Nilai pasar esports global tembus USD 2,3 miliar tahun 2025, didorong investasi sponsor, hak siar digital, dan penonton global 640 juta orang. (foto: Nostresport) Industri esports global mencatat lonjakan nilai pasar hingga USD 2,3 miliar (sekitar Rp36 triliun) pada 2025, didorong investasi sponsor, hak siar digital, dan ledakan penonton dunia.
PADEK.JAWAPOS.COM—Menurut laporan Newzoo Global Esports Market 2025, pasar esports tumbuh 15 persen dibanding tahun sebelumnya dengan total penonton lebih dari 640 juta orang di seluruh dunia.
Advertisement
Pertumbuhan ini dipicu oleh meningkatnya akses terhadap teknologi streaming dan platform sosial seperti Twitch, YouTube Gaming, dan Kick, yang mengubah cara masyarakat menikmati hiburan interaktif.
Selain menjadi ajang kompetisi, esports kini menciptakan ekonomi kreatif baru yang melibatkan sektor desain visual, produksi siaran, hingga manajemen atlet.
Setiap turnamen besar mempekerjakan ratusan profesional di balik layar, dari komentator, analis data, hingga pengembang perangkat lunak pendukung.
Advertisement
Laporan LinkedIn Emerging Jobs 2025 menyebutkan, posisi seperti esports manager dan digital event strategist masuk dalam 20 pekerjaan kreatif paling diminati.
Fenomena ini menunjukkan esports bukan sekadar permainan, melainkan industri berkelanjutan yang menopang ekonomi digital global.
Dari sisi sosial, turnamen internasional seperti The International (Dota 2), League of Legends World Championship, dan Valorant Champions Tour kini diikuti tim dari lebih 50 negara.
Advertisement
Ajang-ajang ini memupuk identitas nasional sekaligus menjadi sarana diplomasi budaya digital.
Beberapa negara telah mengintegrasikan esports ke dalam kebijakan ekonomi kreatif nasional. Korea Selatan dan China mendirikan akademi dan sertifikasi atlet digital, sementara universitas di Amerika Serikat seperti UC Irvine dan Ohio State University memberi beasiswa esports bagi mahasiswa berprestasi.
Namun, industri ini juga menghadapi tantangan seperti kesehatan mental pemain, kontrak kerja tidak terlindungi, dan isu kesetaraan gender.
Riset Harvard Sports Innovation Review mencatat rata-rata karier pemain profesional hanya 4–5 tahun akibat tekanan kompetitif tinggi.
Turnamen besar seperti ESL One dan Valorant Masters juga terbukti mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kota tuan rumah.
Dengan integrasi AI, VR, dan blockchain, esports diperkirakan terus tumbuh menjadi pilar utama industri hiburan digital global.(cc5)