Kegiatan ini berlangsung selama sepekan, 7–14 Februari 2026, di Ruang Temu Nan Tumpah, Perumahan Kasai Permai, Korong Kasai, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman.
Gelar karya tersebut berbarengan dengan pameran Silo Tigo dan menjadi ruang temu bagi anak-anak untuk menampilkan proses belajar mereka di bidang seni rupa, tari, teater, musik, hingga menulis kreatif.
Respons Isu Ekologis dan Solidaritas
Pada semester ini, Kelana Akhir Pekan merespons persoalan ekologis yang terjadi di lingkungan tempat tinggal siswa, seperti banjir dan persoalan sampah. Anak-anak diajak membaca realitas sekitar sebagai bagian dari proses artistik.
Sebanyak 25 anak memamerkan karya seni rupa berupa kolase, sketsa, karya tiga dimensi, hingga lukisan media air. Material yang digunakan sebagian besar berasal dari limbah seperti serbuk kayu, bata, stik es krim, serta kardus styrofoam.
Turut dipamerkan karya tiga dimensi mix media yang sebelumnya tampil dalam Kidz Biennale Indonesia 2025 di Galeri Nasional Indonesia.
Selain itu, siswa juga membuat karya tiga dimensi dari kaleng cat bekas sebagai bentuk dukungan dan doa bagi salah satu siswa yang mengalami kecelakaan. Karya tersebut menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan dalam ruang belajar.
Pertunjukan Lintas Kelas
Dari kelas tari, 37 anak menampilkan Tari Kelana dan Tari Boneka. Sembilan siswa kelas remaja membawakan karya berjudul Ruang Tamu Swarnadwipa, yang merespons karya seni rupa Olim Syafputra dari kelompok Silo Tigo.
“Karya ini bercerita tentang banjir dan galodo yang mengubah hidup banyak warga, terutama tentang kehilangan keluarga. Kami menampilkan kesedihan sekaligus semangat bangkit,” ujar Desvy Sagita R, wali kelas sekaligus pengampu kelas tari, Jumat (13/2/2026).
Sebanyak 29 anak di kelas teater menampilkan pertunjukan berjudul Halaman Rumah yang mengangkat kehidupan anak-anak di tengah persoalan lingkungan.
Sementara itu, 24 siswa kelas musik memanfaatkan limbah tutup botol plastik yang dipadukan dengan alat musik tradisional Minangkabau seperti gandang, rebana, saluang, dan talempong. Kelas menulis kreatif turut meluncurkan buku kumpulan puisi dan cerpen sebagai capaian semester.
Dukungan Masyarakat dan Tantangan Banjir
Pembukaan pameran pada 7 Februari 2026 dihadiri Gemala Ranti, Yusrizal KW, David selaku Kepala Taman Budaya Sumatera Barat, serta tokoh masyarakat Kasai, Sudirman Baron.
“Kami bangga melihat karya anak-anak Korong Kasai. Sejak ada Kelana Akhir Pekan, mereka memiliki kegiatan yang bermanfaat untuk masa depan,” ujar Sudirman.
Memasuki hari kelima pameran, hujan lebat menyebabkan genangan air setinggi mata kaki di lokasi kegiatan. Sejumlah karya ikut tergenang, menghadirkan ironi ketika karya bertema banjir justru dikelilingi air yang nyata. Namun kegiatan tetap berlangsung sebagai bentuk keteguhan komunitas.
Bagi warga Korong Kasai, banjir bukan peristiwa baru. Sejak kawasan itu dibangun sekitar 30 tahun lalu, persoalan genangan belum sepenuhnya terselesaikan.
Regenerasi Komunitas Seni
Sejak dibuka secara reguler pada awal 2025, minat terhadap Kelana Akhir Pekan terus meningkat. Semester pertama mencatat 69 pendaftar dengan 52 siswa tampil dalam gelar karya. Semester kedua meningkat menjadi 113 pendaftar, dengan 61 siswa memenuhi syarat tampil karena penerapan sistem absensi.
“Sistem absensi ini bukan hukuman, melainkan cara menanamkan tanggung jawab terhadap proses belajar,” ujar Fajry Chaniago, Manajer Program Komunitas Seni Nan Tumpah.
Kelana Akhir Pekan berada di bawah naungan Komunitas Seni Nan Tumpah dan lahir dari proses panjang sejak 2016. Kelas ini tidak berorientasi mencetak seniman, melainkan membentuk karakter, kepekaan sosial, serta kemampuan beradaptasi anak-anak melalui seni. (*)
Editor : Adetio Purtama