Banyak Bangun Pabrik Beras Modern, Nevi: Padi Petani Harus Prioritas Utama

30

Anggota Komisi VI DPR RI, Nevi Zuairina pada saat berkunjung ke Indramayu bersama rombongan Komisi VI DPR meninjau pembangunan infrastruktur pabrik penggilingan dan pengolahan beras modern menyampaikan agar beberapa waktu ke depan, importasi pangan terutama beras mesti dikurangi hingga dihentikan.

Nevi mengatakan, infrastruktur pabrik penggilingan dan pengolahan beras modern mesti dapat dibangun di tengah sentra produksi beras, sehingga sistem logistik perberasan kita menjadi stabil. Baik dari sisi distribusi antar kota hingga pada masyarakat konsumen akhir.

“Upaya memperbaiki rantai pasok pangan kita memang terus dilakukan. Tapi wacana importasi pangan negara ini juga masih perlu menjadi sorotan, terutama importasi beras. Pemerintah banyak melakukan feeding informasi yang bertolak belakang, semisal ketika disampaikan data kecukupan pangan seperti neraca beras yang surplus, namun pada kenyataannya, rencana impor tetap dilakukan,” kritis Nevi.

Legislator asal Sumatera Barat II ini menguraikan, ada pabrik penggilingan beras yang dibangun di antaranya yakni di Sumatera Selatan dengan kapasitas 100 ton/tahun, Indramayu dengan kapasitas 150 ton/tahun, Subang kapasitas 100 ton/tahun, dan Malang dengan kapasitas 100 ton/tahun. Sehingga total kapasitas terpasang produksi pabrik penggilingan padi yang dimiliki mencapai 450 ton/tahun.

Baca Juga:  Khairunas Sudah Hidupkan Mesin Golkar Sumbar

Politisi PKS ini menegaskan, bahwa dengan adanya pabrik-pabrik beras ini, Petani mesti meningkat kesejahteraannya, dan konsumen terpenuhi kebutuhan pangan pokoknya.

Upaya menyerap padi milik petani, menurutnya harus menjadi prioritas utama, sehingga penyerapan beras domestik dapat menjadi pemasok cadangan beras pemerintah minimal satu juta ton.

“Kami berharap dengan adanya penyerapan padi yang dilakukan oleh RNI dari petani dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Bulog memiliki cadangan beras yang cukup, bukan ketersediaan yang bersumber dari impor, melainkan dari para pejuang pangan negara kita, para petani,” tukas Nevi Zuairina.(rel)