SMA Negeri 1 Padang, Sekolah Favorit Ranah Minang

15
IDOLA: Pintu gerbang masuk ke SMA Negeri 1 Padang dipenuhi dengan bunga-bunga nan indah.(IST)

Woi…! Ini pekan, Laman Guru Padang Ekspres bertandang pada sebuah sekolah yang rindang di tengah Padang. Prestasinya, bikin bangga Ranah Minang.

Alumninya, banyak sudah yang jadi orang-orang gadang. Letjen TNI Dr. (H.C) TNI Doni Monardo yang pernah menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) adalah salah seorang alumni SMA Negeri 1 Padang !

Rabu petang, kita bercakap-cakap dengan Kepala SMA Negeri 1 Padang Drs. Nukman, M.Si. Panggilan akrab beliau Pak Nukman. Orangnya ramah. Ia santun dalam tutrur bahasa. Hobinya main tenis meja. Smesnya, tajam menggila. Bunyi kabar, masa remaja, Pak Nukman memang sudah jago main tenis meja.

Ruang kerjanya, nyaman dan elegan. Ada kopi sore bagai kawan bercawan narasi tentang porestasi dan karya. Sekolah ini terletak di Kelurahan Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatra Barat.

Sebelumnya, sekolah ini beralamat di Jalan Sudirman Nomor 1, Pindah ke Belanti nomor 11 lantaran bangunan sekolah yang lama rusak berat dihoyak gempa bumi pada tahun 2009. Gedung sekolah yang baru ini dibangun di atas lahan seluas 1,6 hektare pada 10 November 2009 ,selesai pada 7 Agustus 2010.

Kata Pak Nukman, SMA Negeri 1 Padang menduduki posisi ke-137 nasional dan ke-3 di Provinsi Sumatera Barat dalam daftar 1.000 besar sekolah dengan nilai rata-rata TPS Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK-SBMPTN) menurut Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi tahun 2020.

Menurut Wikipedia, cikal bakal terbentuknya sekolah ini berkaitan dengan keberadaan Perguruan Menengah Indonesia (Permindo) yang didirikan pada tahun 1949 oleh tokoh-tokoh Republikein di Padang.

Sebelumnya, sekolah-sekolah di Padang masih menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, kecuali Adabiyah School, yang telah berbahasa pengantar Indonesia.

Pada tanggal 2 Mei 1949, beberapa tokoh Republikein termasuk para guru membuka sekolah Perguruan Menengah Indonesia di Padang yang bertempat di bekas gedung Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) di Jati, Padang Timur.

Pada awalnya, Permindo dibagi menjadi enam kelas. Meliputi tingkat SMP dan SMA. Walau berada di bawah pengawasan pemerintah Hindia Belanda, keberadaan Permido yang juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar tidak dipermasalahkan.

Baca Juga:  Unand dan UNP Gelar UTBK Gelombang I

Para guru dan siswa Permindo bebas masuk dan keluar sekolah. Bahkan tokoh-tokoh Republikein dibiarkan menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya di kompleks sekolah ini, seperti upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949.

Setelah diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar, pemerintah Hindia Belanda memindahkan gedung Permindo ke Jalan Balantuang. Kemudian berubah nama menjadi Jalan Soekarno sebelum akhirnya menjadi Jalan Sudirman sampai sekarang.

Pada 2 Januari 1950, Permindo secara resmi terpisah menjadi SMP dan SMA yang masing-masingnya berdiri sendiri dan keduanya pada 1 April 1950 berubah nama menjadi SMP Negeri 1 Padang dan SMA Negeri 1 Padang.

Pada saat itu nama pendiri Adabiyah School, yakni Abdullah Ahmad, diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Jati, begitu pula dengan nama Permindo.

Olala, perlu kita kabarberitakan, ketika gempa tahun 2009 itu gedung sekolah ini mengalamai kerusakan berat akibat gempa bumi berkekuatan 7,9 SR yang meluluhlantakkan Padang dan sekitarnya.

Pada saat itu datang tawaran dari Yayasan Budha Tzu Chi untuk membangun gedung sekolah yang dilengkapi dengan shelter tetapi di lokasi yang berbeda, yakni di kawasan Belanti, Padang Utara.

Namun, karena datang penolakan dari alumni sekolah, tawaran ini kemudian diajukan kepada SMA Negeri 10 Padang. Tetapi akhirnya diminta lagi oleh SMA Negeri 1 Padang karena bantuan yang dijanjikan oleh alumni sebelumnya tak kunjung datang.

Pembangunan gedung sekolah yang baru dimulai dengan peletakan batu pertama pada 10 November 2009. Diresmikan sekitar sembilan bulan kemudian. Yakni pada tanggal 7 Agustus 2010.

Bertepatan dengan tanggal Lahir Kota Padang. Sekitar Rp39 miliar dianggarkan untuk pembangunan gedung ini. Meliputi 42 ruangan belajar, sebuah gedung olahraga, dan masjid. Gedung pembelajaran terdiri dari tiga lantai dilengkapi dengan landasan helikopter (helipad).

Tidak hanya sebagai sarana untuk belajar mengajar, gedung ini juga dijadikan sebagai tempat evakuasi (shelter) warga sekitar bila terjadi gempa yang dikhawatirkan berpotensi tsunami.

Sekolah ini memang salah satu sekolah favorit di ranah Minang. Ya, selamat datang di SMA Negeri 1 Padang. “Prestasi akademis dan nonakademis, sejak dulu hingga sekarang selalu seimbang di SMA Negeri 1 Padang,” ujar Pak Nukman. (PJ)