Perubahan ini memungkinkan calon siswa mendaftar ke sekolah terdekat dari rumahnya, meskipun lintas provinsi. Untuk jenjang SD dan SMP, seleksi berdasarkan usia dan jarak rumah ke sekolah. Sementara di tingkat SMA, nilai rapor juga menjadi pertimbangan selain usia dan jarak.
"Perbedaan jalur domisili dan zonasi cukup signifikan. Siswa kini bisa mendaftar ke sekolah terdekat walau beda provinsi, asalkan sesuai domisili," kata salah satu pejabat dinas pendidikan daerah, Minggu (15/6/2025).
Adapun kuota Jalur Domisili dibagi sebagai berikut: SD 70 persen, SMP 40 persen, dan SMA hanya 30 persen dari daya tampung sekolah. Ini berarti terjadi penyusutan kuota di SMA, yang sebelumnya 50 persen saat sistem zonasi masih berlaku.
Perubahan sistem ini kembali memunculkan kekhawatiran bagi sekolah swasta. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kekurangan peserta didik baru menjadi kekhawatiran utama mereka di awal tahun ajaran.
Pakar Pendidikan dari Prodi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Padang (UNP), Dr Fitri Arsih, menjelaskan bahwa sekolah swasta harus lebih aktif menjaring siswa sebelum SPMB negeri dimulai.
"Kita lihat sendiri, banyak sekolah swasta menerima siswa jauh hari sebelum SPMB dibuka. Sekolah swasta harus bisa mem-branding diri agar menarik minat orang tua," ungkap Fitri.
Menurutnya, keunggulan sekolah swasta harus ditonjolkan, baik dari segi pembelajaran, sarana-prasarana, hingga program keterampilan.
“Sekolah swasta harus punya keunggulan dan pencirian khusus, seperti kurikulum lokal-internasional atau program keterampilan unggulan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi dan perubahan pola pikir manajemen sekolah untuk bersaing dengan sekolah negeri.
“Manajemen sekolah harus mampu menjelaskan keunggulan bidang ilmu di sekolah, apakah itu sains, agama, atau olahraga,” ujarnya.
Fitri menyarankan agar sekolah swasta memaksimalkan media sosial sebagai sarana promosi.
“Media sosial bisa dimanfaatkan untuk menonjolkan prestasi siswa dan alumni. Semua pihak di sekolah harus berperan aktif membangun citra positif sekolahnya,” tutupnya.
Dengan sistem SPMB baru dan kuota yang semakin kecil di sekolah negeri, sekolah swasta dituntut lebih siap berinovasi agar tetap menjadi pilihan utama bagi para orang tua. (*)
Editor : Hendra Efison