Terpanggil Pulang untuk Bangun Kampung Halaman

117
Irawan Gutama Mataram. (Foto: IST)

Awal bulan Ramadhan 1441 Hijriah tahun 2020, menjadi catatan sejarah bagi H Irawan Gutama Mataram. Sebab, namaya kembali hadir untuk melanjutan agenda perjuangan menuju tampuk pimpinan di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) pada pilkada yang akan digelar pada 9 Desember 2020 mendatang.

Agenda ini bukanlah yang pertama bagi H Irawan yang akrab disapa Tuanku Rajo Pasisie ini. Sebelumnya, dia juga pernah mengawali debut di panggung politik pilkada tahun 2015. Berdasarkan hal itulah, wajarnya namanya terdengar hingga ke kampung di daerah itu.

H Irawan juga dikenal sebagai pengguna media sosial aktif di Facebook, banyak karya-karya tulisan yang bernuansa Islami dan digemari oleh para netizen. Berbeda dengan kemunculannya pada Pilkada 2015 lalu, pilkada kali ini dia menyatakan lebih siap.

Informasi yang beredar, dirinya sedang menjalin komunikasi intensif dengan salah satu partai politik besar di Indonesia. Bahkan, rencana maju tersebut kian menguat setelah mendapat dorongan dari berbagai lapisan masyarakat di 15 kecamatan di Pessel. Tidak hanya itu, satu per satu sokongan dan support bermunculan dari banyak pihak yang bersimpati dengan perjuangan ”Sang Nakhoda”.

Berstatus masih aktif berkarir di sebuah BUMN/ perusahaan persero bidang pelabuhan di Pelabuhan Internasional Batam Kepulauan Riau, keputusan cepat H Irawan memang mengejutkan banyak pihak dengan menerima permintaan masyarakat agar bersedia maju pada Pilkada 2020. The Sailor Men (pelaut) yang lahir di Kota Painan ini, diproyeksikan maju sebagai calon bupati Pessel.

Anak ke-7 dari 7 orang bersaudara dari seorang ayah (alm) Amir Hamzah Singabraja Mataram dan ibu (alm) Hj Nuraini Thaher, adalah keluarga yang hangat dalam pergaulan dan akrab di telinga penduduk Kenagarian Painan. Di era tahun 80-an saat masih bersekolah dan masih ramai teman-teman sebaya karena belum merantau, di kediamannya itu aktivitas anak negeri berpusat dan bermula. Mungkin lebih tepat disebut tempat bertemunya generasi muda berpikiran maju dan aktif berkegiatan terutama bidang pendidikan dan olahraga.

Kehadiran seorang ibu sebagai bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang yang juga ketua legium veteran pejuang RI di tengah-tengah keluarga, menjadi sitawar sidingin tempat berkabar dan berbagi cerita bagi putra-putrinya. Perlakuan sama juga dirasakan oleh sahabat-sahabat muda Irawan yang bertamu ke rumahnya. Karena, semua dianggap seperti anak sendiri, dan sahabat-sahabat Irawan pun memanggilnya dengan sebutan mama.

”Sejak mama berpulang ke Rahmatullah tahun 2011, rumah asri bernuansa saisuak dekat Simpang Ajinomoto Painan itu seperti kehilangan cahayanya. Kini setelah kembali dipugar dengan tetap mempertahankan kondisi aslinya, kami beri nama dengan ‘Rumah Amak’,” katanya.

Hal itu disampaikanya sebagai ungkapan rasa terima kasih dari putra-putrinya karena ingin mengabadikan sosok kedua orangtua mereka, terutama sang ibu, perempuan hebat yang sangat disayangi, dicintai dan dihormati terutama bagi keluarga besar.

Wawan Mataram, begitulah panggilan akrab di masa mudanya. Pribadi yang gesit, supel, mudah bergaul dan smart ini sering dijadikan perumpamaan figur anak muda yang santun oleh gurunya di sekolah. Memiliki segudang prestasi semasa sekolah di kampung halamannya, Irawan tetap dikenal sebagai anak yang humble, periang, imajinatif dan disenangi kalangan tua dan muda terutama sahabatnya.

Sedikit lebih beruntung dari teman-temannya, Irawan muda pernah mengenyam pendidikan sebagai Siswa Taruna Akademi Ilmu Pelayaran (AIP/STIP) di Jakarta angkatan 1990-1994. Dia juga memiliki pengalaman selama puluhan tahun sebagai pelaut dengan segala suka duka, tantangan dan rintangan dalam bertugas.

Walau sudah ribuan mile Irawan muda pergi berlayar jauh mengelilingi benua, namun sang nakhoda tetap tak mengubah prinsipnya untuk terus menjaga silaturahmi dan tautan hatinya dengan kampung halaman. Sebab bila tiba waktunya pesiar dan pulang ke kampung halaman, Wawan selalu bersilaturahmi ke rumah nan tuo-tuo, terutama mantan guru. Bahkan sang nakhoda masih mau berkunjung ke gedung sekolah lamanya walaupun itu hanya sekolah dasar.

Selama menjadi taruna dan menimba ilmu di Akademi Ilmu Pelayaran di Jakarta tahun 1990/1994, dirinya digembleng dengan pendidikan militer yang menempa kedisiplinan diri. Karena kesibukan dunia kerja yang membatasinya, barulah pada tahun 2019 dirinya berhasil menyelesaikan program S-1 di STIP Jakarta kampus lamanya dengan peringkat lulusan terbaik.

Selepas pendidikan di AIP Jakarta, dirinya memulai karir bersama sejumlah perusahaan perkapalan berskala internasional ber-home base (bermarkas) di Singapura. Di antaranya, Sembawang Pte Ltd Singapore 1995/1997, Britoil Offshore Pte Ltd Singapore 1997/1998, Consort Bungker Pte Ltd Singapore 1998/1999, dan sejak tahun 2000 hingga sekarang dirinya berkiprah bersama PT Persero Pelabuhan Indonesia (Pelindo) 1.

Pria kelahiran 17 April 1970 yang dikaruniai Allah SWT 4 orang putra putri ini, juga memiliki sederetan prestasi dan mengemban tugas di dunia pelayaran saat ber-home base di Singapore. Hampir seluruh kota di Australia sampai Tasmania, Jepang, Hongkong, Filipina, Thailand, Malaysia, Jeddah pernah disinggahinya.

Maka semakin jelas dan terang sudah, dari jejak langkah dan sederetan pengalaman yang ia miliki, bukanlah tidak beralasan bagi dirinya untuk mampu bertarung dalam percaturan pilkada di kampung halamannya. Keputusannya berkecimpung di dunia politik sudah waktunya. Hal ini demi kepentingan lebih besar dan memaksimalkan pengabdian dan karyanya bagi daerah.

Sejumlah misi dan program kerja pembangunan telah dirancangnya bersama tim secara terukur dan terencana, sesuai potensi daerah dan prioritas kebutuhan Pessel ke depan. Dirinya yakin dengan kebersamaan masyarakat Pessel baik di ranah maupun di rantau, Visi Pessel Emas yang digaungkan itu dapat tercapai.

”Sebagai orang Minangkabau janganlah melupakan prinsip-prinsip yang terkandung dalam pepatah dan petitih leluhur kita. Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badie, nan lumpuah pauni rumah, nan kuek paangkuik baban, nan jangkuang jadi panjuluak, nan randah panyaruduak, nan pandai tampek batanyo, nan cadiak bakeh baiyo, dan nan kayo tampek batenggang,” ungkapnya. Dengan memfungsikan semua SDM yang ada, dirinya yakin dan percaya Pessel ke depan bisa lebih maju dan makmur masyarakatnya. (yon)