaran matematika tidak hanya merupakan aktivitas individu tetapi juga aktivitas social; dan (6) prinsip bimbingan (guidance principle), penemuan kembali secara terbimbing. Dosen harus berperan aktif untuk memfasilitasi dan memotivasi pembelajaran mahasiswa untuk mencapai pemahaman yang bermakna.

Alur belajar topik PDB dikembangkan di sini terdiri dari lima aktivitas pembelajaran, yaitu: menemukan kembali konsep-konsep PDB variabel terpisah, eksak, faktor integrasi, linier, dan Bernoulli. Penemuan kembali topik-topik ini memanfaatkan masalah kontekstual yang relevan.

Aktivitas pembelajaran untuk menemukan kembali PDB variabel terpisah, diawali dengan meminta mahasiswa menyelesaikan masalah kontekstual dari pertumbuhan penduduk. Selanjutnya, mahasiswa mendata faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan penduduk dan menyatakan hubungan-hubungan matematis nya.

Model matematis yang diperoleh ini baru berupa model informal, untuk mendapatkan model formalnya digunakan konsep laju perubahan sesaat untuk mendekati laju perubahan rata-rata, yang akhirnya mahasiswa menemukan konsep PDB variabel terpisah.

Aktivitas-aktivitas pembelajaran untuk menemukan empat konsep selebihnya, yaitu konsep-konsep PDB eksak, faktor integrasi, linier, dan Bernoulli. Berturut-turut diawali dengan masalah-masalah kontekstual dari tekanan udara, larutan, rangkaian listrik, dan kesetimbangan harga.

Selanjutnya, mahasiswa mendata faktor-faktor yang dapat mempengaruhi setiap permasalahan kontekstual tersebut dan menyatakan hubungan-hubungan matematis nya masing-masing. Model matematis informal yang diperoleh ini dilanjutkan lagi untuk mendapatkan model formalnya dengan menggunakan konsep laju perubahan sesaat untuk mendekati laju perubahan rata-rata, yang akhirnya mahasiswa menemukan sendiri bentuk konsep-konsep PDB eksak, faktor integrasi, linier, dan Bernoulli.

Alur belajar yang dihasilkan ini diuji cobakan kepada mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA UNP. Hasilnya menunjukkan bahwa alur belajar mampu memfasilitasi mahasiswa menemukan kembali konsep PDB. Kondisi ini berarti mahasiswa mampu membangun strategi untuk memperoleh model sendiri dalam menemukan konsep teoritis PDB (hard skill). Selain itu, alur belajar yang dihasilkan dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa (soft skill). (*)

Artikel ini ditulis berdasarkan Disertasi penulis yang berjudul: Pengembangan Local Instructional Theory untuk Perkuliahan Persamaan Diferensial Biasa, untuk menyelesaikan S-3 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Padang, dengan Tim Promotor Prof Dr Ahmad Fauzan, MPd, MSc, Prof Dr Lufri, MS, dan Dr Armiati, MPd.

Previous articlePemerintah kembali Terima 10 Juta Dosis Vaksin Sinovac
Next articleBerikut Alasan Satgas Hentikan Tiktok Cash dan Snack Video