
PADEK.JAWAPOS.COM - Kebijakan penyesuaian tarif air yang mulai diberlakukan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Serambi Kota Padangpanjang sejak 1 Mei 2026 menuai sorotan tajam dari DPRD Kota Padangpanjang. Legislator meminta penerapan kebijakan tersebut ditunda sementara karena dinilai belum melalui pembahasan menyeluruh bersama DPRD sebagai representasi masyarakat.
Permintaan itu mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kota Padangpanjang, Sabtu (9/5). Dalam forum tersebut, sejumlah anggota dewan mempertanyakan prosedur penetapan tarif baru sekaligus dampaknya terhadap pelanggan.
Ketua DPRD Kota Padangpanjang, Imbral, menegaskan bahwa DPRD pada prinsipnya tidak menolak penyesuaian tarif air. Menurutnya, dewan memahami kebutuhan Perumdam untuk menjaga keberlangsungan operasional dan meningkatkan kualitas layanan. Namun, proses penetapan kebijakan dinilai tidak melibatkan DPRD secara optimal.
“Kami bukan menolak penyesuaian tarif. Kami memahami Perumdam membutuhkan biaya untuk perbaikan dan operasional. Tetapi persoalan strategis seperti ini seharusnya dibahas terlebih dahulu bersama DPRD, jangan diputuskan sepihak,” tegas Imbral.
Sorotan juga datang dari Wakil Ketua DPRD, Mardiansyah. Ia menilai terdapat ketidaksesuaian antara hasil sosialisasi dengan penerapan di lapangan.
Berdasarkan informasi yang diterima masyarakat, tarif baru disebut berlaku mulai Mei 2026. Namun dalam praktiknya, tagihan yang diterima pelanggan pada Mei sudah menggunakan tarif baru untuk pemakaian air bulan April.
“Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat karena penerapan di lapangan tidak sesuai dengan pemahaman yang disampaikan saat sosialisasi,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Perumdam Tirta Serambi Kota Padangpanjang, Angga Putra Jayani, memaparkan kondisi keuangan perusahaan yang menjadi dasar penyesuaian tarif air.
Berdasarkan hasil audit keuangan tahun 2025, Perumdam mengalami kerugian sebesar Rp938 juta. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan tahun 2024, ketika perusahaan masih membukukan laba sekitar Rp114 juta.
Menurut Angga, tingginya biaya operasional menjadi salah satu penyebab utama memburuknya kondisi keuangan perusahaan. Beban terbesar berasal dari penggunaan pompa distribusi air di kawasan Lubuk Mata Kucing yang membutuhkan biaya cukup besar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

