Soft Skill Siswa Dunia Keteladanan

6
Hj. Indrawati, S. Pd., M. M. Pd Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota

Keberhasilan dan kesuksesan seseorang dalam hidup sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu hard skill dan soft skill. Kedua aspek tersebut haruslah seimbang dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hard skill adalah kemampuan atau keterampilan spesifik yang dimiliki seseorang yang dapat digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan.

Soft skill adalah kepribadian yang melekat pada diri seseorang yang diperlihatkan dalam kehiduan sehari-hari. Hard skill dapat diperoleh seseorang melalui belajar. Artinya, hard skill dapat dipelajari. Sementara soft skill merupakan atribut bawaan yang dapat dimiliki melalui pembiasaan. Soft skill itu, dunianya dunia keteladanan.

Dalam kenyataannya, selama ini kemampuan hard skill selalu dikejar dan menjadi target utama. Sementara membangun soft skill sering terabaikan. Soft skill yang dimiliki seseorang erat kaitan dengan karakter yang melekat pada dirinya. Pembentukan karakter seorang anak harus ada kerjasama antara keluarga, sekolah dan masyarakat.

Maka pembentukan karakter siswa tidak dapat dilepaskan dari peran guru di sekolah.
Menurut PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru, pada pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah.

Tugas seorang guru tidak hanya sekadar transfer of knowledge. Guru perlu mengarahkan sikap prilaku siswa agar menajdi lebih baik. Mendidik, adalah hal yang sering terabaikan di sekolah. Guru lebih foku dalam mengejar pencapaian materi pembelajaran. Padahal mendidik, terkait dengan tugas guru untuk dapat membentuk sikap dan karakter siswa.

Guru harusnya mampu membiasakan nilai-nilai baik agar dimiliki oleh siswanya. Mendidik dan membentuk karakter peserta didik adalah kewajiban bagi setiap guru apapun jenis mata pelajaran yang diampunya.

Teriplementasinya nilai-nilai karakter dengan baik di sekolah apabila warga sekolah mampu mempunyai suatu komitmen dalam menjalankannya. Oleh karena itu, penerapan keteladanan di lingkungan satuan pendidikan menjadi prasyarat dalam pengembangan karakter siswa.

Selain itu masalah membentuk sikap dan karakter atau soft skill seorang anak juga telah diatur dalam agama kita. Sebab seorang anak, kelak harus mampu berada di tengah-tengah masyarakat.

Sikap yang mesti mereka miliki agar dapat hidup layak ditengah-tengah masyarakat antara lain, kemampuan berkomunikasi, kerjakeras, jujur, santun serta berbudi pekerti yang luhur. Semua itu tidak akan mungkin ada begitu saja tanpa adanya peran kita selaku orangtua, guru dan masyarakat dalam menumbuhkannya.

Baca Juga:  HUT ke-20, SMAN 2 Tilatang Kamang Gelar Lomba Lari 5K dan 10K

Jika seorang anak telah dibekali dengan soft skill yang dibutuhkannya, maka dapat dipastikan ia akan mudah ditengah masyarakat kelak.

Namun kekhawatiran masa depan generasi saat ini pada dasarnya disebabkan oleh hilangnya soft skill sebagai bagian dari pembentukan karakter. Perlu adanya kepedulian tiga unsur di atas agar bersama-sama menyiapkan generasi mendatang untuk membekali mereka dengan soft skill yang dibutuhkannya.

Dalam membangun soft skill seorang anak, sebenarnya kita juga dapat mengacu kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Nabi telah banyak meninggalkan suri teladan yang dapat kita pedomani. Diantara ajaran Nabi Muhammad SAW dalam berkomunikasi adalah sebagai berikut, menyuruh lawan bicara mendekat.

Memandang lawan bicara. Memanggil lawan bicara dengan namanya. Jelas dan peka ketika berbicara. Menggunakan isyarat untuk memperjelas isi pembicaraan. Mengajarkan dengan praktek (teladan dan perbuatan). Mulai dari yang umum sampai ke hal yang lebih terperinci dan mengajarkan sesuatu yang penting.

Selain itu dalam hal bersikap pun Nabi juga menganjurkan kita agar rendah hati, lemah lembut, tidak marah tanpa alasan yang jelas serta contoh kebiasaan baik lainnya. (dikutip dari buku: Muhammad SAW, Sang Guru Hebat karangan Prof. Elfindri).

Jadi banyak sekali referensi yang dapat kita pedomani saat ini dalam pembentukan sikap dan karakter anak. Namun yang terpenting adalah harus ada upaya bersama dan secara kontiniu dan sungguh-sungguh.

Jangan sampai kita selaku orangtua atau guru merasa bosan melakukannya. Biarlah pada tahap awal seorang anak merasa terpaksa untuk melakukan pembisaan-pembiasaan baik yang kita ajarkan.

Semoga melalui pembiasaan yang dilakukan secara rutin mereka akan terbiasa melakukannya. Ke depannya kita berharap hal-hal baik yang telah rutin dan biasa dilakukan setiap hari akan menjadi budaya bagai mereka.

Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian bagi kita selaku orangtua dan guru adalah dengan memberikan contoh dan suri tauladan. Sebuah contoh dalam bersikap lebih berarti bagi seorang anak ketimbang banyak nasihat.

Bukankah seorang guru itu adalah orang yang patut digugu dan ditiru? Mari bersama-sama kita tingkatkan kepedulian dalam membangun karakter yang baik bagi siswa dan anak-anak kita. Kita semua harus ikut andil dalam menyiapkan generasi emas yang memiliki karakter yang baik dalam membangun bangsa ini kelak. Semoga (*)