Pemilu Malaysia Dipercepat, Anwar Optimistis, Mahathir Cari Parpol

35
Anwar Ibrahim bersama istrinya, Wan Azizah Wan Ismail (kiri) dan Mahathir Mohamad (kanan). (net)

Pemilu Malaysia dipercepat tahun ini. Tiga kubu utama di koalisi memiliki kans sama-sama kuat untuk mengusung pemimpinnya menjadi orang nomor satu di Malaysia. ”Saya tidak ingin berusia 95 tahun dan masih mengejar peran menjadi perdana menteri (PM).”

Hanya Anwar Ibrahim yang tahu kalimat yang dilontarkannya saat diwawancarai Mingguan Malaysia tersebut sekadar guyonan ataukah sebuah sindiran. Yang jelas, salah seorang lawannya, mantan PM Mahathir Mohamad, memang sudah berusia 95 tahun.

Anwar menampik tudingan bahwa dirinya gagal dalam usahanya menjadi PM. Sejak berkarier di dunia politik, suami Wan Azizah Wan Ismail itu memang berkali-kali maju sebagai calon pemimpin Malaysia. Namun, nasib berkata lain. Setiap ada jalan, ada saja yang menimpa Anwar dan membuatnya kehilangan kesempatan. Yang terakhir dijegal Mahathir.

Koalisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin Anwar menang pada Pemilu 2018. Namun, gara-gara dia masih berada di balik jeruji besi, Mahathir yang bergabung di PH diusung menjadi PM. Dengan catatan, dia hanya berkuasa selama dua tahun. Setelah itu, kekuasaan diberikan kepada Anwar selepas dari penjara.

Sayangnya, menjelang tahun kedua, Mahathir berulah. Dia mengundurkan diri serta sempat terjadi krisis politik dan kekosongan kekuasaan di Malaysia. Entah bagaimana, Raja Abdullah justru memilih Muhyiddin Yassin sebagai penggantinya, bukan Anwar.

Meski begitu, pemimpin Partai Keadilan Rakyat (PKR) tersebut tetap yakin suatu hari nanti dirinya menjadi PM. Anwar mengakui bahwa jalannya untuk menuju Putrajaya memang terjal karena elit politik dan orang-orang kaya tidak menginginkannya.

”Sebab, mereka berpikir saya terlalu berbahaya. Saya akan menggunakan semua kekuatan yang menjadi otoritas untuk menghentikan hal-hal yang keterlaluan,” ujar Anwar kepada Direktur Center for Global Policy, Washington, AS, Azeem Ibrahim.

Jika belum berhasil menjadi PM pada pemilu tahun ini, Anwar tetap berjuang di pemilu berikutnya. Bila kembali gagal, Anwar akan menyerahkan peluang yang tidak bisa diraihnya itu kepada kandidat partai yang lebih muda.

Profesor di Universitas Malaya Awang Azman bin Awang Pawi menuturkan, Anwar bakal mengubah Malaysia secara fundamental jika terpilih sebagai PM. Malaysia mungkin akan menjadi negara yang lebih baik. ”Itu bakal menjadikannya PM pertama dari sebuah partai multiras dan multiagama dalam sejarah Malaysia,” ungkap Awang.

Meski ditetapkan tahun ini, tanggal pelaksanaan pemilu belum diumumkan. Di pihak lain, Mahathir justru masih membuat publik bertanya-tanya. Dia pernah bilang tidak akan maju lagi. Namun, politikus yang menjadi PM terlama di Malaysia itu meralat lagi ucapannya. Menurut dia, banyak orang yang mendukungnya untuk terus maju berpolitik.

Baca Juga:  Kerusuhan Pecah di Minneapolis

Sang putra, Mukhriz Mahathir, khawatir dengan kondisi kesehatan ayahnya jika terus berpolitik. ”Kami harus ingat bahwa beliau kini berusia 95 tahun dan berulang tahun ke-96 pada Juli nanti,” ujar Mukhriz seperti dikutip Nikkei Asia.

Jika Anwar sudah memiliki kendaraan untuk melaju dalam pemilu ke-15, tidak demikian dengan Mahathir. Partai Pribumi Bersatu (Bersatu) yang didirikannya bersama Muhyiddin sudah tidak bisa dia pakai. Partai itu kini dikuasai Muhyiddin.

Mahathir membuat partai baru lagi. Namanya Parti Pejuang Tanah Air (Pejuang). Saat ini Mahathir memperjuangkan partai tersebut agar diakui dan bisa ikut dalam pemilu. Pejuang mendaftarkan diri menjadi partai peserta pemilu pada 19 Agustus tahun lalu. Namun, pada 6 Januari lalu Panitera Masyarakat (RoS) menolak pengajuan tersebut.

Kalangan Muda Gugat PM dan Pemerintah
Para pemuda Malaysia enggan menyerah. Mereka tetap ingin ikut dalam pemilu yang digelar tahun ini. Jumat (2/4) sebanyak 18 pemuda Malaysia mengajukan gugatan pada Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, pemerintah federal, dan komisi pemilu (EC).

Gugatan itu dimasukkan ke Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur. Mereka adalah perwakilan dari 1,2 juta pemuda yang bakal diambil haknya untuk ikut pesta demokrasi di Malaysia. Pada masa pemerintahan Pakatan Harapan (PH), parlemen sepakat untuk mengubah batas bawah usia pemilih.

Pemuda berusia 18–20 tahun bakal diperbolehkan memberikan suara. Kebijakan yang disebut Undi18 itu seharusnya berlaku Juli nanti. Namun, beberapa waktu lalu EC menyatakan tidak bisa memenuhi batas waktu tersebut dengan alasan pandemi. EC berjanji para pemuda itu sudah bisa memilih September tahun depan.

Jawaban EC itu dikritisi banyak pihak. Sebab, pemilu yang seharusnya digelar 16 September 2023 itu dipercepat. Jika Undi18 tidak berlaku, mereka tidak bisa ikut dalam pemilu ke-15 tahun ini.

Aksi demo para pemuda digelar di berbagai titik selama beberapa hari terakhir.Para pemuda itu mengajukan 14 perintah pengadilan. Di antaranya, menuntut agar Undi18 tetap berjalan sesuai rencana. Menyatakan tindakan pemerintah menunda implementasi penurunan usia pemilih dari 21 ke 18 tahun adalah tidak rasional, ilegal, tidak proporsional, dan merupakan tindak penindasan pada pemilih.

Para pemuda itu juga mengupayakan perintah pengadilan agar keputusan pemerintah itu dibatalkan.Sementara itu, Presiden Dewan Negara Tan Sri Rais Yatim menjelaskan bahwa UU Pemilu 1958 harus diamandemen lebih dulu agar Undi18 bisa dilaksanakan dalam pemilu nanti. Kenyataannya, saat ini aturan hukum itu belum diubah. Pun demikian dengan UU Tindak Pidana Pemilu. (sha/c14/bay/jpg)

Previous articleErick Thohir Temui Ren Hongbin, Jajaki Kerja Sama Kelola BUMN
Next articleKompor Listrik Diklaim Lebih Hemat