Penyakit Ginjal pada Anak Pembunuh Diam-diam

23
ilustrasi. (net)

Aumas Pabuti
(Spesialis Anak Konsultan Ginjal Anak RSUP M Djamil/ FK Unand Padang)

Seorang ibu di tercenung dalam, menahan air matanya yang akan tumpah. Seperti disambar petir, telinganya tak sanggup mendengar lebih lanjut ketika dokter menyampaikan bahwa anak tersayangnya harus menjalani cuci darah segera untuk menyelamatkan hidupnya.

Didiagnosis penyakit ginjal saja sudah menjadi tantangan yang besar bagi anaknya dan keluarga mereka. Menjalani pengobatan yang memerlukan waktu kunjungan yang berulang-ulang, sudah cukup menghabiskan energi dan dana tidak sedikit. Apalagi jika harus melakukan cuci darah.

Ya, sakit ginjal bisa menyerang siapa saja, mulai dari usia anak, dewasa dan tua. Lebih kurang 10% populasi di dunia menderita penyakit ginjal kronik (PGK) dan lebih dari 2 juta orang memerlukan cuci darah atau transplantasi ginjal.

Hari Ginjal Sedunia yang diperingati setiap tanggal 11 Maret, bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan penyakit ginjal, dengan tema: ”Hidup berkualitas dengan penyakit ginjal”.

”Melalui identifikasi tepat waktu dan pengobatan yang tepat, harus dipastikan pasien penyakit ginjal dapat hidup sehat dan sukses serta mempertahankan peran dan fungsi sosialnya sesuai prioritas, nilai, dan tujuan hidup mereka. Setiap orang bertanggung jawab membantu peran mereka, dan menyediakan lingkungan kondusif untuk peningkatan kemampuannya dan mendapatkan hasil maksimal dari sistem pelayanan kesehatan,” pernyataan bersama Vivekanand Jha, President of International Society of Nephrology (ISN) dan Siu-Fai Lui, President of International Federation of Kidney Foundations –World Kidney Alliance (IFKF-WKA), pada kampanye Hari Ginjal Sedunia 2021.

Penyakit ginjal pada anak bahkan disebutkan sebagai ’pembunuh diam-diam’. Sering kali penyakit ini tidak terdeteksi sehingga anak datang dalam kondisi yang sudah berat dan membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti cuci darah maupun cangkok ginjal.

Bahkan pada era pandemi sekarang ini, gejala Covid-19 berat juga dapat mengenai ginjal. Sayangnya, hanya 20% anak gagal ginjal yang mendapat perawatan tepat, dan diperkirakan 130 ribu anak akan meninggal, terutama di negara berkembang dengan fasilitas terbatas.

Di Bangsal Anak RSUP M Djamil, hampir setiap bulan terdapat 1-2 anak yang menjalani cuci darah, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Ginjal adalah sepasang organ tubuh manusia, berbentuk seperti kacang, berukuran sebesar kepalan tangan, berfungsi sebagai alat untuk menyaring darah, menyerap kembali zat-zat yang masih dibutuhkan dan membuang zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bagi tubuh, yang dikeluarkan melalui produksi buang air kecil dari saluran kemih.

Fungsi lain adalah mengatur tekanan darah, pembentukan sel darah merah, juga vitamin D. Seperti organ tubuh lain, gangguan pada ginjal dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi, tumor, kelainan bawaan dan imunologi. Dominasi kasus sebagai penyebab penyakit ginjal kronik pada anak adalah infeksi dan kebocoran ginjal akibat gangguan imunologi.

Pernahkah anak Anda mendadak berkemih tiap sebentar, mengedan dan nyeri saat ingin berkemih, anyang-anyangan, ngompol tiba-tiba, urine menetes-netes, dan anak gelisah. Seringkali diawali demam, mual, muntah, nyeri perut, buang air kecil berpasir dan bernanah bahkan bisa berdarah.

Semua ini adalah gejala infeksi saluran kemih (ISK) yang dapat merusak ginjal. Beberapa rutinitas pada anak yang berisiko untuk infeksi saluran kemih dan ginjal adalah berbasuh (cebok) yang tidak benar, sehingga sisa feses yang mengandung bakteri dapat masuk ke saluran kemih. Cebok yang benar adalah dari arah depan ke belakang kemaluan.

Baca Juga:  Mikoriza, Solusi Optimal Serapan Hara Esensial pada Tanah Ultisol

Gaya hidup saat ini yaitu memakai popok sekali pakai yang berlebihan, menyebabkan suasana lembab di sekitar kemaluan bayi, sehingga kuman mudah masuk ke saluran kemih dan ginjal, mengakibatkan infeksi. Untuk mencegahnya, ceboklah dengan benar, gunakan popok sekali pakai hanya saat keluar rumah, paling lama 3 jam per-hari, lebih seringlah pakai popok kain.

Bentuk lain penyakit ginjal pada anak adalah terganggunya fungsi saringan ginjal yang mengakibatkan lolosnya zat-zat penting seperti albumin (protein putih telur dalam darah), sehingga kadarnya menurun dalam darah. Akibatnya muncul gejala sembab pada mata, perut, tungkai dan kemaluan, juga urin berbusa, berawan.

Gejala tambahan adalah hipertensi, peningkatan kolesterol dan asam urat, sehingga disebut sindrom nefrotik. Adanya sembab merupakan munculan yang sering menjadi penyebab orangtua membawa anaknya ke dokter. Pengobatannya memerlukan disiplin dan keteraturan, untuk mencegah terjadinya kerusakan ginjal lanjut.

Konsumsi obat dan makanan juga dapat menjadi racun bagi ginjal, sehingga fungsi ginjal terganggu, berisiko kerusakan ginjal. Perlu dibatasi makanan mengandung pengawet, pewarna dan bahan tambahan lainnya, juga minuman berwarna, bersoda dan penambahan zat lain.

Kandungan garam yang tinggi seperti pada makanan kekinian yang cepat saji, saos sambal, mayonaise dan penyedap rasa juga membebani kerja ginjal. Keracunan jengkol, sering ditemukan di Sumbar, di mana kristal asam jengkol dapat mengendap dan menyumbat di saringan ginjal sehingga urin tidak keluar. Pemakaian obat-obatan secara bebas, termasuk obat herbal juga dapat merusak ginjal anak.

Anak yang terlambat dikenali penyakit ginjalnya, biasanya akan datang dengan keluhan gagal tumbuh, terlihat kecil dibanding anak seusianya, pucat berulang dan buang air kecil dengan jumlah sedikit. Pada anak yang sudah dikenal penyakit ginjal, kontrol tidak teratur juga bisa berakhir dengan gagal ginjal. Tentu saja, kondisi ini sangat mempengaruhi kualitas kehidupan anak selanjutnya.

Kampanye Hari Ginjal Sedunia, mengingatkan agar orang tua dan masyarakat mampu mengenali gejala awal penyakit ginjal pada anak, sehingga tidak berujung gagal ginjal dan kematian. Anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal dan usia harapan hidupnya meningkat.

Bila ditemukan gejala-gejala di atas, orang tua segera memeriksakan anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Pemeriksaan urin rutin dapat menjadi data awal, yang bisa dilakukan di Puskesmas dan klinik BPJS. Bagi tenaga kesehatan, pemeriksaan tekanan darah pada anak di atas usia 3 tahun, harus dilakukan satu kali setahun untuk mendeteksi dini hipertensi pada anak.

Kampanye utama untuk ginjal sehat saat ini adalah membudayakan orang tua dan masyarakat tentang 8 Golden Rules untuk ginjal sehat yaitu: (1) Menjaga kesehatan dan aktif berolahraga, (2) Menjaga kadar gula darah, (3) Mengontrol tekanan darah secara teratur, (4) Mengonsumsi makanan sehat, kurangi konsumsi garam dan jaga berat badan, (5) Minum air putih yang cukup, (6) Jangan merokok, (7) Hindari konsumsi obat-obatan secara bebas, (8) Lakukan pemeriksaan fungsi ginjal dan urin secara rutin sesuai kondisi penyakit.

Anak merupakan peniru ulung, maka kebiasaan ini juga akan mereka lakukan sehingga kesehatan ginjal anakpun terjaga. Kenali penyakit ginjal pada anak, kerusakan ginjal bisa dicegah dan dihambat sehingga hidup anak akan lebih berkualitas untuk masa depan anak Indonesia. (*)

Previous articleMahyeldi Minta Kabupaten Kota Bentuk TPAKD
Next articleDuet Menteri AS Galang Dukungan Lawan Tiongkok