4 Nama Mengapung Gantikan Hendri Septa

143
ilustrasi kepala daerah. (net)

Teka teki siapa yang akan menduduki kursi Wakil Wali Kota Padang yang bakal ditinggalkan Hendri Septa terus menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Sejumlah nama yang dinilai layak mengisi kekosongan kursi wakil wali kota pun sudah bermunculan. Mereka antara lain Muhidi, Rahmad Saleh, Amril Amin dan Khairul Ikhwan.

Menurut pengamat politik dari Universitas Andalas Edi Endrizal, penentuan calon Wakil Wali Kota Padang sepenuhnya merupakan hak PKS. Pasalnya, Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang tahun 2019 dimenangkan oleh Partai PKS dan PAN.

“Hak PKS dan mutlak pasti dari orang PKS. Bukan dari partai lain. Tapi siapa pun yang akan dipilih, saya yakin orangnya paling tidak di antara kriterianya itu memang tentu faktor kedekatan atau faktor Mahyeldi sangat besar dalam menentukan,” katanya kepada Padang Ekspres, kemarin (26/1).

Hal itu lantaran secara de jure, Mahyeldi menjabat Ketua Umum DPW PKS Sumbar. Sementara secara de facto, walaupun posisi jabatan untuk Wakil Wali Kota Padang, namun perjanjian tidak lepas kaitannya dengan Mahyeldi.

“Artinya, tentu dia (Mahyeldi) pasti berkepentingan untuk menempatkan orang yang nanti akan betul-betul bisa melanjutkan estapet kepemimpinannya sebagai kepala daerah di Padang,” terang Endrizal.

Sementara itu, pengamat politik Asrinaldi menyebutkan, walaupun hanya jabatan wakil wali kota, namun posisinya juga strategis secara politik. Sebab kecenderungan yang ada selama ini, posisi wakil wali kota berpeluang maju sebagai wali kota pada pilkada berikutnya.

Baca Juga:  Deklarasi Prabowo Presiden Bergema dari Sumbar hingga Tangerang Raya

Maka oleh karena itu, kedua partai baik PKS maupun PAN akan berhitung secara politis siapa yang bisa diusulkan untuk menempati posisi kursi wakil wali kota tersebut.
Menurutnya, PKS tentu akan mengusulkan kader mereka yang bisa mengambil peran yang signifikan di Pemko Padang guna mendampingi Hendri Septa. Dengan peran tersebut, secara tidak langsung akan memberi ruang pada wakil wali kota berperan menjelang pemilihan tahun 2023.

Sementara bagi PAN, keberhasilan menempatkan kadernya sebagai wakil wali kota tentu akan memperbesar peluang partai ini menjadi wali kota periode berikutnya. “Dengan kondisi demikian, akan ada tarik menarik di antara kedua partai karena adanya kepentingan politik masing-masing,” jelasnya.

Asrinaldi juga meyakini akan ada pembicaraan yang alot di antara petinggi partai untuk mendapatkan posisi ini. Bukan tidak mungkin akan terjadi deadlock kalau kedua bihak bersikeras dengan posisi politik masing-masing. “Jika skenario ini yang terjadi, maka kedua partai harus menghadapi dinamika di DPRD agar bisa memilih calon masing-masing,” jelasnya. (i)