Ganja Bakal Jadi Obat!! Legalisasi Ganja Masuk Revisi UU Narkotika!

31
UNTUK PENGOBATAN: Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (tiga dari kiri) bersama Santi Warasuti (tengah), seorang ibu yang anaknya membutuhkan ganja medis, memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (28/6).(FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS)

Rencana legalisasi ganja untuk kebutuhan medis terus digodok DPR. Persoalan itu akan dibahas dalam revisi Undang-Undang (UU) tentang Narkotika yang sedang dimatangkan Komisi III DPR. Namun, legalisasi ganja tersebut menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat.

Kebutuhan ganja medis itu disampaikan Santi Warastuti yang kemarin (28/6) berkunjung ke gedung DPR. Dia datang bersama anaknya, Pika, dan kuasa hukumnya, Singgih Tomi Gumilang. Mereka diterima Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.

Santi adalah seorang ibu yang melakukan kampanye ganja untuk medis saat kegiatan car free day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Minggu (26/6) lalu. Saat itu dia membentangkan poster bertulisan ”Tolong, anakku butuh ganja medis”. Aksinya tersebut viral di jagat media sosial.

Dasco mengatakan, pihaknya mendengar aspirasi terkait ganja medis dari Santi dan kuasa hukumnya. ”Semua aspirasi dari masyarakat harus kita dengar, baik yang pro maupun yang kontra,” tutur dia seusai pertemuan tersebut.

Ketua harian DPP Partai Gerindra itu menjelaskan, setelah mendengar aspirasi dari Santi, pihaknya akan meminta komisi III melakukan rapat kerja dengan mitra kerjanya. Apalagi, saat ini komisi yang membidangi masalah hukum tersebut sedang membahas revisi UU Narkotika. Jadi, pembahasan legalisasi ganja untuk medis bisa dilakukan bersamaan dengan pembahasan revisi UU itu.

Dasco berharap rapat kerja tersebut bisa dilaksanakan pada minggu ini. Sebab, pada 8 Juli mendatang DPR sudah masuk masa reses. ”Jadi, kami harap secepatnya bisa dilakukan rapat kerja,” tuturnya.

Apakah Kementerian Kesehatan akan diundang? Dasco menyatakan, Kemenkes merupakan mitra kerja komisi IX. Menurut dia, nanti komisi III yang akan melakukan koordinasi dengan komisi IX dan pemerintah. Sebab, UU Narkotika sedang dibahas di komisi III.

Yang jelas, komisi III akan membahas legalisasi ganja untuk medis dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Dalam kesempatan itu, Santi sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pimpinan DPR yang telah mendengar aspirasinya.

Dia berharap legalisasi ganja untuk medis bisa segera terwujud. ”Sehingga bisa menolong anak saya dan anak-anak yang lain,” ujarnya.

Baca Juga:  Syukuran dan Deklarasi Partai Masyumi Sumbar dari Rumah Kelahiran M Natsir

Menurut Santi, anaknya menderita cerebral palsy. Setiap anak yang menderita cerebral palsy selalu mengalami kejang. Dan setiap kejang-kejang, pasti anak akan mengalami kemunduran pada kesehatannya. Kondisi tersebut sangat menyakitkan bagi dirinya. Sebab, untuk mengalami kemajuan itu sangat sulit, apalagi disertai kejang.

Santi mengatakan, ganja bisa digunakan untuk mengatasi kejang. Namun, dia belum pernah memberikan ganja medis kepada anaknya. Menurut Santi, penggunaan ganja untuk pengobatan membutuhkan pengawasan khusus dari pemerintah.

Dia belum mengetahui pasti prosedur penggunaan ganja. ”Makanya, saya memohon kepada pemerintah untuk dibuatkan regulasi supaya nanti pemakainya pun terawasi,” ucapnya.

Singgih, kuasa hukum Santi, mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan judicial review (JR) ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait legalisasi ganja untuk medis. Dia tidak tahu kapan gugatannya diputus hakim.

Kabarnya, kemarin hakim MK melakukan pembahasan dan selanjutnya MK mengeluarkan legal opinion. Setelah mereka sepakat, baru akan dibacakan putusannya. Pihaknya hanya bisa menunggu kapan keputusan akan dikeluarkan.

Singgih menyatakan mengajukan JR sejak 2020. Karena belum juga ada putusan, Santi pun melakukan aksi dalam kegiatan CFD di Bundaran HI. ”Aksi di jalan itu untuk mendesak MK agar segera memutuskan gugatan kami. Karena sudah dua tahun,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin ikut mengomentari wacana legalisasi ganja untuk kepentingan kesehatan. ”Saya kira masalah (ganja, red) kesehatan itu nanti MUI harus membuat fatwa baru,” katanya setelah mengikuti rapat pimpinan MUI di Jakarta kemarin.

Ma’ruf menerangkan, saat ini MUI sudah memiliki fatwa soal ganja. Tetapi nanti bisa dikaji kembali, khususnya dikaitkan dengan urusan kesehatan. Dia menjelaskan, tentu nanti akan dibahas kriteria-kriteria atau ganja jenis apa yang diperbolehkan untuk kepentingan medis.

Mantan ketua umum MUI itu menambahkan, fatwa tersebut bisa digunakan sebagai bahan kajian sekaligus pertimbangan DPR. ”Jangan sampai (legalisasi ganja, red) nanti berlebihan dan menimbulkan kemudaratan,” tuturnya.

Ma’ruf menjelaskan, nantinya bakal ada klasifikasi atau varietas ganja yang boleh dikonsumsi selama untuk kepentingan medis. (lum/wan/c9/oni/jpg)