Satu Tersangka Ditahan, Satu Lagi Kabur

Penyidik memintai keterangan salah seorang warga Malalo yang diamankan di Mapolres Padangpanjang, Minggu (13/12). (IST)

Konflik antara warga Sumpur dan Malalo pada 12 Oktober lalu berbuntut panjang. Polres Padangpanjang telah menetapkan dua tersangka atas pengrusakan yang terjadi saat peristiwa kerusuhan di wilayah Sektor Batipuh Selatan itu. Dua tersangka tersebut masing-masing berinisial NN, 34 dan JB, 56.

Pihaknya juga mengamankan 8 orang lainnya untuk kepentingan penyidikan dan pengembangan lebih lanjut, Minggu (13/12) sekira pukul 16.30. Selain itu, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap 20 saksi guna pengumpulan bahan keterangan terkait perselisihan dua kampung itu.

“Satu dari dua tersangka berinisal JB, 56, hingga saat ini masih melarikan diri. Sedangkan 8 orang kita amankan, selanjutnya akan dilakukan gelar perkara internal untuk penetapan langkah hukum selanjutnya. Baik itu penetapan penahanan atau tersangka,” kata Kapolres Padangpanjang, AKBP Apri Wibowo didampingi Kasat Reskrim AKP Suhardi di ruangan kerjanya, Senin (14/12).

Ia mengatakan berdasar hasil olah tempat kejadian peristiwa (TKP) yang dilakukan kerusuhan tersebut juga mengakibatkan pengrusakan ringan terhadap sekitar 10 unit rumah, pencurian 3 unit handphone. “Kemudian 2 unit sampan berikut jala ikan dan penjarahan terhadap 4 unit warung,” sebutnya.

Terkait akan bertambahnya tersangka lainnya, Suhardi mengatakan tidak tertutup kemungkinan melihat- jumlah keterlibatan massa pada aksi tersebut. Demikian juga terkait adanya tokoh intelektual di balik timbulnya kerusuhan itu.

Baca Juga:  Tim Penegak Perda Sita Miras di Balai-Balai

“Ini masih dalam tahap pengembangan, dan tidak tertutup kemungkinan bakal ada tersangka lainnya. Termasuk juga nantinya, kita akan mengarah pada pengungkapan dalang dari pengerahan massa pada peristiwa tersebut,” pungkas Suhardi.

Ditegaskan Suhardi, jajarannya akan terus melakukan pendalaman lebih jauh dengan menghimpun keterangan lebih banyak. “Kita juga intensifkan komunikasi dengan pihak lainnya, termasuk pemerintah nagari setempat,” pungkasnya.

Sebelumnya, sempat memanas dan terlibat bentrok terkait tapal batas, warga Nagari Padang Laweh Malalo dan Nagari Sumpur sepakat mengakhiri kisruh yang terjadi beberapa hari terakhir. Kesepakatan damai itu digelar di Mapolres Padangpanjang, pada Selasa (13/10) malam.

Memuat tiga poin penting dalam kesepakatan damai tersebut. Pertama, konflik yang terjadi bukanlah konflik antar nagari, melainkan konflik kepemilikan tanah yang telah disertifikatkan yang digugat dan saat ini dalam proses di Pengadilan Negeri Padangpanjang.

Kedua, masyarakat Nagari Sumpur dan Malalo Tigo Jurai bersepakat untuk bersama-sama menjaga lokasi seluas 60 ha dan lahan yang disengketakan dengan investor dari tindakan yang akan menimbulkan konflik dan perselisihan.

Ketiga, kedua belah pihak sepakat untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman dan kondusif. Sepakat saling menahan diri serta tidak akan melakukan aksi-aksi di wilayah yang bersengketa sehingga menimbulkan potensi konflik.(wrd)

Previous articleKomposisi Pemain Terancam tak Komplit
Next articleDitabrak Truk, Ibu dan Anak Meninggal